
Hari ini Yura dan Adam membawa Aditya ke perpustakaan nasional seperti yang telah mereka janjikan saat hari ulang tahun Aditya.
Namun di sana Yura justru kembali berselisih dengan Adam hingga terjadi perdebatan. Saat keduanya berdebat mereka sampai tidak menyadari jika Aditya pergi mencari buku sendiri. Perpustakaan yang begitu luas di tambah banyaknya pengunjung membuat Yura dan Adam panik ketika menyadari bahwa Aditya sudah tidak ada di sana.
"Aditya..! Aditya..! Dimana Aditya mas?" tanya Yura panik memegang kepalanya.
"Bukankah tadi Aditya ada di sini?" ucap Adam.
"Aditya..!" Yura panik memangil Aditya.
"Ingat ya! Jika sampai terjadi apa-apa pada Aditya ini semua salah kamu!" ucap Adam.
"Kenapa menyalahkan aku mas? Bukankah kamu yang tadi memulai pertengkaran sampai aku tidak menyadari keberadaan Aditya?" ucap Yura.
"Tapi semua karena kamu! Coba kalau kamu tidak usah ikut campur masalah perusahaan dan fokus pada Aditya. Ini semua tidak akan terjadi," ucap Adam.
"Kenapa bawa-bawa perusahaan, Mas? bukankan ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan,"
"Sudahlah Mas, Yura tidak ingin ribut. Yura ingin mencari Aditya," ucap Yura berlalu dan mencari Aditya ke setiap sudut dan di balik rak buku yang ada di sana.
***
Hari itu kebetulan, Adrian yang baru saja kembali dari luar negeri sengaja menyempatkan diri untuk berkunjung ke perpustakaan nasional lantaran Adrian adalah salah satu donatur di sana.
Dan saat Adrian sedang melihat buku-buku yang ada di sana, tiba-tiba saja ada hal menarik yang mengusiknya hingga membuat Adrian menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan sosok anak laki-laki yang terlihat tidak seperti umumnya anak-anak.
"Hai.. nak," Sapa Adrian.
Aditya diam dan memperhatikan Adrian dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Kamu sedang baca apa?" tanya Adrian.
"Buku Kedokteran," ucap Aditya memperlihatkannya pada Adrian.
"Memang kamu paham?" tanya Adrian melihat buku yang seharusnya di pelajarani oleh mahasiswa kedokteran bukan anak TK.
Aditya tidak menjawab, karena percuma saja jika dirinya menjawab pun tak ada yang akan percaya. Itulah yang biasanya di lakukan orang-orang yang bertanya padanya.
__ADS_1
"Sini om akan tunjukkan pada kamu," Adrian menggandeng tangan Aditya dan membawanya ke rak buku yang di sana semua bukunya tentang anak-anak. Seperti buku latihan membaca dan menulis, buku mewarnai dan buku dongeng.
"Kenapa hanya diam? Kamu bisa melihat buku mana saja yang kamu sukai di sini," ucap Adrian.
"Saya tidak suka semua ini Om," jawab Aditya.
"Tidak suka? kenapa? lihat ini, ini bukunya bagus. Bisa untuk belajar membaca," Adrian menunjukkan satu buku latihan baca pada Aditya.
"Aditya sudah bisa membaca, tidak mau buka itu," ucap Aditya.
"Oh, nama kamu Aditya? Wah hebat kamu benar-benar sudah bisa membaca, Memang kamu sudah sekolah?" tanya Adrian.
"Iya, Aditya sudah sekolah," Jawab Adya.
"Kelas berapa?"
"Tk," Jawab Aditya.
"Wah hebat, anak TK sudah bisa baca," Adrian mengusap rambut Aditya.
"Sebenarnya Aditya tidak mau sekolah TK, tapi Mama memaksa! Mama bilang biar Aditya punya teman dan Aditya terpaksa menyetujuinya karena Aditya tidak ingin membuat Mama bingung kalau harus menjaga Aditya di rumah, sedangkan Mama masih harus mengurus perusahaan kakek," ucap Aditya dengan polos.
"Tapi Aditya bosan, yang di ajarkan tidak ada yang menarik. Semuanya Adrian sudah bisa," jawab Aditya.
"Kamu benar-benar sudah bisa membaca, kalau begitu coba baca ini," Adrian menujukan satu buku untuk di baca Aditya.
"Cerita rakyat Nusantara," ucap Aditya.
"Wow.. hebat ternyata kamu benar-benar bisa membacanya," Adrian kagum.
Aditya menepuk jidatnya.
"Om, itu hanya judul buku. tentu saja Aditya bisa membacanya. Siniin buku itu Om?" Aditya meminta buku kedokteran yang tadi di ambil Adrian.
"Ini? Kamu buku ini?" tanya Adrian tak percaya jika anak sekecil itu lebih tertarik dengan buku kedokteran di bandingkan dengan buku dongeng.
"Iya, Aditya mau buku itu om, Aditya belum selesai tadi membacanya," ucap Aditya.
__ADS_1
"Kamu serius?"
"Iya Om, Aditya tadi sudah membaca sampai pemeriksaan fisik yang umum dilakukan untuk mendeteksi gagal jantung: mengukur denyut nadi dan tekanan darah. memeriksa pembuluh vena di leher, apakah terjadi pembengkakan atau tekanan darah tinggi di pembuluh yang mengalirkan darah kembali ke jantung. Sini kembalilah bukunya, Aditya harus segera mempelajari semua itu, karena kakek sedang sakit jantung," ucap Aditya.
Adrian tak menyangka jika anak kecil yang di lihatnya benar-benar mempelajari buku kedokteran.
Adrian memberikan bukunya dan memperhatikan saat Aditya dengan luar biasa mampu memahami semua materi yang ada di buku itu.
"Oya kamu ke sini sama siapa? Kenapa orang tua kamu membiarkan kamu sendirian di sini?" Tanya Adrian.
"Aditya..! Ternyata kamu ada di sini? Kenapa pergi begitu saja nak? Kamu tau tidak Mama dan papa bingung nyariin kamu!" ucap Yura memeluk Aditya.
"Bu Yura.. Jadi Aditya ini anak kamu?" tanya Adrian.
"Pak Adrian, kenapa bapak ada di sini? Bukankah Pak Adrian sedang berada di luar negeri?" tanya Yura melihat Adrian.
"Kebetulan semua urusan di sana sudah selesai lebih awal jadi bisa pulang lebih cepat dari perkiraan," jawab Adrian.
"Iya, Aditya ini benar anak Bu Yura?" Adrian masih penasaran dan tidak menyangka jika anak genius ini adalah anak Yura.
"Iya Adrian, Aditya ini anak saya!" jawab Yura.
"Aditya ini sepertinya memiliki kemampuan di atas rata-rata anak pada umumnya ya? Jujur saya hampir tidak percaya dengan kemampuan Aditya memahami buku yang tidak seharusnya di baca anak seusia dia," ucap Adrian dan Yura tersenyum.
"Iya Pak, Aditya memang memiliki kemampuan di atas rata-rata anak pada umumnya. Tapi sebenarnya saya melarang Aditya untuk memperlihatkan itu pada orang lain. Tapi namanya anak kecil, ternyata Bapak saja tetep menyadari itu," ucap Yura menghela napas.
"Kenapa seperti itu? Bukankah bagus kalau Aditya memiliki kemampuan seperti itu? Bu Yura seharusnya bangga dong dengan kemampuan Aditya," ucap Adrian.
"Tentu saja saya bangga dengan kemampuan Aditya, tapi saya ingin Aditya bisa tumbuh sesuai dengan usianya. Saya ingin dia melalui semua fase layaknya anak-anak pada umumnya," jawab Yura.
"Rupanya kalian di siniM Syukurlah kalau Aditya sudah ketemu. Lain kali kalau mau pergi bilang dulu Aditya! Jangan buat kami bingung, Okay!" ucap Adam pada Aditya.
"Iya Pah, Aditya minta maaf. Tadi sepertinya Mama dan papa sedang membicarakanmu hal penting jadi Aditya pergi," jawab Aditya.
"Oow.. ini suami Bu Yura?" ucap Adrian melihat Adam dengan Inten membuat Adam merasa tidak nyaman.
Happy Reading^
__ADS_1
Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang💕
Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit 💙 ya🙏🙏