BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 10


__ADS_3

...***...


Semua petinggi istana telah berkumpul, mereka semua membahas hukuman yang akan diterima oleh Raden Surya Biantara. Suasana saat itu sedang panas, karena mereka semua tidak tahan dengan kabar yang beredar itu.


"Hadirin sekalian, saat ini kita akan membahas masalah yang telah dilakukan oleh Raden surya biantara. Bagaimana pendapat hadirin semuanya?."


"Berita tentang pembunuhan yang dilakukan Raden surya biantara sungguh tidak bisa dibiarkan begitu saja." Salah satu Senopati yang hadir mulai berbicara. "Bukan hanya membunuh warga desa saja, akan tetapi Raden surya biantara dengan sangat kejamnya telah membunuh anak dan istrinya. Itu adalah perbuatan yang sangat terkutuk yang tidak bisa diampuni."


"Ya, kalau berita ini sampai pada telinga Gusti Prabu adinegara prabeswara?. Yang merupakan ayahanda dari Gusti Putri Jayanti lazmi bagaimana?. Apa yang akan terjadi?."


"Tentu saja itu dapat memicu perang. Kerajaan ini akan dalam bahaya jika sampai itu terjadi."


"Kalian semua tenanglah." Prabu Maharaja Kencana Biantara mencoba untuk menenangkan mereka semua. "Janganlah menimbulkan perpecahan di antara kita. Aku mau carilah jalan keluar yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Kita pikirkan bersama-sama bagaimana jalan keluar yang baik untuk masalah yang berat ini."


Untuk sesaat mereka terdiam untuk memikirkan hal baik apa yang akan mereka lakukan kepada Raden Surya Biantara. Mereka pada saat itu mengusulkan hukuman yang tidak bisa diganggu gugat lagi?.


"Hukuman yang pantas untuk Raden Surya Bintara hanyalah hukuman mati."


"Ya, hukum pancung Raden surya biantara!. Karena dia telah melakukan pembunuhan yang sangat kejam!."


"Hukum mati saja raden surya biantara!."


"Hukum pancung Raden surya biantara!."


Suasana pertemuan itu sangat mencemaskan karena mereka semua meminta hukuman mati untuk Raden Surya Biantara?. Suasana pada saat itu benar-benar panas karena mereka telah sepakat untuk memberi hukuman pancung kepada Raden Surya Biantara. Lalu bagaimana dengan tanggapan Prabu Maharaja Kencana Biantara yang mendengarkan ucapan mereka semua?.


...***...


Di penjara istana.

__ADS_1


Putri Aswaja Rahayu Dewi saat itu sedang menemui Raden Surya Biantara yang sama sekali tidak peduli dengan kedatangannya.


"Sungguh kasihan sekali kau Raden. Orang terhormat seperti kau malah masuk di tempat yang salah."


"Kau tidak usah merasa kasihan kepadaku. Aku sama sekali tidak peduli dengan rasa kasihanmu itu."


"Ayolah Raden. Jangan terlalu memaksakan diri." Terlihat senyuman manis yang menghiasi wajahnya. "Aku datang ke sini untuk membebaskanmu dari hukuman."


"Tidak perlu, tidak usah."


"Hahaha!. Kau terlihat sangat manis sekali jika merajuk seperti itu."


"Pergilah!. Aku sama sekali tidak ingin berbicara denganmu." Raden Surya Biantara mengusir Putri Aswaja Rahayu Dewi. "Aku yakin kau hanya akan mengacau saja. Pergilah sebelum aku mengamuk di penjara ini." Ucapnya lagi. Ia tidak ingin bertemu dengan siapapun kecuali ibunda dan adiknya.


"Aku datang ke sini untuk mengatakan kepada Raden." Dengan penuh ketenangan ia berkata seperti itu. "Apakah Raden tidak mengetahui sama sekali?. Bahwa rakyat yang mendengar kabar tentang apa yang telah raden lakukan di desa lempung pasa?. Itu dapat membangkitkan gejolak amarah di hati rakyat." Senyum hanya saat itu terlihat sangat menyeramkan. "Mereka menginginkan hukuman mati untuk Raden. Hm?." Bisiknya tepat di telinga Raden Surya Biantara.


Deg!.


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?." Dalam hatinya sungguh tidak percaya.


"Jangan anggap enteng kemarahan rakyat yang telah merasa kecewa terhadap petinggi istana. Apalagi Raden adalah orang yang penting di kerajaan ini." Ucapan itu seakan-akan telah memberikan pukulan yang berat kepada Raden Surya Biantara.


Tidak ada tanggapan sama sekali dari Raden Surya Biantara karena ia sangat terkejut dan tidak bisa membayangkan bagaimana amukan rakyat terhadap dirinya.


"Jadi Raden berpikirlah dengan tenang. Hanya aku yang bisa menyelamatkan Raden dari hukuman mati itu." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan ruangan penjara itu. "Heh!. Aku sangat yakin kau akan bersujud meminta bantuan kepadaku." Dalam hatinya penuh percaya diri berkata seperti itu seakan-akan Raden Surya Biantara akan memohon kepadanya untuk meminta belas kasihan.


"Jadi berita itu telah sampai kepada rakyat?." Dalam hatinya saat itu sangat bergemuruh. "Bagaimana mungkin aku bisa terjebak dalam situasi yang sangat tidak aku ketahui ini?." Dalam hatinya dapat merasakan bagaimana sakit hati yang bergejolak saat itu. "Tidak mungkin. Tidak mungkin mereka menginginkan kematianku. Aku yakin itu hanyalah ucapannya saja untuk menakuti aku." Raden Surya Biantara tertunduk, dadanya hanya merasakan sesak yang sangat dalam. Seumur hidupnya, kali ini ia telah mengalami kejadian yang sangat tidak bisa dihindari lagi. Apakah Raden Surya Biantara mampu mengatasi itu dengan baik?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...

__ADS_1


Di pertemuan rahasia.


Pada saat itu ada dua orang laki-laki yang sedang berdiskusi dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Gusti. Kabar yang hambar dengar Raden sahardaya biantara saat ini menuju desa lembung pasa. Apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita harus menghentikannya Gusti?."


"Biarkan saja dia datang ke sana."


"Tapi?. Bagaimana kalau dia mengetahui kebenaran itu Gusti?."


"Kita telah memiliki pendekar andalan yang bisa kita gunakan untuk menjebaknya. Kita suruh ketiga orang pendekar untuk membawa dua orang yang mungkin dijadikan teman untuk Raden Biantara melakukan kejahatan itu." Ia sedang memikirkan rencana terbaik untuk menghentikan Raden Sahardaya Biantara.


"Apakah rencana seperti itu akan berhasil Gusti?."


"Kita harus memikirkan cara yang cerdas, aku ini adalah orang yang sangat pintar dalam menyusun strategi." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.


"Lalu langkah selanjutnya apa Gusti?."


"Sebelum Raden Sahardaya Biantara sampai di desa itu, akan aku perintahkan seseorang untuk menemuinya. Menyampaikan pesan jika Raden surya biantara akan di hukuman mati hari ini." Jawabnya dengan sangat yakin. "Aku sangat yakin dia akan segar kembali begitu mendengarkan kabar itu."


"Pasti memang sangat luar biasa sekali. Hama sangat kagum dengan semua rencana yang harus dikatakan."


"Kalau begitu lakukan rencana yang aku katakan tadi." Perintahnya. "Aku sudah tidak tahan lagi ingin melihat bagaimana penderitaan Raden Surya Biantara sampai dia mati dengan mengenaskan." Senyumannya saat itu seperti sosok iblis yang sedang merayakan sesuatu keberhasilan yang sangat luar biasa yang pernah ia capai.


"Tentu saja Gusti." Ia memberi hormat. "Akan hamba lakukan sesuai dengan rencana yang telah Gusti kepada hamba." Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu.


"Heh!. Kita akan lihat sejauh mana dia akan bertahan." Dalam hatinya merasa bangga dengan apa yang akan dia lakukan.


Bagaimana kelanjutannya?. Next halaman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2