BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 22


__ADS_3

...****...


Raden Surya Biantara sedang serius latihan, kali ini ia mempelajari jurus yang dapat menghalangi kekuatan kegelapan yang diakibatkan oleh tebasan pedang iblis kegelapan.


"Aku harus menyiapkan segala kemungkinan yang akan didapatkan Raden surya biantara jika bertemu dengan wanita jahat itu." Dalam hatinya memikirkan jurus, dan senjata yang cocok untuk menghadapi Putri Aswaja Rahayu Dewi. "Wanita jahat itu, aku yakin dia ingin menguasai kerajaan ini. karena itulah dia memiliki pedang itu." Dalam hatinya memikirkan alasan yang tepat kenapa pedang berbahaya itu bisa berada di tangan seorang wanita. "Tapi aku tidak akan diam saja, karena pedang itu harusnya menjadi milikku, tapi dia malah mencurinya dari guruku." Dalam hatinya masih belum bisa menerima atas apa yang telah terjadi pada saat itu. "Aku tidak akan mengampuni wanita jahat yang telah berani mencuri pedang iblis milik guruku di saat aku tidak ada di dalam padepokan saat itu." Itulah alasan kenapa ia sangat dendam pada Putri Aswaja Rahayu Dewi.


"Aku telah menyelesaikan semua gerakan nini."


Deg!.


Nini Kemuning sangat terkejut dengan suara Raden Surya Biantara yang mengalihkan dunia lamunannya.


Duak!.


"Kegh!. Sakit!." Raden Surya Biantara meringis sakit ketika kepalanya mendapatkan sebuah jitakan yang sangat keras.


"Jangan mengganggu aku yang sedang berpikir."


"Seram sekali." Dalam hati Raden Surya Biantara sangat takut ketika melihat tatapan yang mengerikan dari Nini Kemuning. "Maafkan aku." Hanya itu saja yang dapat ia keluarkan dari mulutnya saking takutnya pada Nini Kemuning.


"Kalau begitu kau akan aku hukum dengan latihan yang lebih ketat lagi. Jika kau gagal?. Aku pasti akan mencambuk tubuhmu sampai kau berhasil mempelajari jurus itu."


"Demi dewata yang agung. Rasanya aku sedang melihat iblis yang sedang menyeramkan bersemayam di dalam tubuh wanita yang seakan-akan hendak menyiksa aku daripada membantu aku balas dendam." Dalam hatinya tidak bisa membantah sama sekali.


...***...

__ADS_1


Raden Sahardaya Biantara kali ini telah sampai di sebuah tempat yang sangat asing.


"Aku rasa aku tidak berada di kawasan yang dipimpin oleh ayahanda prabu. Karena tempat ini terasa sangat asing sekali bagiku. Dan lagi, logat mereka berbicara agak aneh." Setidaknya itulah yang ia rasakan saat itu. "Lalu apa yang harus aku lakukan dengan ini semua?. Aku belum bisa menemukan keberadaan raka surya biantara. Sejauh mana sebenarnya ia melarikan diri?." Dalam hatinya masih bingung dengan itu semua.


Namun pada saat itu ia melihat ada seorang wanita yang diperlakukan sangat kasar oleh beberapa orang prajurit. Wanita itu terlihat sangat kesakitan karena perlakukan mereka, dan terlebih lagi?.


"Hei!. Apa yang telah kalian lakukan padanya?." Raden Sahardaya Biantara merasa sangat kasihan pada wanita itu. "Mereka hanya melihat saja apa yang telah dilakukan para prajurit itu pada seorang wanita yang sedang hamil?." Dalam hatinya sangat miris dengan apa yang terjadi pada wanita cantik itu.


"Sepertinya kau bukan orang sini. Gaya bicaramu sangat berbeda dengan kami. Apakah kau orang baru di sini?." Suaranya terdengar lebih keras dari gaya bicara orang pada umumnya.


"Aku memang orang baru di sini. Tapi aku mohon jangan siksa dia." Raden Sahardaya Biantara menarik tangan wanita itu agar berlindung di belakang punggungnya.


"Hei!. Apakah kau mengerti arti dari melindungi wanita yang hamil tanpa ada yang mengakui laki-laki mana yang telah menodainya?."


"Artinya kau telah siap menjadi ayah bagi anak itu!."


Deg!.


Raden Sahardaya Biantara sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh salah satu prajurit itu. Apakah memang seperti itu yang terjadi di suatu wilayah?.


...***...


Di kediaman Patih Reswara Pradipta.


"Ke mana gondaria?. Kenapa dia sangat lama sekali kembali?. Apakah mencari keberadaan Raden surya biantara membutuhkan waktu yang sangat lama?." Ia terlihat sangat kesal karena menunggu terlalu lama.

__ADS_1


"Tenanglah anakku. Para pendekar yang akan mengatasinya. Dan kita harus siap-siap untuk semuanya. Setelah kita selesai, maka kita akan mendapatkan apa yang harus kita lakukan selama ini." Dengan semangat yang sangat membara ia sedang memikirkan cara untuk mendapatkan negeri yang selama ini mereka impikan.


"Tapi rasanya jika kita lakukan sekarang tidak apa-apa ayahanda. Lagi pula kita tidak perlu takut pada Raden surya biantara yang tidak memiliki keberanian apa-apa dalam melawan."


"Tapi dia memiliki sekutu. Aku sangat yakin dia sebenarnya menyembunyikan sesuatu pada kita."


"Ayahanda benar juga, kita tidak boleh lengah hanya karena dia terlihat sangat lemah."


"Lagipula, selama ini kita telah berhasil mengambil alih setengah dari kekuasaan kerajaan ini. Kita hanya membutuhkan waktu yang tepat saja untuk mengambil alih kerajaan ini."


"Ya, ayahanda benar sekali."


Selama ini mereka memang berencana untuk mengambil alih kerajaan dengan menciptakan beberapa keributan yang mereka buat, dan mereka pula yang menyelesaikan masalah itu. Sungguh pemikiran yang aneh sebenarnya, tapi dengan cara itu mereka berhasil memenangkan hati Raja. Lalu apalagi yang akan mereka lakukan setelah ini?.


...***...


Di Istana.


Saat itu Prabu Maharaja Kencana Biantara sedang melakukan semedi, suasana hatinya sangat gelisah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak sulungnya.


"Sang hyang widhi, hamba hanya meminta kepadamu berikan hamba petunjuk atas apa yang telah dilakukan putra hamba Raden surya biantara." Dalam doanya ia hanya ingin melihat kebenaran apa yang terjadi sebenarnya. "Putra hamba Raden surya biantara bukanlah sosok yang akan membunuh seseorang tanpa alasan. Hamba melihat sendiri bagaimana perasaan cintanya pada anak dan istrinya. Tapi bagaimana mungkin dengan sangat sadisnya ia membunuh anak dan istrinya?." Dalam hatinya memang merasakan hal yang sangat ganjal dari apa yang telah terjadi di desa lembung pasa. "Apa yang salah sebenarnya dari itu semua?. Apakah ada seseorang yang mencoba untuk membuat anak hamba dalam masalah?." Ia masih percaya jika anaknya tidak akan mungkin melakukan kesalahan yang sangat fatal itu. "Apa yang harus hamba lakukan dengan tu semua?. Berikan hamba kekuatan untuk memutuskan itu semua." Dalam hatinya hanya berharap bisa melakukan hal yang benar. "Sebagai seorang Raja, dan sebagai seorang ayahanda dari Raden surya biantara. Berikan hamba kekuatan hati untuk memutuskan itu semua tanpa menyakiti pihak manapun." Hatinya sangat sedih karena belum bisa memutuskan hal yang baik. "Hamba hanya meminta jalan terbaik dari masalah ini."


Ya, sebagai seorang Raja ia harus memutuskan tindakan apa yang akan ia lakukan untuk seorang petinggi istana yang telah melakukan kejahatan, dan sebagai seorang ayah?. Tindakannya harus tepat untuk menguatkan hatinya. Kehilangan anak dan petinggi istana?. Apakah sanggup untuk memutuskannya?.


...****...

__ADS_1


__ADS_2