Bahtera Cinta Kita

Bahtera Cinta Kita
Draft


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Ardian membawa Aditya ke kamar untuk di tidurkan. Sementara Bu Galuh sudah menyiapkan makan malam untuk menjamu Ardian.


"Tante Aditya sudah tidur, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Ardian berpamitan.


"Sebaiknya makan malam di sini saja," ajak bu Galuh.


"Tapi, apa tidak merepotkan tante?" tanya Ardian.


"Tentu saja tidak, justru kami senang kalau nak Ardian mau makan malam di sini," jawab Bu Galuh.


Ardian yang tak ingin mengecewakan Pak Hendri dan Bu Galuh akhirnya menerima ajakan makan malam bersama mereka.


"Malam, Mi, Pi," ucap Yura masuk ke adalah rumah.


"Yura, kebetulan sekali kamu ke sini. kita lagi makan malam, sekalian saja kita makan bersama," ucap Pak Hendri.


"Pak Ardian, kenapa Pak Ardian ada di sini?" tanya Yura sedikit terkejut dengan kehadiran Ardian di rumah orang tuanya.


"Tadi Mami dan Aditya tidak sengaja bertemu nak Ardian di perpustakaan, tapi waktu mau pulang Aditya tidur, untung ada nak Ardian yang bantu Mami untuk gendong Aditya." sahut Bu Galuh.


"Iya Yura, dua hari ini Aditya sedikit rewel mencari kamu," Pak Hendri menimpali.


"Maaf Mi, Pi. Yura dua hari ini sedang mencoba untuk menenangkan pikiran," jawab Yura.


"Ini masakan, tante sendiri yang masak?" tanya Ardian mengalihkan pembicaraan.


"Iya, itu tante sendiri yang masak. Bagaimana enak tidak?" tanya Bu Galuh.


"Enak banget tante, Aku suka banget sama masakan tante," jawab Ardian seraya menikmati makanan.


"Kalau gitu, makannya yang banyak ya! Ini buat kamu lagi," Bu Galuh mengambilkan makan untuk Ardian.


"Terima kasih, Pak Ardian. Maaf sudah merepot," ucap Yura.


Ardian hanya tersenyum sebagai jawaban.


"O, iya Pak Ardian. Masalah kerja sama perusahaan kita..," ucap Yura terputus.


"Maaf Bu Yura, tapi saat di luar kantor. Biasanya saya tidak pernah membahas masalah pekerjaan. Bagaimana kalau besok biar saya ke kantor Bu Yura, untuk membahas masalah pekerjaan," potong Ardian.

__ADS_1


"Oh, Iya. Maaf Pak Ardian," ucap Yura.


Saat makan, Ardian tampak berbincang ringan dengan Pak Hendri dan Bu Galuh.


Yura sedikit heran melihat Ardian bisa sedekat dan seakrab itu dengan kedua orang tuanya.


"Om, tante, Ardian makasih banget sudah di ijinkan untuk makan malam di sini, sudah lama Ardian merindukan masakan rumahan seperti tadi." ucap Ardian merindukan masakan rumahan lantaran kedua orang tuanya hidup di luar negeri hingga Ardian harus hidup sendiri di Indonesia.


"Kalau nak Ardian mau, sering-sering ke sini. Tante akan bikinin masakan yang enak buat nak Ardian," jawab Bu Galuh.


"Sering-sering ke sini Ardian, Om Suka kalau kamu sering ke sini, om jadi ada teman ngobrol. Yura kan jarang main ke sini. Jadi Om sering kesepian," ucap Pak Hendri.


"Maafkan Yura, Pi. sebenarnya Yura juga ingin sering-sering main ke sini, tapi pekerjaan Yura di kantor belakang ini lagi banyak banget. Apalagi dengan adanya kasus ini." jawab Yura menghela napas.


"Terkadang Papi ini juga tidak tega sama kamu Yura, banyak sekali yang harus kamu urus, tapi kondisi Papi sudah tidak memungkinkan untuk kembali bekerja di kantor," ucap Pak Hendri dengan wajah yang terlihat sedih.


"Om jangan khawatir, saya akan mencoba membantu Yura sebisa saya," sahut Ardian.


"Terima kasih, atas niat baik Pak Ardian, tapi sebaiknya Pak Ardian tidak usah repot-repot. masalah perusahaan, saya bisa menghandle sendiri," ucap Yura.


"Bu Yura jangan salah paham, saya hanya berusaha untuk membantu karena saya merasa jika Om Hendri dan tante Galuh sudah sangat baik sama saya. Jadi saya ingin membalas kebaikan beliau," ucap Ardian.


"Yura, Ardian ini berniat baik membantu kamu! Jangan terlalu keras seperti itu," sahut Pak Hendri.


Setelah Ardian berlalu Pak Hendri da Bu Galuh menasehati Yura agar tidak bersikap kasar kepada Ardian.


"Pi, Saat ini Yura hanya sedang tidak ingin dekat dengan dengan siapapun."


"Yura, Papi tau apa yang saat ini ada di dalam benak kamu. Papi tau, apa yang telah Adam lakukan sangat membekas di hati kamu,_ ucap Pak Hendri.


"O, iya. Bagaimana Adam sekarang? Apa dia sudah menjalankan hukumannya?" tanya Bu Galuh.


"Iya Mi, saat ini Mas Adam sudah di tahan karena semua bukti mengarah pada Mas Adam." jawab Yura.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa kamu masih membiarkan wanita itu bekerja di perusahaan kita?" tanya Bu Galuh.


"Sampai saat ini Yura masih membiarkan Intan di perusahaan," jawab Yura.


"Sebaiknya segera kamu pecat dia," sahut Pak Hendri.

__ADS_1


"Sebelum memecat Intan, Yura akan berusaha mencari cara untuk kembali menarik aset yang Intan miliki saat ini, karena semua itu di beli Mas Adam dengan menggunakan uang perusahaan." jawab Yura.


****


Keesokan harinya di kantor, Yura memanggil Intan ke ruangannya.


"Sebaiknya kamu kembalikan semua aset yang Mas Adam berikan pada kamu atau aku akan mengambil tindakan hukum."


"Tapi itu punya saya Bu," ucap Intan.


"Saya punya bukti, jika apartemen yang saat ini kamu tempati di belikan oleh Mas Adam menggunakan uang perusahaan. Apa kamu pikir aku tidak mengetahui semua itu?" Yura tersenyum menyeringai.


"Bahkan kamu bisa saja, terseret masalah hukum dan berakhir di balik jeruji." ucap Yura.


"Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa, kenapa saya harus takut?" jawab Intan.


"Kalian sudah melakukan pencucian uang secara bersama. Apa kamu pikir kami tidak memeiliki bukti keterlibatan kamu," ucap Yura.


"Bu Yura, tolong maafkan saya! Jangan libatkan saya. Saya benar-benar tidak tau apa-apa," ucap Intan.


"Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah mempercayai wanita ular seperti kamu. Saya angkat derajat kamu untuk menjadi sekertaris Mas Adam, karena saya kasihan dengan kehidupan kamu. Tapi seperti ini balasan yang kamu berikan," ucap Yura mengingat kejadian beberapa tahun silam saat Intan masih menjadi staf biasa. Hidupnya serba sulit namun Yura melihat kegigihan pada diri Intan.


*Flashback*


"Maaf Bu, saya tidak sengaja," ucap Intan menabrak Yura saat berlari masuk ke kantor.


"Kenapa kamu baru datang?" tanya Yura.


"Maaf Bu, saya harus terlambat karena berjalan kaki, dari kontrakan. Dan saya harus merawat ibu saya yang sedang sakit," ucap Intan.


"Ibu kamu sedang sakit?"


"Iya Bu, saya benar-benar minta maaf tidak sengaja menabrak ibu," ucap Intan seraya memunguti kertas yang berserakan.


Melihat Intan yang seperti itu, Yura tergugah hatinya, apalagi saat Intan menceritakan kondisi kesehatan ibunya yang sakit tanpa perawatan lantaran tak punya biaya. Sejak saat itu Yura merekomendasi Intan untuk menjadi sekertaris Adam.


*Flashback Off*


Happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐Ÿ’•


Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐Ÿ’™ ya๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2