Bahtera Cinta Kita

Bahtera Cinta Kita
Chapter 10


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Yura naik keatas tempat tidur, menarik selimut bersiap untuk tidur, tidak lama setelahnya Adam ikut naik ke tempat tidur dan memeluk pinggang Yura yang tidur membelakangi Adam.


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" bisik Adam di telinga Yura.


"Ada apa mas? Aku ngantuk,"Jawab Yura malas.


"Sayang, malam ini aku menginginkan kamu!" bisik Adam lagi.


"Aku capek mas, besok aku ada meeting pagi dengan klien penting," jawab Yura kembali memejamkan matanya.


"Yura, aku ini suami kamu! Kenapa kamu tidak mau melayani aku? bagaimana jika ada wanita lain yang melayani aku?" ucap Adam.


"Apa kamu melakukannya Mas?" tanya Yura yang jelas-jelas sudah mengetahui faktanya.


"Maksudku, jangan salahkan aku jika sampai aku melakukan semua itu, karena itu semua salah kamu! Kamu yang telah mau melayani aku," ucap Adam.


"Mas Adam lupa? bukan kah selama ini mas Adam juga tidak menginginkan Yura, lalu kenapa tiba-tiba mas Adam menginginkan Yura?"


"Bukan seperti itu, Yura! selama ini aku capek memikirkan perusahaan sendiri, kamu tau itu kan? dan semenjak kita memeiliki anak, kamu hanya fokus pada Aditya. karena itu aku tidak berani untuk mengajak kamu, aku takut kamu kecapean. Bukan berarti aku tidak menginginkan kamu," kilah Adam.


"Aku pikir, karena kamu sudah ada yang lain mas," ucap Yura.


"Jangan berpikir terlalu jauh Yura, aku tidak mungkin melakukan semua itu! urusan kantor sudah cukup membuatku banyak pikiran. mana sempat aku berpikir yang bukan-bukan! Tapi malam ini aku sangat menginginkan kamu Yura! Bukankah Aditya juga sudah besar, Yura? Aku pikir sudah waktunya untuk Aditya memiliki seorang adik," bisik Adam.


Yura hanya tersenyum dalam hati, Yura tau rencana Adam pasti akan membuat dirinya hamil agar tidak mengurus perusahaan lagi.


***


Keesokan harinya, Yura yang sudah siap membangunkan Aditya, memandikan dan menyiapkan keperluan sekolahnya.


Yuta juga menyuapi Aditya sarapan sebelum berangkat ke sekolah.


"Okey, sekarang Aditya pamit sama Papa," ucap Yura.


"Papa masih tidur ya Ma?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Iya sayang, Papa ada di kamar. Mama tunggu di sini ya!" ucap Yura seraya mempelajari beberapa dokumen penting.


"Iya mah," Aditya berjalan menuju kamar dan membangunkan papa nya.


"Pa, Aditya berangkat ke sekolah dulu ya!" ucap Aditya.


"Hoam... jam berapa ini? kenapa sudah mau brangkat?" Adam yang masih mengantuk karena semalam tidak bisa tidur setelah mendapatkan penolakan dari Yura perlahan membuka matanya dan melihat jam di ponselnya.


"Baru jam enam, kenapa sudah mau berangkat?" tanya Adam.


"Mama, ada meeting pagi. Jadi harus ke kantor lebih pagi," jawab Aditya.


"Seperti itulah Mama kamu, semenjak bekerja hanya mementingkan masalah pekerjaan! Jam segini anak sudah disuruh berangkat sekolah, padahal seharusnya kamu masih bisa istirahat lebih lama," ucap Adam.


"Tidak apa-apa Pah, Aditya suka bangun pagi, karena nanti Aditya bisa belajar ke perpustakaan lebih dulu," jawab Aditya yang memang hobby membaca.


"Aditya berangkat dulu ya pa, besok jangan lupa temani Aditya ke perpustakaan ya Pah," ucap Aditya.


"Okay sayang!" jawab Adam kembali tidur karena upayanya untuk membuat Aditya meminta Yura tidak bekerja gagal.


"Sudah Ma," jawab Aditya.


"Ya sudah, sekarang kita berangkat ya!" ucap Yura.


"Okay Ma," jawab Aditya.


***


"Kita sudah sampai, yuk turun! Mama antar kamu ke dalam," ucap Yura.


Yura dan Aditya berjalan menuju kelas yang terlihat masih sepi.


"Bu Erna, maaf Aditya hari ini berangkatnya terlalu pagi. Karena saya ada meeting pagi jadi saya antarkan Aditya lebih pagi," ucap Yura pada wali kelas.


"Tidak apa-apa Bu Yura, Biarkan Aditya bersama saya lebih dulu sampai teman-temannya yang lain datang," jawab Bu Erna.

__ADS_1


"Aditya, Mama pergi dulu! Aditya yang pinter ya! nurut sama miss Erna! Ingat ya, tidak boleh bandel," ucap Yura.


"Okay Mam," jawab Aditya.


***


Selesai mengantarkan Aditya Yura segera ke kantor dan melakukan meeting dengan klien yang cukup penting.


"Pihak PT. Buana sudah sepakat untuk bekerja sama dengan perusahaan kita. Dan minggu depan akan kita adakan tanda tangan kontrak." ucap Yura.


"Tapi ini tawaran dari PT. Sinar Mas lebih menggiurkan. Perusahaan kita bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan jika bekerja sama dengan PT. Sinar Mas. Lagipula bukankah perusahaan kita belum terikat kontrak dengan PT Buana? jadi kita masih ada kesempatan untuk menerima tawaran yang lebih baik," sanggah pak Basuki selaku salah satu pemegang saham.


"Begini Pak Basuki, kalau menurut saya. bekerjasama itu jangan hanya tergiur oleh keuntungan sesaat. Tetapi kita harus melihat dampaknya ke depannya lebih luas. Perusahaan kita ini bukankah sudah menjalin hubungan kerjasama dengan PT. Buana sangat lama? Dan kita tau seperti apa brand-brand yang dikeluarkan PT. Buana. Selama kita bekerjasama dengan PT. Buana produknya juga selalu menjadi daftar pencarian terbanyak di outlet kita. Meskipun saat ini produk yang akan masuk outlet kita brand baru, tapi dengan kemampuan dan sepak terjang PT. Buana selama ini, saya rasa lebih baik tatap mempertahankan untuk bekerjasama dengan mereka," jelas Yura.


"Bu Yura jangan lupa, PT. Sinar Mas ini merupakan kompetitor sangat kuat juga untuk PT . Buana. Meskipun tergolong baru tapi produk mereka tidak kalah bagusnya dengan PT. Buana." ucap Pak Basuki.


"Tapi saya rasa tidak baik jika kita membatalkan kerjasama yang sudah terjalin lama hanya dengan iming-iming yang belum jelas," ucap Yura.


Perdebatan antara Pak Basuki dan Yura pun tak terelakkan. Kini pembenci Yura di kantor semakin banyak. Banyak yang ingin menjatuhkan Yura karena sejak Yura memimpin mereka tidak bisa lagi bermain-main seperti dulu, hingga pemasukan mereka juga semakin berkurang.


"Yura, saya suka dengan cara kepemimpinan kamu! Tapi ingat Yura! kamu harus lebih berhati-hati, bedakan antara lawan dan kawan. Di dalam dunia bisnis ini seringkali yang kamu anggap kawan ternyata justru lawan yang sesungguhnya siap memangsa kamu kapan saja di saat kamu lengah," ucap Pak Cakra mencoba memberi peringatan untuk Yura.


"Terima kasih Pak Cakra, Yura akan selalu mengingat itu!" jawab Yura tersenyum.


"Dan saya ingatkan! Berhati-hatilah dengan orang terdekat kamu!" ucap Pak Cakra lagi.


"Sepertinya saya tau maksud Pak Cakra, pak Cakra tenang saja! saya tau apa yang harus saya lakukan," jawab Yura tersenyum.


Yura tau jika di sini yang di maksud Pak Cakra adalah Adam suaminya sendiri, yang seolah ingin menjadikan Yura sebagai mangsa.


Happy Reading^


Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐Ÿ’•


Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐Ÿ’™ ya๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2