
...***...
Begitu sampai di istana.
Raden Surya Biantara di bawa ke penjara istana?. Apakah itu tidak apa-apa?.
"Maafkan aku Raka. Untuk sementara waktu aku terpaksa memasukkanmu ke sini." Dengan perasaan berat ia berkata seperti itu. "Untuk sementara waktu saja. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi kepada Raka sebenarnya." Suasana hatinya pada saat itu sangat kacau.
"Baiklah rayi. Aku serahkan semuanya kepadamu." Hatinya sangat sedih. "Aku tidak melakukan itu. Aku merasakan ada seseorang yang sedang mengendalikan diriku saat itu." Hanya itu saja yang ia rasakan.
"Karena itulah raka harus bersabar terlebih dahulu. Aku sangat percaya jika Raka tidak mungkin melakukan hal yang keji seperti itu." Sebagai sesama saudara tentunya ia percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh kakaknya.
"Terima kasih karena kau masih mempercayai aku Rayi." Ada perasaan haru yang ia rasakan.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jika terjadi sesuatu kepadamu, maka prajurit inilah yang akan memberitahukan kepadaku tentang dirimu Raka." Ia menunjuk salah satu prajurit yang ikut bersamanya.
"Baiklah rayi." Ada perasaan lega yang ia rasakan.
"Kau. Terus lakukan pengamanan terhadap Raden surya biantara. Jika terjadi sesuatu kepadanya segera lapor kepadaku." Itulah pesan yang ia tinggalkan pada saat itu.
"Sandika Raden." Balasnya.
Setelah itu Raden Sahardaya Biantara pergi meninggalkan penjara, karena ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk menyelidiki apa yang telah terjadi kepada kakaknya itu. Akan tetapi tak berselang lama setelah itu, Ratu Saraswati Tusirah masuk ke dalam penjara untuk melihat bagaimana keadaan anaknya. Tangisnya pecah begitu saja melihat anaknya yang dalam keadaan terluka.
"Putraku surya biantara." Rasanya itu tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang seperti itu.
"Ibunda." Raden Surya Biantara juga menangis ketika melihat ibundanya.
"Prajurit. Aku mohon bukalah penjara ini sebentar saja. Aku hanya ingin melihat keadaan anakku." Dengan sangat memohon ia berkata seperti itu.
"Sandika Gusti Ratu." Tentu saja prajurit itu tidak tega melihat air mata yang jatuh di pipi Ratu Saraswati Tusirah.
"Putraku." Ia peluk anaknya dengan sangat erat ketika ia telah berhasil mendekap anaknya.
__ADS_1
"Ibunda." Raden Surya Biantara tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia peluk ibundanya dengan sangat eratnya. Suasana hatinya saat itu sangat kacau setelah mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.
...***...
Di istana utama.
Ada tiga orang prajurit yang melapor?.
"Mohon ampun Gusti Prabu. Kami telah berhasil membawa Raden surya biantara." Begitulah ucap salah satu dari mereka.
"Lalu di mana ia berada sekarang?." Tentu saja Prabu Maharaja Kencana Biantara menanyai keberadaan anaknya.
"Untuk saat ini Raden surya biantara berada di penjara." Jawabnya lagi.
"Itu semua karena saran dari raden sahardaya biantara, Gusti Prabu." Lanjut temannya.
"Kalau begitu kalau perketat penjagaan penjara. Jangan sampai ada satupun orang yang bisa membebaskan dia. Ataupun dia bisa membebaskan diri dari penjara." Itulah perintah sang Prabu.
"Sandika Gusti Prabu."
...***...
Di kediaman Patih Reswara Pradipta.
Saat itu ada seorang prajurit yang masuk ke kediamannya.
"Hormat hamba Gusti Patih." Ia memberi hormat.
"Ada apa prajurit?. Apakah kau mau berita yang baik untukku?." Dari surat matanya yang tajam itu ia seakan-akan ingin mendengarkan sesuatu yang menggembirakan.
"Ada Gusti." Jawabnya.
"Katakan." Balasnya.
__ADS_1
"Raden surya biantara telah berhasil ditangkap. Dan saat ini ia sedang berada di penjara." Jawabnya lagi.
Untuk sesaat Patih Reswara Pradipta terdiam, ya sedang meresapi suasana hatinya yang sangat gembira mendengarkan kabar itu. "Kalau begitu kau pergilah bertugas kembali. Sebentar lagi aku akan ke sana." Hanya seperti itu saja yang ia ucapkan.
"Sandika Gusti Patih." Dengan patungnya prajurit itu segera melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Patih Reswara Pradipta.
"Apakah kau bisa mendengarkan dengan baik itu?. Putriku yang paling aku cintai?." Dengan senyuman yang manis ia melihat ke arah anaknya yang terlihat sangat bahagia dengan kabar itu.
"Tentu saja ayahanda." Putri Aswaja Rahayu Dewi tersenyum penuh kemenangan. "Kenapa tidak sekarang saja kita pergi ke istana ayahanda?. Tentunya kita akan membuat sandiwara permainan yang sangat indah untuk memperkeruh suasana istana yang bisa meledak karena ucapan kita." Ia tidak sabar lagi dengan apa yang akan dia lakukan.
"Tenanglah anakku. Aku yakin kabar mengenai perbuatan Raden surya biantara telah sampai ke telinga rakyat." Senyumannya mengembang begitu saja ketika memikirkan sesuatu yang membuat ia merasa tertarik. "Kita sebarkan gejolak kemarahan rakyat terhadap Raden surya biantara. Aku yakin mereka akan memberikan saran hukuman mati kepada prabu maharaja kencana biantara." Dengan senyuman iblis ia berkata seperti itu.
Putri Aswaja Rahayu Dewi sedang memikirkan apa yang telah dikatakan oleh ayahandanya. "Apa yang ayah anda katakan itu sangat benar. Kita harus meracuni pikiran rakyat untuk meminta hukuman mati kepada Gusti Prabu." Ia sangat setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh ayahandanya. "Aku sangat yakin jika Gusti Prabu tidak akan pernah menolak permintaan dari rakyat." Setidaknya itulah yang ia rasakan.
...***...
Di penjara.
Dengan hati-hati Ratu Saraswati Tusirah membersihkan luka yang ada di tubuh anaknya. Hatinya sangat hancur ketika melihat kondisi anaknya yang seperti itu.
"Kegh!." Raden Surya Biantara sedikit meringis ketika ia merasakan luka yang disentuh oleh ibundanya.
"Maafkan ibunda tidak sengaja. Sungguh!." Hatinya sangat sedih ketika melihat anaknya meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa ibunda." Raden Surya Biantara mencoba untuk menguatkan dirinya agar tidak terlihat lemah di hadapan ibundanya.
"Kai harus kuat putraku. Saat ini kau sedang diuji oleh Dewata yang agung. Ibunda sangat percaya jika itu bukanlah kesalahanmu." Dengan perasaan yang sangat sedih ia mencoba untuk menguatkan anaknya.
Raden Surya Biantara menggenggam kuat kangen ibundanya untuk mencari ketegaran hati di sana. "Terima kasih karena ibunda selalu mempercayai apa yang telah ananda lakukan." Ia cium tangan ibundanya dengan penuh kasih sayang. "Maaf jika apa yang telah ibunda dengar, membuat hati ibunda sangat sedih." Tentu saja ia merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibundanya dengan kabar yang beredar tentang dirinya.
"Ibunda akan selalu percaya dengan apa yang nanda lakukan." Ia usap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Walaupun pada saat itu hatinya sangat hancur melihat keadaan anaknya yang terluka parah. "Ibunda akan selalu bersamamu. Ibunda tidak akan pernah pergi meninggalkanmu." Sebagai seorang ibu yang mencintai anaknya, tentulah itu janji hidup dan mati yang ia ucapkan. Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah menimpa anaknya itu.
Next halaman.
__ADS_1
...***...