
Hari ini Yura datang ke kantor polisi untuk memberikan beberapa keterangan.
Di sana Yura juga bertemu dengan Adam. Sebenernya ada rasa iba melihat Adam menggunakan baju tahanan tapi mengingat apa yang sudah Adam lakukan hal itu pantas untuk Adam dapatkah.
"Yura, tolong maafkan aku! Aku bersalah! Aku mohon kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah aku lakukan," rengek Adam.
"Seandainya empat tahun yang lalu kamu mengatakan hal ini, pasti aku akan memaafkan kamu, Mas. Tapi sekarang aku sudah tidak mau jatuh dalam sandiwara kamu lagi," tegas Adam.
"Aku janji sayang, jika kamu mau memberi aku satu kesempatan untuk menebus dosa-dosa ku selama ini, aku janji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi, aku akan melakukan apapun yang kamu mau, tolong sayang, demi keluarga kita! Demi anak kita," rengek Adam memohon.
Beberapa hari berada di dalam penjara membuat Adam merasa tertekan. Hidup yang biasanya bergelimang harta kini harus merasakan dinginnn lantai penjara dan pahitnya kehidupan di dalam bui.
Yura tak menghiraukan lagi apa yang Adam katakan dan memilih pergi. Yura takut terlalu lama di sana akan membuatmu pikirannya goyah. meskipun rasa cinta itu sudah lama pergi namun melihat Adam sebagai ayah Aditya terkadang membuat Yura ingin kembali memaafkan. Tapi kenyataan juga tak segampang itu. Karena harus berperang dengan batinnya sendiri.
"Yura," panggil Adam menghentikan langkah Yura.
"Kenapa kamu tidak pernah menanyakan kenapa aku melakukan semua ini? Kamu pikir, aku sengaja ingin menyakiti kamu? Kamu pikir aku seperti ini tanpa alasan?" ucap Adam membuat Yura membalik badannya dan kembali melihat Adam.
"Aku seperti ini bukan tanpa sebab, Yura! Aku seperti ini karena Papi kamu! Sejak awal kita dekat, Papi kamu selalu saja memandang rendah aku dan tidak pernah menghargai aku sebagai menantunya. Meskipun aku di beri jabatan di kantor, tapi apa Papi pernah benar-benar memperlakukan aku layaknya menantu? Aku selalu di rendahkan di depan karyawan lainnya," ujar Adam.
"Lalu apa itu menjadi pembenar untuk kamu berselingkuh?Okay mungkin benar Papi melakukan semua itu, bukankah dari awal kamu sudah tau jika Papi tidak merestui hubungan kita dan aku selalu berusahalah membujuk Papi untuk menerima kamu, tapi ternyata aku yang bodoh! Aku sekarang sadar, kenapa Papi tidak mau merestui kamu sebagai menantunya,"
"Kamu salah Yura, andai Papi kamu tidak memperlakukan aku seperti itu, aku tidak akan memiliki dendam seperti ini, Aku seperti ini karena sakit hati. Papi selalu merendahkan aku karena aku hanya seorang karyawan rendahan," ucap Adam.
"Kamu salah, Mas! Papi tidak merestui kita bukan karena status sosial kamu, tapi karena dari awal Papi tau kamu itu bukan laki-laki baik, Papi sudah sering mengingatkan aku! Tapi aku yang terlalu bodoh percaya sama kamu,"
"Yura..! Yura dengarkan aku!" ucap Adam memanggil Yura namun tak di hiraukan.
***
"Hai.. Aditya, lagi membaca apa?" tanya Ardian.
"Hai.. Om, ini Aditya lagi mempelai matematika," Aditya menunjukkan buku pada Ardian.
__ADS_1
"Wah.. kamu hebat sekali bisa mengerti semua ini, kalau Om angkat tangan mungkin," jawab Ardian membuat Aditya terkekeh.
"Om memang tidak sehebat kamu kalau masalah Matematika," ucap Ardian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Om kan orang dewasa, masak seperti ini saja tidak bisa? Mama Aditya saja jago banget," ucap Aditya.
"Benarkah? hebat sekali Mama kamu."
"Iya, Mama memang hebat. Aditya ini pintar seperti Mama," jawab Aditya.
"Iya nak Ardian. Sebenarnya kepintaran Aditya ini menurun dari Yura. Sejak kecil Yura memang sudah pintar, sebenarnya bukan hanya pintar tapi genius. Nilainya selalu di atas rata-rata. Bahkan saat Yura masih SD, dia sudah tidak mau lagi belajar d SD dan sudah pandai mengerjakan tugas anak SMA, dari situ orang-orang menganggap Yura aneh dan tak jarang teman sebayanya tidak ada yang mau bermain dengan Yura,"
"Sekalinya ada yang mau berteman, ternyata hanya berniat memanfaatkan. Dan kejadian itu berlangsung terus sampai Yura di universitas, dan satu-satunya yang terlihat tulus saat itu di mata Yura hanya Adam tapi ternyata nak Ardian juga tau sendiri kan? Itu sebabnya sekarang Yura melarang Aditya untuk memperlihatkannya kemampuannya yang di atas rata-rata dari orang lain, Yura ingin Aditya tumbuh seperti anak pada umumnya agar tidak merasakan apa yang pernah Yura rasakan," ujar Bu Galuh.
Sekarang Ardian tau alasan Yura melarang Aditya untuk memperlihatkan kemampuan yang melebihi anak seusianya.
Ardian bisa memahami bagaimana khawatirkan Seo Ibu dan berharap Aditya bisa mendapatkan teman yang benar-benar bisa memahami dan tulus untuk berteman bukan karena menginkan sesuatu.
"Memang ada apa dengan hari Rabu?" tanya Ardian.
"Aditya ingin ikut Olimpiade Matematika dan pendaftarannya hari Rabu, apa Om Ardian bisa mengantarkan Aditya ke sana?" tanya Aditya.
"Olimpiade matematika? Kamu yakin mau ikut?" tanya Adrian.
"Iya, Ardian ingin ikut. Tapi kalau Mami tau pasti tidak boleh," ucap Aditya.
"Aditya kan sudah tau kalau Mama kamu pasti akan sangat marah jika tau kamu mengikuti Olimpiade itu, tapi kenapa masih tetap mau ikutan?" sahut Bu Galuh.
"Tapi Aditya benar-benar ingin ikut Nek!" ucap Aditya.
"Aditya, nanti Mama kamu bisa marah. Kamu mau melihat Mama marah?" ucap Bu Galuh dan Aditya terdiam.
"Tante, biar nanti saya coba bicara dengar Yura solat keinginan Aditya ingin ikut Olimpiade ini, tante." ucap Ardian.
__ADS_1
"Benaran Om Ardian akan bicara sama Mama?" tanya Aditya girang.
"Iya Om, akan membujuk Mama kamu dan memberikan kamu ijin," jawab Ardian.
***
"Hiks.. Hiks.. " Yura menangis di kursi taman dekat rumahnya.
Yura tidak ingin jika Aditya mengetahui dirinya menangis karena itu sebelum pulang ke rumah Yura melampiaskan kesedihannya di taman.
"Buat kamu," ucap Ardian memberikan sapu tangan.
"Pak Ardian? kenapa bapak bisa ada di sini?" tanya Yura menengadahkan wajahnya melihat Ardian.
"Tadi saya habis main dengan Aditya," jawab Ardian.
"Bapak dari rumah Mami?"
"Iya," jawab Ardian duduk di samping Yura.
"Kenapa belakangan ini Pak Ardian sering main ke rumah?"
"Untuk bertemu dengan Aditya," jawab Ardian.
"Untuk apa pak Ardian bertemu dengan Aditya? Sejak kapan kalian sedekat itu?" tanya Yura.
"Sejak awal bertemu saya suka bermain dengan Aditya. Aditya anak yang luar biasa dan saya mengagumi kepandaian Aditya yang di atas rata-rata," jawab Ardian.
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐ ya๐๐
__ADS_1