BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 21


__ADS_3

...***...


Malam telah larut, akan tetapi pada saat itu Nini Kemuning masih belum bisa memejamkan matanya. Saat itu ia sedang duduk di serambi depan pondok gubuk kecilnya dengan tatapan yang sangat jauh.


"Aku masih penasaran bagaimana mungkin ada orang agung, seorang wanita agung memiliki senjata yang sangat berbahaya seperti itu jika tidak memiliki tujuan yang sangat berbahaya pula?." Dalam hatinya tidka bisa tenang dengan pedang iblis kegelapan yang berada di tangan Putri Aswaja Rahayu Dewi. "Apakah mungkin sebenarnya dia adalah orang jahat yang selama ini berpura-pura terlihat sangat baik demi menjaga isi hatinya selama ini?." Tiba-tiba saja terbesit di dalam pikirannya yang seperti itu mengingat bagaimana raut wajah Putri Aswaja Rahayu Dewi ketika ia membawa kabur Raden Surya Biantara?. "Apakah dia adalah salah satu dari orang yang ingin menyingkirkan Raden surya biantara dari istana?. Karena ia ingin menguasai istana?." Pikirannya semakin jauh mengingat apa tujuan dari penggunaan pedang iblis kegelapan.


"Apa yang sedang nini pikirkan?. Tatapan nini sangat jauh sekali."


Deg!.


Nini Kemuning sedikit terkejut ketika ia mendengarkan suara seseorang yang menyapa dirinya dari sampingnya?.


"Raden surya biantara?." Ia tidak menduga akan melihat pemuda itu dengan penampilan setengah mengantuk?. "Sebaiknya kau istirahat saja. Besok aku akan memberikan latihan yang cukup berat padamu."


"Apa?."


"Jangan banyak mengeluh, dan jangan merengek. Karena aku tidak suka dengan sikap lelaki yang seperti itu."


"Kau ini berniat membantuku atau berniat untuk menyiksa aku nini?." Dalam hati Raden Surya Biantara sangat ngeri dengan tatapan yang sangat mematikan dari Nini Kemuning yang seakan-akan hendak memakan tubuhnya dalam keadaan hidup.


"Jika kau telah menguasai ilmu yang dapat membuatmu kebal terhadap serangan hawa kegelapan, maka akan aku ceritakan satu hal yang menurutmu adalah hal yang sangat mustahil."


Untuk sesaat Raden Surya Biantara terdiam. "Sepertinya nini kemuning mengetahui sesuatu. Tapi apa itu?." Dalam hatinya sangat sulit untuk menebak apa yang akan disampaikan Nini Kemuning padanya. "Akan aku usahakan dapat mempelajarinya." Hanya itu yang dapat ia katakan saat itu.


...***...


Di hutan yang sangat sepi. Tepatnya di sebuah gubuk kecil di mana Gondaria bersama gadis ayu.

__ADS_1


"Aku menghadapi lawan ahli racun yang dapat menghilangkan jejaknya dengan menggunakan racun. Apakah kau bisa membantu aku untuk menemukan jejaknya?."


"Kenapa kau tidak gunakan hewan yang dapat mendeteksi racun?."


PLAK!.


Gondaria sangat kesal dengan apa yang telah dikatakan gadis ayu atau namanya adalah Rimbang, nama yang sangat aneh yang diberikan Gondaria pada gadis ayu itu.


"Kenapa kau malah menggunakan kekerasan padaku kakang?. Kau ini sangat kejam sekali!." Dengan sangat kesalnya Rimbang melempari Gondaria dengan sebuah gelas bambu yang tak jauh darinya. "Kau selalu saja meminta bantuan padaku di saat genting saja!. Apakah kau tidak bisa datang dengan keadaan yang lebih santai lagi?." Hatinya sangat kesal mengingat alasan apa saja yang membuat lelaki yang ia anggap adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya itu akan bersikap berbeda padanya.


"Baiklah, jika kau memang ingin aku datang dalam keadaan yang sangat santai?. Aku akan membawamu kehidupan kota raja. Supaya kau mengetahui aku ini siapa." Tatapannya begitu kosong. "Aku hanya tidak ingin kau melihat aku membunuh banyak manusia seperti sedang memburu kelinci lucu di hutan. Aku ini adalah seorang pembunuh yang sadis. Apakah kau memang ingin melihat aku yang seperti itu?. Maka dengan senang hati aku akan mengajakmu."


Deg!.


Rimbang hampir saja menangis mendengarkan ucapan itu. "Aku tahu kau adalah pembunuh, sama seperti yang kau lakukan waktu itu." Ia sedang menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. "Aku dapat melihat bagaimana kau membunuh mereka semua yang saat itu ingin membunuh aku." Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan apa yang telah menghimpit dadanya.


Kembali ke masa itu.


Pada saat itu ada seorang perdana menteri yang memintanya untuk membuatkan racun yang sangat ganas. "Dia mengatakan untuk meleburkan batu, tapi kenapa dia malah menggunakan racunku untuk melelehkan tubuh raja busuk itu?." Dalam hatinya sangat panik ketika mengetahui itu. "Kenapa malah aku yang dijadikan dalang pembunuhan itu hanya karena permintaan itu?." Hatinya sangat sesak, ia tidak salah apa-apa. "Perdana mentri itulah yang seharusnya dihukum mati!. Bukan aku!." Dengan penuh amarah ia mencoba untuk menyuarakan itu.


Deg!.


Akan tetapi pada saat itu ia sangat terkejut karena di depannya saat ini ada banyak prajurit yang ternyata telah menunggunya dengan anak panah.


"Sial!. Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat panik.


"Hei!. Nini yang ada di sana!. Sebaiknya kau menyerahkan diri!. Percuma saja kalau kau melarikan diri karena kau telah kami kepung."

__ADS_1


"Tidak!. Aku tidak bersalah sama sekali!. Jadi kalian tidak berhak membunuh aku!."


Senopati agung itu sangat kesal mendengarkan apa yang telah dikatakan gadis ayu yang bernama Rembulan Kasih. "Kau lah yang telah membuatkan racun berbahaya itu!. Kau yang telah menjual barang berbahaya itu kepada musuh Raja!. Dan kau masih mengatakan itu bukan salahmu?. Kau jangan bercanda padaku!." Amarahnya saat itu benar-benar sangat memuncak mendengarkan itu. Hingga saat itu ia berlari dengan kekuatan yang sangat cepat, ia berniat untuk menebas leher gadis ayu dengan pedang yang ia gunakan?. Akan tetapi pada saat itu ada seseorang yang menahan pedangnya, sehingga ia sangat terkejut.


"Bajingan busuk!. Kunyuk busuk!. Setan belang!. Berani sekali kau ikut campur dengan masalah yang sedang kami hadapi!."


"Kau boleh saja mengumpat dengan mulut busuk mu itu. Tapi aku tidak akan membiarkan kau membunuh gadis ayu hanya karena tugas yang kau emban."


"Baik!. Kalau begitu kau dulu yang aku bunuh!. Supaya aku bisa menyeret pembunuh busuk itu ke dalam istana!." Ia tidak dapat lagi menahan amarahnya yang terlanjur memuncak.


"Kalau begitu keluarkan kemampuan yang kau miliki." Pendekar asing itu terlihat sangat percaya diri.


Saat itu terjadilah pertarungan yang tidak bisa dihindari lagi. Mereka saling menyerang satu sama lain untuk mempertahankan apa yang menurut mereka saat itu adalah sebuah kebenaran.


"Kalian semua jangan ragu untuk melepaskan anak panah!. Tembak saja!." Perintah Senopati agung dengan suara yang sangat keras, dan mereka hanya mengikuti apa yang telah diperintahkan pada mereka.


Malam itu adalah malam berdarah yang sangat menyeramkan, malam berdarah di mana seratus orang prajurit terkuat di sebuah kerajaan dikalahkan dengan sangat mudahnya oleh seoang pendekar yang haus akan kekuasaan kekuatan.


Kembali ke masa ini.


"Aku sangat ingat itu, dan kau tidak usah mengingatkan aku." Gondaria bangkit dari duduknya. "Aku akan keluar mencari angin segar."


"Memangnya angin di sini tidak ada yang segar?!."


"Kau istirahatlah!. Atau kau memang ingin aku serang."


"Heh!. Terserah kau saja!." Rimbang sangat kesal dengan sikap Gondaria yang seperti itu.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau dimanfaatkan oleh patih busuk itu." Dalam hatinya sangat kesal jika mengingat itu semua. "Cukup aku saja yang dia jadikan sebagai alat untuk membunuh siapa saja yang tidak ia sukai. Aku tidak ingin kau digunakan patih serakah itu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan." Gondaria sangat takut jika itu yang akan terjadi. Karena selama ini ia tidak pernah menyinggung masalah Rimbang pada Patih Reswara Pradipta. "Kau akan semakin menderita jika mengetahui kau memiliki kemampuan racun yang sangat berbahaya. Aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama seperti saat itu." Dalam hatinya masih ingat ketika gadis ayu yang telah ia tolong saat itu sangat ketakutan setelah mengetahui racunnya digunakan untuk apa.


...***...


__ADS_2