
"Oh, iya. aku ingat sekarang! Bukankah dia itu wanita empat tahun lalu yang pernah aku tolong karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain di hotel? Iya benar! Itu dia. Aku yakin, Bu Yura adalah wanita yang pingsan karena mengetahui suaminya selingkuh di hotel waktu itu," gumam Adrian tersenyum karena telah berhasil mengingat Yura.
"Aku jadi penasaran, apa kabar dengan suami yang suka selingkuh itu? Tapi kenapa laki-laki itu bodoh sekali, Apa kurangnya Bu Yura? Cantik, wanita mandiri, pintar dan wanita seperti itu tidak mudah untuk di dapatkan.Tapi kenapa wanita seperti itu masih di selingkuhi? Aku jadi penasaran seperti apa laki-laki tidak tau diri itu," gumam Adrian.
Adrian tersenyum ketika mengingat pertemuannya dengan Yura kala itu. Dan dirinya tidak pernah menyangka jika takdir mempertemukan mereka kembali.
***
"Aditya, maaf ya sayang! Mama terlambat jemput kamu!" ucap Yura namun Aditya masih terlihat tidak senang.
"Bagaimana kalau sekarang kita beli kue? Hari ini Aditya kan ulang tahun, jadi Aditya ingin hadiah apa dari Mama?" tanya Yura berusaha membujuk Aditya.
"Aditya tidak ingin apa-apa, Aditya ingin Mama lebih banyak waktu untuk Aditya," ujar Aditya sedih.
"Sayang, Mama juga ingin nya seperti itu. Tapi Mama kan harus mengurus perusahaan kakek, Aditya tau kan, kalau sekarang kakek sudah tua, kakek harus banyak istirahat. Karena itu sekarang giliran Mama yang mengurus perusahaan kakek. Dan nantinya kalau Mama sudah tua, Aditya juga harus menggantikan Mama mengurus perusahaan kakek, karena kakek sudah bersusah payah mendirikan perusahaan itu, jadi kita harus membantu kakek, agar perusahaan itu tetap berdiri. Aditya paham kan maksud Mama?"
"Kan ada papa, Mah. Kenapa tidak Papa saja yang mengurus perusahaan. Kata Papa, jika Mama memang menyayangi Aditya seharusnya Mama di rumah saja dan biarkan Papa yang mengurus perusahaan kakek," ucap Aditya.
"Papa bilang seperti itu?" tanya Yura dan Aditya menganggukkan kepalanya.
"Kapan Papa bilang seperti itu pada Aditya?"
"Tadi pagi waktu Mama belum turun untuk sarapan," jawab Aditya.
"Hufft.. " Yura menghela napas dan memgusap rambut Aditya. Kini Yura sadar, Adam sedang menggunakan Aditya sebagai senjata.
"Aditya sayang, saat ini ada hal yang belum kamu mengerti tapi nanti jika kamu sudah dewasa kamu akan mengerti kenapa Mama harus bekerja dan mengurus perusahaan kakek. Tapi satu hal yang harus Aditya ingat! Mama selalu sayang sama Aditya. Aditya paham kan nak?" tanya Yura menggenggam tangan Aditya.
"Iya, mah," jawab Aditya menganggukkan kepalanya.
"Anak pintar, sekarang kita pulang! okey sayang. Tapi sebelumnya kita beli kue dulu ya!" ucap Yura.
"Okey mah," Aditya tersenyum bahagia.
Aditya tampak senang saat memilih kue dengan karakter superhero kesukaannya.
__ADS_1
"Aditya mau yang ini mah," Aditya menunjuk kue dengan karakter Marvell.
"Aditya mau yang ini?"
"Iya mah, Aditya mau ini,"
"Iya sayang! Mbak yang ini tolong di bungkus ya!"
Sesampainya di rumah, Yura segera mandi dah berganti pakaian begitu juga dengan Aditya.
Semua persiapan ulangtahun juga sudah siap.
"Hai.. Aditya sayang, ini Papa ada hadiah spesial buat Aditya," Adam memberikan sebuah kado.
"Apa ini pah?" tanya Aditya.
"Coba tebak kira-kira isinya apa?"
"Apa ya? sepertinya ini_" Aditya tampak berpikir.
"Coba Aditya buka, pasti Aditya suka," sahut Adam dan dengan antusias Aditya segera membuka kado dari Adam.
"Iya dong sayang, tentu saja ini buat kamu! Biar kamu bisa main game sepuasnya," ujar Adam.
"Mas, apa kado yang kamu berikan itu tidak berlebihan? Aditya ini masih terlalu kecil untuk memainkan iPad seperti itu, Mas." Yura mencoba memberi Adam pengertian.
"Berlebihan bagaimana? Aku rasa itu wajar kok. anak jaman sekarang aku perhatikan hampir semuanya menggunakan itu," jawab Adam.
"Mas, untuk anak sekecil Aditya belum bisa di lepas sendiri untuk memainkan iPad seperti itu,"
"Kalau seperti itu dampingi dong, kamu kan ibunya. seharusnya itu kan menjadi tugas dan tanggung jawab kamu sebagai seorang ibu kan?"
"Sudahlah Mas, sebaiknya kita jangan mempermasalahkan hal seperti ini lagi di depan Aditya. Aditya sayang, Mama mengijinkan kamu menggunakannya iPad ini tapi hanya setiap minggu saja! Bagaimana Aditya mau kan?" Yura memegang bahu Aditya dan tersenyum hangat pada Aditya.
"Iya ma, Aditya hanya akan menggunakan iPad ini saat hari minggu," jawab Aditya patuh.
__ADS_1
"Pintar anak Mama," Yura mengusap kepala Aditya lembut.
"Ini hadiah dari Mama untuk Aditya," Yura memberikan kado mainan edukasi untuk Aditya.
"Aditya suka?" tanya Yura.
"Iya Aditya suka Ma," jawab Aditya.
"Ma apa Aditya boleh minta kado yang lain?" tanya Aditya.
"Tentu saja sayang, kamu mau apa?" tanya Yura.
"Aditya ingin pergi ke perpustakaan nasional," ucap Aditya.
"Perpustakaan nasional? untuk apa sayang? Apa Aditya menginginkan buku? biar Mama belikan saja untuk Aditya," jawab Yura yang tau kalau anaknya memang sangat hobby membaca meskipun usianya baru lima tahun, tapi kemampuan membaca Aditya sudah seperti orang dewasa. Aditya begitu pintar dalam di usisnya yang masih cukup kecil. Bahkan Aditya ini mungkin bisa tergolong dalam katagori anak genius, dari usia 2 tahun Aditya sudah pandai membaca, berhitung dan menggamba.
Itu salah satu penyebab kenapa selama ini Yura tidak pernah mempercayakan Aditya pada orang lain, karena Aditya mempunyai kemampuan melebihi anak-anak seusianya.
Tapi karena kondisi Yura yang sudah tidak mungkin lagi untuk diam dengan apa yang telah dilakukan Adam, membuat Yura terpaksa harus kembali bekerja dan mengurus perusahaan.
Lima tahun betahan dalam pernikahan toxic, Pura-pura bahagia membuat Yura seakan mati rasa. Tapi tidak lagi untuk sekarang, Yura harus bahagia untuk bisa terus mendampingi Aditya tumbuh menjadi anak yang hebat.
"Baiklah sayang, minggu depan kita akan ke perpustakaan seperti yang Aditya inginkan." jawab Yura.
"Hore.. Tapi kita kesananya sama Papa juga kan Mah?" tanya Aditya kegirangan.
"Minggu ya? sebenarnya minggu ini Papa ada pekerjaan tapi demi Aditya, Papa akan meluangkan waktu dan menemani Aditya ke perpustakaan," jawab Adam.
Seorang Ayah dan suami yang sempurna, itulah yang selalu Adam perlihatkan di depan Aditya dan Yura. Hingga tidak ada yang menyangka jika di balik semua ini Adam mampu untuk bermain hati dengan wanita lain selama empat tahun.
"Tapi jika memang kamu harus bekerja, kamu boleh tidak ikut kok mas, biar aku saja yang menemani Aditya," sahut Yura.
Sebenarnya Yura juga sedang berpikir bagaimana jika nanti dirinya benar-benar harus berpisah dari Adam, apakah Aditya bisa menerima perpisahan kedua orang tuanya, sementara di mata Aditya Adam adalah sosok Ayah yang sangat baik.
Happy Reading^
__ADS_1
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐ ya๐๐