
"Yura, untung kamu ke sini. Yura kamu harus segera menolongku. aku bisa menjelaskan semuanya, aku tidak ada maksud untuk sengaja mengambil yang perusahaan. aku hanya ingin menyelamatkan uang itu saja," ucap Adam saat Yura masuk kedalam ruangannya.
"Menyelamatkan dari siapa?" tanya Yura datar.
"Dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri, kamu di kantor ini baru, jadi kamu tidak mengerti dan kamu tidak tau jika di belakang Papi, banyak yang ingin menghancurkan perusahaan ini," ucap Adam.
"Apa kamu salah satunya?"
"Yura, aku tidak mungkin melakukan semua itu! Aku ini menantu Papi. Mana mungkin aku berniat menghancurkan bisnis yang sudah Papi rintis selama puluhan tahun, aku tidak mungkin melakukan itu, kamu percaya kan sama aku?" Adam menatap mata Yura seolah ingin menyakinkan.
Yura hanya tersenyum sedikit dan melipat ke dia tangan di dadanya.
"Siapa sebenarnya yang ingin kamu bohongin? Mas Adam. permainan sudah selesai. Sebaiknya kamu serahkan diri kamu secara baik-baik biar berita ini tidak menjadi pemberitaan publik. Kamu tidak mau kan, jika berita ini sampai di ketahui pubik? karena ini akan sangat memperngaruhi karir kamu selanjutnya dan Adityta pastinya akan sangat kecewa jika Ayah yang selalu dia banggakan ternyata mencoba menggelapkan uang dari perusahaan milik kakeknya,"
"Yura! aku tidak bermaksud melakukan semua itu, asal kamu tau, Yura. aku melakukan itu semua demi kita? percayalah Yura! Aku tidak mungkin sengaja melakukan itu semua untuk diriku pribadi,"
"Bagaimana kalau aku coba ingatkan! Mungkin Mas Adam lupa , jika sebenernya Mas Adam mengamankan uang perusahaan bukan buat kami tapi lebih tepatnya buat Intan. Benar kan Mas? sudah seberapa banyak uang yang kamu berikan untuk Intan?" ucap Yura bersikap tenang meskipun jantung nya berdegup dengan kencang.
"Intan? A-apa maksud kamu?" ucap Adam seolah tak mengerti.
"Akhiri sandiwara ini! Sudah cukup aku diam Mas! Terkadang aku berpikir, kenapa aku sebodoh itu, hingga bisa dengan mudah menjadi budak cinta. Sampai aku menutup mata dan telinga tidak mau tau apapun yang orang katakan. Aku begitu yakin kalau kamu memang mencintai aku! Tapi ternyata aku salah, kamu tidak pernah mencintai aku," ucap Yura dengan mata berkaca-kaca. mengingat begitu bodohnya dirinya selama ini.
"Aku dan Intan tidak ada hubungan aoa-apa, dia hanya sekertarisku dan itu juga kamu sendiri yang merekomendasikan? Bukankah dari awal aku sudah menolaknya? tapi kamu sendiri yang menyakinkan aku. Tapi kenapa sekarang justru kamu gunakan Intan sebagai alasan? jika kamu sudah tidak mencintai aku, okay baiklah! tapi jangan fitnah aku!" ucap Adam.
__ADS_1
"Hahaha.. Mas Adam, Mas Adam. . pintar sekali kamu? berbicara seolah, tidak salah apa-apa dan ingin melimpahkan kesalahan itu padaku lagi? Apa kamu sungguh tidak punya malu? Kamu pikir selama ini aku tidak mengetahui hubungan mu dengan Intan melebihi hubungan bos dan sekertaris? Kamu pikir aku tidak tau, kamu sering keluar masuk hotel bersama Intan dan kamu pikir aku juga tidak tau, apartemen yang saat ini di tempati Intan juga kamu yang membelikan dengan uang perusahaan?" Intan tertawa tapi air bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Adam tercengang tak percaya jika ternyata Yura memang sudah mengetahui semua yang di lakukan dengan Intan.
"Sejak kapan kamu mengetahui semuanya?" tanya Adam.
"Kamu ingin tau sejak kapan aku mengetahui jika suamiku selingkuh? Okay.. jika kamu ingin tau sejak kapan aku mengetahui perselingkuhan Mas Adam yang sangat menjijikkan itu. Mungkin sekitar empat tahun yang lalu, bahkan saat itu Aditya mungkin baru lahir," jawab Yura seraya tertawa dalam tangis. Hatinya sakit mengingat kejadian di mana dirinya harus mengetahui secara langsung suaminya masuk ke dalam hotel bersama wanita lain tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat itu Yura begitu takut kehilangan Adam.
"Jadi selama ini kamu pura-pura?" tanya Adam.
"Pura-pura apa maksud kamu Mas? Pura-pura tidak tau jika suamiku berselingkuh?" tanya Yura tersenyum.
"Iya, selama ini aku memilih diam dan menjadi orang bodoh kamu pikir untuk apa Mas? tentu saja karena aku ingin menyelamatkan keluarga kita. Aku pikir kamu akan berubah demi anak kita. Tapi aku salah. empat tahun, aku mencoba bertahan dalam kesakitan ini. Dan sekarang semua sudah berakhir,"
"Aditya tidak akan mengetahui jika Ayahnya di penjara selama kamu tidak membuat ulah dan serahkan diri kamu ke kantor polisi dengan baik. Terkecuali jika Mas Adam ingin seluruh dunia tau perbuatan Mas Adam, silahkan Mas Adam pikirkan sendiri,"
"Baiklah, jika kamu tidak mau memaafkan aku! Biar saja seluruh dunia tau, yang malu bukan hanya aku tapi kamu juga akan malu, anak kita juga akan malu di hina teman-teman sekolahnya." Adam berusaha mengancam dan berharap jika Yura akan mengubah keputusannya yang akan menyeret Adam ke pihak yang berwajib.
"Silahkan saja lakukan, jika ingin mempermalukan diri kamu sendiri! Jujur aku heran ada manusia seperti kamu di dunia ini Mas, tidak punya rasa malu sama sekali! bahkan sekarang menggunakan anak untuk mengancam. Apa sebenarnya kamu juga hanya pura-pura sayang sama Aditya selama ini? sama halnya apa yang kamu lakukan padaku?"
"Tentu saja aku menyayangi Aditya, dia adalah anakk!" ucap Adam dengan cepat.
"Lalu? Apa pantas seorang Ayah menjadikan anaknya senjata untuk lari dari tanggung jawab?"
__ADS_1
Adam terdiam dan kali ini dirinya sudah benar-benar berakhir. Yura sama sekali tidak membuka pintu maaf untuk Adam. kekecewaan yang selama ini di alami Yura sudah terlalu dalam.
***
"Selamat Bu Yura, akhirnya anda melakukan hal yang benar!" ucap Ardian saat Yura keluar kantor.
"Pak Ardian? Kenapa, Bapak ada disini?" tanya Yura.
"Tentu saja, untuk memberikan selamat atas keberanian Bu Yura dalam mengungkap kasus penggelapan yang di lakukan suami Bu Yura," jawab Ardian.
"Maaf Pak Ardian, tapi saya rasa itu bukan urusan Pak Ardian, ini masalah perusahaan kami. Jadi sebaik-baiknya Anda tidak ikut campur,"
"Mama.. " Aditya berlari memeluk Yura.
"Aditya! kenapa ada di sini?" Yura kaget melihat putranya datang ke kantor.
"Papi yang bawa Aditya ke sini, karena sejak tadi merengek ingin menjemput Mama nya di kantor," sahut Pak Hendri
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐ ya๐๐
__ADS_1