
Adam tiba-tiba saja masuk ruang kerja Yura tanpa mengetuk pintu lebih dahulu dan membuat Yura sedikit terkejut.
"Ada apa Mas? mengagetkan saja!" ucap Yura melihat ke arah sumber suara.
"Kamu yang apa-apaan Yura? semakin hari kamu semakin tidak menghargai aku sebagai suami kamu! Ada pertemuan penting pagi ini, tapi kamu sama sekali tidak melibatkan aku? padahal posisi aku di perusahaan ini masih sebagai wakil direktur! seharusnya kamu pendapatku juga masih di butuhkan di perusahaan ini. Kecuali jika kamu memang sudah benar-benar tidak menghargai aku lagi, Pertama kamu singkirkan sekertaris ku dan satu persatu kamu pecat orang-orang kepercayaanku. Apa sih yang sebenarnya ada di dalam otak kamu!" ucap Adam dengan nada tinggi.
"Aku tidak ada maksud apa-apa mas, Aku hanya menjalankan tugasku saja! tidak ada maksud lain. Kamu juga tau, orang-orang yang aku keluarkan itu semua memang orang-orang yang tidak memiliki kompeten di perusahaan ini," jawab Yura.
"Tapi mereka semua orang kepercayaanku, apa kamu tau itu? selama kamu memutuskan untuk tidak lagi bekerja, mereka lah yang selalu membantuku menyelesaikan semua personalan yang ada di kantor ini," ucy Adam.
"Mas, tapi mereka juga sudah bermain curang dengan kamu! mereka itu menggelapkan uang. Lalu untuk apa lagi kita memperthankan orang yang jelas-jelas merugikan perusahaan ini? Sudahlah mas, jangan berdebat lagi, aku ingin kembali bekerja," ucap Yura.
"Oh, sekarang bahkan berani kamu mengusir aku? Ok, baiklah! Aku tidak terima, kamu melakukan semua ini," ucap Adam berlalu.
Yura menghela napas dan mendudukkan dirinya di kursi kerja. Yura mengusap wajahnya dan kini bulir-bulir air mata keluar dan tak mampu lagi untuk di bendung.
Yura bingung bagaimana caranya keluar dari semua ini. Jika saat ini Adam benar-benar pergi dari hidupnya bagaimana cara untuk bisa menghadapi Aditya? Apa yang harus Yura katakan pada Aditya? pertanyaan-pertanyaan itulah yang ada di benak Yura.
"Bu Yura," panggil Intan.
"Intan, ada perlu apa kamu memanggil saya?" tanya Yura saat berjalan melintas lobby dan Intan yang sejak tadi sengaja menunggu Yura segera memnggil ketika melihat Yura melintas.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Intan.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya secara langsung? Apa ini mengenai kamu yang tidak lagi menjadi sekertaris Pak Adam?" tanya Yura.
"Itu salah satunya, Bu Yura! Kenapa saya tiba-tiba di pindahkan ke lantai bawah? bukankah saya selalu melakukan tugas dengan baik? saya rasa ini tidak adil. selama ini saya sudah melakukan tugas saya dengan cukup baik, banyak hal yang sudah saya lakukan untuk perusahaan ini, tapi kenapa tiba-tiba saya di pindah ke lantai bawah tanpa saya tau kesalahan apa yang sudah saya lakukan?" tanya Intan.
"Bukankah sejak awal kamu memang di lantai bawah sebagai staf biasa. Dan saya sendiri yang meminta kamu untuk menjadi sekertaris Pak Adam. Tapi apa yang sudah kamu lakukan? kamu sudah berani bermain-main dengan saya!" ucap Yura berlalu.
"Ta-tapi Bu, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sudah saya lakukan? saya tidak melakukan kesalahan apa-apa," ucap Intan berusaha mengikuti Yura dan menanyakan kesalahanmu.
__ADS_1
Yura tak menghiraukan Intan sama sekali dan tetap berjalan menuju perkiraan.
***
Intan mengambil benda pipih yang ada dalam sakunya dan menghubungi Adam, Intan menceritakan kejadian yang baru saja dia alami saat ingin meminta penjelasan dari Yura.
"Jadi itu yang Yura katakan?" tanya Adam.
"Iya mas, aku yakin! Yura ini sepertinya tau hubungan kita, tapi dia hanya pura-pura tidak tau di depan kita. Aku yakin Yura pasti punya rencana licik," ucap Intan.
"Sudahlah jangan berpikir terlalu jauh! dari mana Yura tau tentang hubungan kita? jika pun itu benar Yura tau hubungan kita, aku yakin saat ini dia sudah pasti akan marah dan mungkin mengusir aku dari rumah. Tapi buktinya aku baik-baik saja!" jawab Adam dari sebrang telpon.
"Ya sudah, tapi ingat ya mas, aku sudah berusaha mengingatkan kamu!" ucap Intan.
"Sekali kamu ada di mana? Aku merindukan kamu, Intan." ucap Adam.
"Aku masih ada di kantor Mas, aku juga sangat merindukan kamu! Tapi akhir-akhir ini sepertinya kamu sedang banyak pikiran, karena itu aku memilih untuk tidak mengganggu kamu, Mas!" ucap Intan.
"Iya, tidak apa-apa Mas! Intan ngerti kok. Jangan terlalu memiliki Intan, intan akan sabar, yang penting Mas Adam selesaikan dulu masalahnya Mas Adam, pikirkan bagai cara agar Mas Adam bisa segera mengambil perusahaan itu, Intan sudah tidak betah bekerja di sini sebagai staf biasa. Semua orang di kantor ini memandang rendah Intan," Ujar Intan.
"Iya sayang! Kamu sabar ya, aku pasti bisa mengambil perusahaan itu secepatnya," ucap Adam.
"Ya sudah, aku harus segera kembali bekerja," ucap intan menutup ponsel.
"Hai.. kamu sedang bicara sama siapa?" tanya Indra menghampiri.
"Bisalah," ucap Intan tersenyum.
"Kita pergi sekarang?" ajak Indra.
"Okay..!" Intan berjalan beriringan dengan Indra.
__ADS_1
Indra adalah salah satu karyawan di perusak yang sama dengan Intan bekerja. Selama ini selain menjalin hubungan dengan Adam, Intan juga menjalin hubungan dengan Indra.
****
"Mah, papa mana? kenapa belum siap juga? kita jadi ke perpustakaan kan?" tanya Aditya.
"Jadi sayang, kamu tunggu di sini, mama akan melihat Papa di kamar dulu," ucap Yura berlalu untuk melihat Adam yang tak kunjung turun.
"Mas Adam, kenapa belum siap? Apa kamu tau Aditya sudah menunggu kita di bawah! kamu ingat kan, kalau kamu sudah janji pada Aditya untuk menemani Aditya ke perpustakaan?" tanya Yura.
"Iya aku ingat," jawab Adam santai.
"Kalau ingat kenapa masih di sini? kenapa belum siap-siap?" tanya Yura.
"Untuk apa aku harus ikut bersama kalian, kamu bisa menangani Aditya sendiri kan? bukankah kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi?" ucap Adam.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu?" tanya Yura.
" Benar kan apa yang aku katakan? sekarang kamu bisa mengurus semua sendiri. berarti kamu juga bisa mengurus Aditya sendiri," ucap Adam.
"Apa ini karena kamu masih marah karena masalah kantor kemarin?" tanya Yura.
"Ya, pastilah aku marah! suami mana yang tidak marah jika istrinya sudah tidak menghargainya lagi?" ucap Adam.
Karena tidak ingin berdebat dan tidak ingin Aditya kecewa, Yura pun akhirnya memilih untuk minta maaf pada Adam. Bukan Adam kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini, Adam meminta pada Yura agar dirinya mendapatkan kembali wewenangnya sebagai seorang wakil direktur.
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐ ya๐๐
__ADS_1