Bahtera Cinta Kita

Bahtera Cinta Kita
Chapter 14


__ADS_3

Adam dan Intan masih berada di atas ranjang berbalutkan selimut putih menutupi tubuh bugil mereka setelah melakukan pergulatan panas.


Intan bersandar di dada bidang Adam.


"Apa kamu tau sayang, aku sangat merindukan kamu!" ucap Intan.


"Aku juga merindukan kamu, sayang! sehari tidak melihat kamu rasanya seperti ada yang kurang dalam hidupku," ucap Adam mencium rambut Intan dengan aroma yang begitu wangi.


"Bagaimana kabar istri kamu yang sok berkuasa itu?" Intan cemberut mengingat Yura.


"Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Yura akhir-akhir ini. Entah kenapa sepertinya sekarang, Yura tidak semudah dulu untuk di atur," ucap Adam.


"Apa mungkin, istri kamu itu mengetahui perselingkuhan kamu, Mas?"


"Tidak mungkin, sudahlah jangan berpikir terlalu jauh," Adam bangun dan kembali menggunakan pakaiannya.


"Aku pulang dulu," Adam mencium kening Intan.


Intan menghela napas karena sebenarnya Intan juga sudah malas untuk bersandiwara pura-pura mencintaimu Adam, padahl dirinya sama sekali tidak ada rasa untuk Adam.


***


"Dari mana mas? seharian ini sepertinya tidak ada di kantor?" tanya Yura.


"Apa sekarang kamu juga mau mengawasi aku, Yura? aku tidak ada di kantor karena bertemu dengan klien," ucap Adam tidak suka di curiga.


"Klien yang mana? Bukankah aku tau semua klien kita?" ucap Yura.


"Ini klien baru, kamu belum tau. Sudahlah aku capek, mau istirahat," ucap Adam berlalu.


Yura hanya mengehela nafas, sebenernya Yura sudah tau jika suaminya bertemu dengan Intan. Terkadang ada perasaan menyesal dulu dirinya harus merekomendasi Intan pada Adam. seandainya hal itu tidak terjadi apa mungkin perselingkuhan itu tidak terjadi? itu yang selalu ada di benak Yura.


Lima tahun bersama, tapi rasa itu seakan sudah mati. Tiba-tiba Yura terlintas obrolannya siang ini bersama Ardian.


Sekarang Yura sadar, jika mungkin benar apa yang Ardian katakan. Kenapa dirinya harus hidup dalam kepura-puraan selama ini? Mau sampai kapan seperti ini? hal itu terus saja terlintas di benak Yura, namun Yura bingung cara memberikan pengertian untuk Aditya.


Di mata Aditya, Adam adalah Ayah yang baik.

__ADS_1


Setelah mengganti pakaian, Adam naik ke ranjang dan tidur membelakangi Yura.


Adan ingin memperkirakan jika dirinya sendang marah.


Jika biasanya Yura selalu membujuk, tapi tidak kali ini. Yura hanya mendiamkan Adam dan ikut membelakangi Adam.


"Kenapa Yura tidak bereaksi apa-apa?" batin Adam berharap Yura membujuk dirinya agar Adam bisa mengambil kesempatan untuk meminta Yura berhenti ikut campur masalah kantor.


Keesokan harinya Adam bangun tidur dan Yura sudah tidak ada di sampingnya.


Adam turun dari ranjang dan mencari Yura di kamar Aditya, namun juga tidak ada.


"Apa mereka sudah berangkat?" gumam Adam kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor.


***


"Aditya, maaf ya! hari ini Mama membangunkan kamu lebih pagi, karena Mama ingin bisa bersama Aditya lebih lama. kalau malam Mama sampai kantor, Aditya sudah tidur. Maafkan Mama juga ya kalau Mama terlalu sibuk bekerja," ucap Yura menyuapi bubur ayam pada Aditya.


"Iya, tidak apa-apa Ma. Aditya juga senang bisa bersama Mama dulu sebelum berangkat sekolah. Tapi.." Aditya tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa nak?" tanya Yura.


"Aditya! kenapa kamu berkata seperti itu? Siapa yang mengatakan semua itu?" tanya Yura tak percaya jika putranya mengatakan semua itu.


"Mama, jangan berbohong! Aditya tau semuanya Mama," ucap Aditya.


Yura semakin heran, bagaimana bisa anak seusia Aditya mengerti permasalahan orang dewasa. Yura tau, jika anaknya memang memiliki kemampuan di atas rata-rata umumnya anak seusia dia. Tapi Yura tak menyangka jika Aditya juga memahami permasalahan orang dewasa. Padahal selama ini Yura selalu berusaha bersikap biasa dan baik-baik saja di depan Aditya.


"Aditya ingin Mama bahagia, Aditya tau Mama tidak bahagia bersama Papa," ucap Aditya.


"Aditya, bilang sama Mama, sebenarnya dari mana kamu tau tentang semua ini?" tanya Yura.


"Em.. Aditya sebenernya tidak sengaja mendengar percakapan Mama dan kakek. Aditya juga melihat sendiri saat itu papa mencium tante Intan waktu bertemu di restoran," ucap Aditya.


"Jadi sudah lama kamu mengetahui semua ini nak?" Yura tampak sedih anaknya yang masih begitu kecil harus melihat penderitaan yang selama ini Mamanya rasakan.


"Mama, Aditya ingin Mama bahagia." ucap Aditya.

__ADS_1


"Sayang," Yura memeluk Aditya dan tiba-tiba saja matanya banjir lantaran tak kuat menahan tangis.


"Maafkan Mama sayang, tidak seharusnya kamu mengetahui semua ini," ucap Yura dengan bulir-bulir air mata menggenangi matanya.


"Mama jangan menangis, Mama tidak salah." ucap Aditya menyeka air mata di pipi Yura.


"Jangan pernah membenci Papa ya sayang! biar bagaimana, Papa adalah Papa yang harus kamu hormati dan kamu tau kan Papa sayang banget sama kamu?"


Meskipun Adam sudah menyakiti hati Yura, namun tak sedikitpun Yura menanamkan kebencian di hati Aditya. Yura selalu mengajarkan anaknya untuk menjadi seseorang yang selalu menghormati orang yang lebih tua. Terlebih Adam adalah Ayah Aditya.


"Tapi Papa sudah menyakiti Mama!" ucap Aditya.


"Sayang, suatu saat kalau kamu sudah dewasa kamu pasti akan mengerti permasalahan kami. tapi sebagai seorang anak. kamu wajib berbakti dan menghormati Papa kamu. Aditya paham kan maksud Mama?" ucap Yura dan Aditya menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang Mama nya maksud.


***


Di kantor Yura merenungi perkataan Aditya. Dan mengingat apa yang orang tuanya sampaikan selama ini. jika membiarkan Aditya hidup di lingkungan toxic seperti ini juga tidak baik untuk pertumbuhan Aditya. Terlebih Aditya sudah mengetahui segala.


Tok..! Tok..!


"Masuk," ucap Yura.


"Bu Yura, kami menemukan kecurangan yang sudah Pak Adam lakukan. ini beberapa bukti penggelapan dana yang di lakukan Pak Adam. Dan dari hasil penyelidikan yang kami dapat, semua uang yang hilang ini masuk ke rekening pribadi Pak Adam." jelas tim penyidik.


Yura menghela napas dan menyandarkan kepala pada kursi kerjanya.


Bukan hanya berani berselingkuh darinya, Adam juga menggelapkan aliran dana perusahaan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Yura.


"Baiklah, untuk sementara tolong jangan sampai orang lain ada yang mengetahui masalah ini. Biar saya sendiri yang memberitahu beliau tentang ini dan biar beliau datang sendiri ke pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena saya harus menjaga mental anak kami yang masih kecil. Melihat ayahnya di bawa oleh polisi, pasti akan mempengaruhi mental anak kami,"


"Tapi, bagaimana jika..?"


"Kalian tenang saja! Mas Adam tidak akan kabur. dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Happy Reading^


Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐Ÿ’•

__ADS_1


Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐Ÿ’™ ya๐Ÿ™๐Ÿ™


.


__ADS_2