
Pagi ini Yura sangat kerepotan karena harus menyiapkan keperluan Aditya dan mengantarkannya ke sekolah. Belum lagi harus menyiapkan diri untuk pergi meeting dan mengunjungi outlet-outlet yang ada tempat perbelanjaan miliknya.
"Maaf Bu Yura, sudah jam satu siang," Hesti sekertaris Yura yang baru mengingatkan.
"Sudah jam satu ya? Aditya pasti akan marah lagi karena aku telat jemput," gumam Yura seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Mama," teriak Aditya.
"Aditya kenapa kamu bisa ada di sini? siapa yang menjemput kamu?" tanya Yura mencari orang di sekitar Aditya.
"Hai.. " Ardian melambaikan tangannya.
"Pak Ardian? Kenapa Aditya bisa sama bapak?" tanya Yura.
"Karena aku tau jika hari ini Bu Yura sangat sibuk. semalam tente Galuh mengabari jika saat ini beliau sedang berlibur di Singapura," jawab Ardian.
"Lagian Mami juga aneh. Kenapa Mami harus mengabari Pak Ardian? Mami yang berlibur tapi merepotkan Pak Ardian," gerutu Bu Yura.
"Itu karena Tante Galuh percaya sama saya," ucapan Ardian.
"Percaya apa memangnya?"
"Percaya jika saya bisa menjaga kalian," jawab Ardian.
__ADS_1
"Apa kita sedekat itu? Perasaan kita ini hanya sebatas rekan kerja. Kenapa sepertinya Pak Ardian sangat tertarik untuk masuk dalam urusan pribadi kami,"
"Karena saya merasa Om dan Tante cukup baik dengan saya, jadi apa salahnya jika saya juga membalas kebaikan mereka," jawab Ardian.
"Ck, sudahlah. bagaimana dengan produk dari perusahaan Pak Ardian? sudah sejauh mana pengerjaannya?" tanya Yura.
"Masalah perkerjaan Bu Yura tidak usah khawatir, saya akan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu," jawab Ardian tersenyum.
"Kenapa saya jadi menyesal dan ragu bekerjasama dengan perusahaan Pak Ardian ya? bagaimana bisa bekerja dengan baik, seperti anda terlalu banyak waktu untuk bersantai," sindiran dari Yura karena selalu melihat Ardian ada di mana-mana. seolah menjadi bayangan untuk dirinya.
"Tapi saya profesional kok Bu, lihat saja semua akan selesai pada saat waktu yang sudah kita sepakati," ucapan Ardian.
"Baiklah, Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjemput anak saya. permisi," ucapan Yura berlalu.
"Dada.. Om," Aditya tersenyum melambaikan tangan dan Ardian membalas melambaikan tangan seraya tersenyum.
"Aku ini sepertinya memang sudah gila, gila karena kamu Bu Yura," gumam Ardian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
"Aditya, apa kamu mau makan?" tanya Yura seraya meletakkan tas Aditya di sofa.
"Aditya sudah makan, Mah.. sebenarnya Papa ada di mana? Kenapa sudah beberapa hari Aditya tidak pernah melihat Papa?" tanya Aditya dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Aditya kangen Papa ya?" tanya Yura dan Aditya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aditya sayang, saat ini Papa sedang ada pekerjaan di luar kota, mungkin untuk beberapa bulan ke depan Aditya belum bisa bertemu dengan Papa," Yura mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya. Seperti apapun kesalahan Adam, Yura tidak ingin jika Aditya tau papanya menggelapkan dana perusahaan. Sudah cukup Aditya tau jika papanya telah berselingkuh.
"Mama bohong kan?"
"Kenapa Aditya bilang seperti itu sama Mama?" Yura melihat Aditya.
"Papa pasti sedang bersama dengan tante Intan. Karena itu Papa pergi dan gak mau bertemu dengan Aditya,"
"Aditya sayang, coba jawab pertanyaan Mama! Apa menurut Aditya. selama ini apa Papa pernah mengecewakan Aditya? meskipun Aditya tau jika Papa dekat dengan tante Intan?" tanya Yura.
"Tidak, Papa selalu ada buat Aditya," jawab Aditya dengan wajah sedihnya.
Adam memang bukan suami yang baik tapi Adam selalu menjadi ayah yang baik untuk Aditya.
"Itu, Aditya tau. Papa tidak mungkin mengabaikan Aditya hanya karena tante Intan. Papa itu sangat menyayangi Aditya,"
"Tapi kenapa Papa tidak menemui Aditya atau menghubungi Aditya?"
"Itu karena saat ini Papa ada di sebuah desa yang terpencil dan tidak ada sinyal. Papa tidak menghubungi bukan berarti Papa lupa sama Aditya. Mama yakin saat ini Papa juga pasti merindukan Aditya,"
Yura mencoba untuk meyakinkan Aditya dan tidak ingin melihat putranya patah hati karena kelakuan papanya.
__ADS_1