
"Mama.. " Aditya berlari memeluk Yura.
"Aditya! kenapa ada di sini?" Yura kaget melihat putranya datang ke kantor.
"Papi yang bawa Aditya ke sini, karena sejak tadi merengek ingin menjemput Mama nya di kantor," sahut Pak Hendri
"Hai.. Aditya," Sapa Ardian.
"Om.. Kan yang waktu itu di perpustakaan?" ucap Aditya.
"Benar sekali, Om senang bertemu dengan kamu di sini," ucap Ardian.
"Kamu ini?" ucap Pak Hendri melihat Ardian.
"Saya Ardian, Pak Hendri. Nak dari Pak Fatur PT. Buana," Ardian memperkenalkan diri.
"Oh.. ternyata kamu anaknya Fatur? Bagaimana keadaan Daddy kamu? Sudah sangat lama kami tidak bertemu," ucap Pak Hendri.
"Papi sangat baik Pak Hendri. hanya saja sekarang berada di Bali untuk menikmati masa pensiunnya,"
"O, iya. Berarti sekarang Fatur sudah tidak memegang perusahaan?"
"Kebetulan beliau sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada saya dan saat ini saya melanjutkan kerjasama beliau dengan perusahaan ini Pak,"
"Syukurlah, semoga kalian bisa melanjutkan kerjasama kini dengan baik. Senang sekali melihat kalian melanjutkan kerjasama kami orang tua selama ini," Pak Hendri tersenyum.
"Papa," Aditya memanggil Adam.
"Aditya, kenapa kamu ada di sini?" tanya Adam.
"Aditya ke sini mau menjemput Mama sama kakek,"
"Pak Ardian, kenapa ada di sini?" Adam mulai menaruh ke cemburuan terhadap Ardian.
__ADS_1
"Saya sedang ada perlu dengan Bu Yura untuk membicarakan masalah kerjasama perusahaan kami, Apa ada masalah Pak Adam?" tanya Ardian.
"Benarkah? Lalu kenapa justru berbicara dengan anak saya di sini?" tanya Adam.
"Kebetulan ada Aditya di sini, jadi kami ngobrol sekalian. jujur saja saya ini senang sekali bisa bertemu dengan Aditya di sini. Aditya ini anak yang menyenangkan, Aditya bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi ke perpustakaan bersama? kebetulan hobby kita ini sama. Sama-sama hobby membacanya," ucap Ardian.
"Ye, Aditya mau, Om. Aditya suka ke perpustakaan." jawab Aditya yang memang lebih menyukai perpustakaan dari pada wahana mainan.
Aditya anak yang hobby dengan bacaan dan memang memiliki keistimewaan di banding anak lainnya hampir setiap hari waktunya di gunakan untuk membaca.
"Saya rasa anda tidak perlu repot-repot membawa anak saya ke perpustakaan, karena saya sendiri yang akan membawa Aditya ke sana," sahut Adam.
"Apa anda yakin Pak Ada?" ucap Ardian.
"Maaf Pak Ardian, saya rasa sekarang kami harus segera pulang, jika Pak Ardian mau membicarakan masalah pekerjaan, kita bicara besok pagi saja, Pak Ardian." ucap Yura tak ingin Ardian berbicara terlalu jauh di depan Aditya.
"Nak Ardian, kalau ada waktu. Main-main ke rumah saya! saya ingin ngobrol banyak sebenarnya, tapi sekarang Om harus pulang dulu," ucap Pak Hendri.
***
Malam ini Aditya tidur dirumah kakek dan nenek, meskipun Aditya awalnya sempat menolak karena tidak bisa jauh dari Mamanya. Setelah di bujuk akhirnya, Aditya mau untuk ikut kakeknya. Sedangkan di rumah Adam dan Yura sempat berdebat, Adam mengatakan tidak suka melihat Yura terlalu dekat dengan Ardian.
"Hahaha.. Apa itu masih layak kamu ucapkan Mas? Aku akan segera mengurus perceraian kita dan sebaiknya segera serahkan diri kamu ke pihak yang berwajib sebelum, mereka menjemput kamu dengan paksa, Mas." ucap Yura sekarang sudah tidak mau terkena bujuk rayu dari Adam lagi.
"Yura, tolong jangan lakukan itu! Aku mohon, Yura tolong jangan ceraikan aku, aku janji aku akan berubah! Aku tidak ingin berpisah dari kamu dan juga Aditya, Kamu pasti juga tidak mau kan? jika Aditya harus kehilangan sosok seorang Ayah? tolong pikiran lagi Yura!" Kali ini Adam benar-benar merasa takut jika sampai bercerai dari Yura, karena Adam bukan siapa-siapa tanpa Yura.
"Seharusnya kamu sudah tau resikonya sejak awal. Bukankah ini yang kamu inginkan dari dulu? Kamu ingin segera bercerai dariku agar bisa menikah dengan Intan kan? Seharusny sekarang kamu bahagia kan mas?" ucap Yura tersenyum menyeringai.
"Yura, aku khilaf! Tolong Yura beri aku satu kesempatan! Aku janji, aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu dan Ayah yang baik untuk Aditya," ucap Adam mencoba menyakinkan.
Tok..! Tok..!
"Aku lihat dulu siapa yang datang," ucap Yura berlalu lintas turun ke lantai bawah dan membuka pintu.
__ADS_1
"Selamat malam Bu Yura, apa Pak Adam ada di rumah?" tanya polisi sengaja datang untuk menjemput Adam.
Adam yang melihat kehadiran polisi seketika menjadi panik dan ingin kabur namun sepertinya tidak ada jalan baginya untuk kabur.
"Sebaiknya serahkan diri kamu baik-baik Mas, jangan buat keributan jika tidak ingin berita ini di lihat banyak orang," ucap Yura mencegah Adam untuk tidak mencoba kabur.
"Yura, kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu setega ini? Aku suami kamu Yura, aku Ayah dari anak kamu, tolong aku Yura! Jangan seperti ini," ucap Adam memohon.
"Bawa saja dia Pak," ucap Yura tanpa memperdulikan rengekan Adam.
Polisi naik ke lantai atas dan memaksa Adam untuk ikut bersama mereka. Adam meronta dan meminta untuk di lepaskan namun tak di hiraukan oleh polisi. Sebenarnya penjemputan ini memang sudah Yura dan polisi rencanakan lantaran Adam yang sampai saat ini masih enggan untuk menjalani pemeriksaan ke kantor polisi. Beberapa kali mendapatkan surat pemanggilan dari polisi namun Adam selalu saja mangkir.
Hingga dengan terpaksa polisi menjemput Adam dengan cara di jemput. Karena itu juga malam ini Aditya menginap di rumah kakek dan neneknya. Yura tidak ingin Aditya mengetahui jika Papa nya di jemput polisi seperti ini, meskipun suatu saat mungkin Yura harus mengatakan kebenaran ini pada Aditya tapi untuk saat ini membiarkan Aditya tidak tau mungkin jauh labih baik untuk kejiwaan Aditya.
"Yura..! Tolong aku, Tolong aku, Yura!" Adam berteriak minta tolong tak ingin ikut ke kantor polisi.
***
"Hiks..! Hiks..!" tangis Yura pecah ketika saat Adam sudah meninggalkan rumah.
Sakit..! itu yang saat ini Yura rasakan. Dihianati selama empat tahun dan kini harus mengetahui jika suami yang dulu sangat dia cintai juga menggelapkan uang perusahaan.
"Kenapa kamu tega Mas, kenapa kamu tega!" gumam Yura terisak.
Selama ini Yura tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan orang lain namun saat sendiri seperti ini, Yura tak bisa menahan kesedihan yang selama ini dia pendam. Meluapkan kesedihan dengan tangisan. Hanya itu yang Yura bisa lakukan.
Meski seperti itu, namun ada kini ada perasaan sedikit lega lantaran sudah bisa melepaskan parasit yang selama ini menggerogoti hatinya.
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐ ya๐๐
__ADS_1