Bahtera Cinta Kita

Bahtera Cinta Kita
Chapter 6


__ADS_3

"Yura, usia Papi ini sudah tidak muda lagi, Kemarin Dokter juga mengatakan ada sumbatan di pembuluh jantung Papi yang membuat Papi harus segera di oprasi. Kamu tau kan operasi itu resikonya seperti apa!? jujur Papi ini mencemaskan kamu! Jika Papi pergi bagaimana dengan kamu," ucap Pak Hendri.


"Pi, Papi kan baik-baik saja! semua akan berjalan dengan lancar dan Papi akan kembali sehat," ucap Yura.


"Yura, do'akan operasi Papi nantinya berjalan dengan lancar, tapi jujur saja saat ini ada yang mengganggu pikiran Papi. Jika ternyata jatah umur Papi sudah habis sampai di sini,yang Papi khawatirkan itu kamu dan Mami. Bagaimana nasib kalian. Yura kamu anak kami satu-satunya, jika Papi sudah tidak ada seharusnya Papi bisa tenang karena ada kamu yang akan menjaga Mami, tapi kenyataannya kamu sendiri masih seperti ini, bagaimana Papi bisa tenang meninggalkan Mami sama kamu!" ucap Pak Hendri.


"Yura kenapa Pi? Yura baik-baik saja? Yura bahagia? kenapa Papi berpikir seperti itu?" tanya Yura panik takut Papi nya mengetahui keadaan rumah tangga yang selama ini berusaha dia tutupi.


"Huft.. Yura, Yura, siapa yang ingin kamu bohongi? Kamu tidak perlu lagi bersandiwara di depan kami! Kami sudah tau semuanya, jujur saja sebenarnya Papi sangat kecewa sama kamu, Yura. Bagaimana bisa seorang Yura, anak perempuan yang Papi didik untuk menjadi wanita yang kuat, hebat dan tangguh ternyata begitu lemah hanya karena di butakan cinta." ucap Pak Hendri menghela nafas.


"Yura, kami ini sebenarnya sudah tau cukup lama, bagaimana rumah tangga kamu yang sebenarnya, tapi kami mencoba untuk memberikan kamu waktu, kami menunggu sampai kamu sendiri yang jujur pada kami dan mengatakan kalau kamu tidak bahagia bersama dengan Adam. Kami sebagai orang tua berusaha menghargai pilihanmu. Karena dari awal kamu sendiri yang memilih Adam Bahkan semua bukti tentang Adam yang kami berikan tidak membuatmu percaya pada kami. Kami ini bukan orang tua yang gila harta. Kami menentang hubungan kalian, karena kami tau Adam bukan laki-laki yang baik, tidak ada hubungannya dengan harta. Kami hanya menginginkan kebahagiaan kamu, Tapi kamu menganggap penolakan kami karena harta, padahal bukan itu," sahut Bu Galuh.


"Mi, Pi, maafkan Yura. Yura salah! Tolong maafkan Yura," ucap Yura bersimpuh di kaki Pak Hendri dan Bu Galuh. Bulir-bulir air mata menggenangi sudut matanya.


"Bangunlah nak, Kami hanya ingin melihat kamu bahagia. Yura jangan menyiksa diri kamu sendiri seperti ini! Hubungan macam apa yang kamu jalani dengan Adam? hubungan kalian ini tidak sehat, terutama kamu Yura? sampai kapan kamu pura-pura seolah bahagia padahal hati kamu terluka karena perselingkuhan suami kamu?" ucap Bu Galuh.


"Mi, Yura malu. Yura malu karena Yura tidak mendengarkan nasehat Papi dan Mami saat itu, seandainya saat itu Yura percaya Mami dan Papi, pasti saat ini hidup Yura tidak akan menyedihkan seperti ini," tangis Yura pecah di pelukan Bu Galuh.


"Masih belum terlambat, Yura. Bangkitlah! mulailah kembali berdiri untuk mencari kebahagiaan kamu demi Aditya. Kamu harus bahagia demi Aditya." ucap Pak Hendri.

__ADS_1


"Justru karena Yura memikirkan Aditya juga Pi, Yura memilih diam dan bertahan, agar tidak terjadi pertengkaran. Yura tidak mau Aditya hidup dalam lingkungan keluarga yang orang tuanya selalu bertengkar. Yura ingin memberikan lingkungan keluarga yang sehat untuk mental Aditya." ujar Yura.


"Dengan mengorbankan diri kamu? sampai kapan kamu mampu bertahan? jika sampai kamu jatuh sakit karena tekanan yang kamu alami ini, apa kamu yakin Aditya akan hidup dengan baik di bawah pengasuhan Adam?" tanya Pak Hendri.


"Papi benar Yura. Jika benar kamu memikirkan Aditya. Itu Artinya kamu harus sehat. karena siapa lagi yang bisa menjaga dan menyanyi Aditya kalau bukan kamu? laki-laki seperti Adam hanya akan memikirkan dirinya sendiri, dia tidak akan memikirkan nasib Aditya." sahut Bu Galuh.


Yura terdiam dan memikirkan perkataan kedua orang tuanya.


"Tapi bagaimana kalau sampai Mas Adam menceraikan Yura? Apa yang harus Yura katakan pada Aditya? Aditya begitu mencintai Papa nya. Aditya pasti tidak akan bisa menerima semua kenyataan ini?" Yura kembali bingung.


"Aditya suatu saat akan mengerti, jika kamu melakukan itu semua demi dirinya. Yura, Papi yakin kamu bisa membesarkan Aditya sendiri. Kalian akan jauh lebih bahagia jika tanpa Adam," Pak Hendri memberikan nasehat agar Yura berani mengambil sikap.


"Kembalilah ke kantor, Papi akan segera pensiun. Dan hal ini sudah Papi bahas dengan para pemegang saham, mereka sependapat dengan Papi agar kamulah yang menggantikan Papi sebuah Direktur Utama," ujar Pak Hendri.


"Yura pi? Apa Yura bisa menduduki posisi itu?" Yura meragukan dirinya sendiri..


"Papi yakin kamu bisa, Papi tau kempunan kamu seperti apa Yura," jawab Pak Hendri.


"Tapi, kalau Yura kembali bekerja. Lalu bagaimana dengan Aditya. siapa yang akan menjaga Aditya. Yura tidak tega jika harus menyerahkan Aditya pada pembantu rumah tangga, Pi. " sejak awal Yura memang memutuskan untuk tidak bekerja karena tidak ingin Aditya di asuh orang lain.

__ADS_1


"Masalah Aditya, kamu jangan terlalu memikirkan itu. ada kami kan?" ucap Bu Galuh tersenyum.


"Yura, Aditya ini kan sudah waktunya untuk sekolah. sebaiknya kamu daftarkan Aditya untuk sekolah, Nanti sepulang sekolah kalau kamu tidak sibuk, kamu bisa kok jemput Aditya dan membawanya ke kantor atau kamu bisa mengantarkan Aditya ke rumah kami, Mami rasa itu jauh lebih baik dari pada kamu harus hidup dalam keterpura-puraan seperti ini." ucap Bu Galuh lagi.


"Iya Yura. Papi rasa Aditya akan jauh lebih bahagia jika dia sekolah, di sana dia bisa bertemu dengan banyak teman." Pak Hendri menimpali.


Setelah memikirkan perkataan orang tuanya, malam itu Yura ijin kepada Adam untuk mendaftarkan Aditya ke sekolah.


Benar saja, ternyata Aditya jauh lebih bahagia saat sekolah karena punya banyak teman dan pengalaman baru.


*Flashback Off*


Di bawah kepemimpinan Yura, kini Yura merombak semua susunan perusahaan yang lama termasuk perombakan karyawan besar-besaran. banyak karyawan yang di nilai berprestasi dan berdedikasi tinggi untuk perusahaan naik jabatan, tapi hal berbanding terbalik dengan Intan. Yura memindahkan intan ke lantai bawah, yang artinya kini Intan hanya staf biasa. Bukan lagi sekertaris wakil Direktur.


"Mas, apa-apaan ini? kenapa aku di turunkan menjadi staf lagi? Aku tidak Terima Mas! Aku mau kembali menjadi sekertaris kamu!" ucap Intan kesal karena keputusan yang sudah di buat oleh Yura.


Happy Reading^


Jangan lupa, like, coment, Vote, bunga dan kopinya ya sayang๐Ÿ’•

__ADS_1


Selalu thor ingatkan akan ada giveaway untuk lima pemberi dukungan terbanyak di akhir cerita, dengan syarat bagi yang sudah memfollow akun Qurrotaayun dan jangan lupa klik favorit ๐Ÿ’™ ya๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2