
...***...
Pagi itu adalah pagi yang sangat menyeramkan yang terjadi di halaman istana. Karena rakyat telah mendesak keluarga istana untuk memberikan hukuman mati untuk Raden Surya Biantara. Pagi menjelang siang itu? Mereka semua telah mendesak untuk masuk ke dalam istana. Sementara itu di ruang utama Istana.
"Kenapa gerbang istana seperti hendak mau pecah karena suara teriakan mereka?."
"Apakah raka Prabu tidak bisa mendengarkan teriakan suara mereka yang menginginkan hukuman mati untuk putramu?" Prabu Adinegara Prabeswara yang menjawab itu. Hatinya masih belum bisa menerima itu semua. "Mereka semua sangat murka, atas apa yang telah ia lakukan." Lanjutnya. "Mereka akan meruntuhkan istana ini, jika raka masih belum mau memberikan hukuman pada putra raka."
"Aku pasti akan memberinya hukuman, tapi tunggulah-."
"Tunggu sampai mereka semua mengamuk?." Sangkalnya. "Raka Prabu, sebagai seorang raja harus segera memutuskan itu jangan terlalu lama menunda hal yang sangat penting."
"Baiklah. Jika memang seperti itu." Dengan sangat berat hati ia mengiyakan ucapan itu. "Jika memang ini akan menghentikan kemarahan rakyat?. Maka akan aku lakukan." Hatinya sangat sesak ketika mengatakan itu. "Katakan padaku. Jika kau yang akan menjadi algojo hukuman pancung, aku serahkan padamu rayi." Prabu Maharaja Kencana Biantara mencoba untuk menekan perasaan sakit mendesak dadanya.
"Baik raka." Prabu Adinegara saat itu juga sedang berusaha untuk menguatkan hatinya untuk tetap tabah menghadapi itu semua.
Setelah itu keduanya menuju ruang penjara, mereka telah berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa itu adalah keputusan yang sangat benar, keputusan yang nantinya tidak akan membawa penyesalan dalam hidup mereka nantinya.
...***...
Di Sebuah tempat pertemuan?.
Pada saat itu mereka sedang menerima hasil yang sangat memuaskan, karena apa yang mereka lakukan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun sebelumnya.
"Apakah kalian telah membuat rakyat melakukan aksi penyerangan pada pihak istana?. Bahwa mereka peminta hukuman mati untuk Raden surya biantara?."
"Tentu saja gusti putri. Mereka sangat brutal sekali. Bahkan dari apa yang hamba lihat?. Mereka hampir saja menyerang prajurit yang mencoba untuk mengamankan mereka."
"Itu adalah kabar baik yang ingin aku dengar. Rasanya aku tidak sabar lagi ingin mendengarkan kabar yang lebih luar biasa lagi."
"Bagaimana jika Gusti putri datang ke Istana saja?. Untuk mengetahui apakah ia masih hidup, atau sudah tewas sebelum hukuman pancung itu terjadi?."
__ADS_1
"Benar Gusti Putri, Anggap saja Sedang cuci mata, cuci hati, untuk melihat bagaimana Raden surya biantara menerima hukuman pancung?.
"Anggap saja itu adalah kenang-kenangan terakhir bagi Gusti Putri sebelum Raden surya biantara dikubur jenazahnya."
"Kalian ini anak buah yang sangat kurang ajar. Berani sekali kalian mengejek aku." Ucapnya dengan nada yang sangat kesal, ia terlihat merajuk.
Mereka Semua malah tertawa mendengarnya, seakan-akan pada saat itu tidak ada lagi batas diantara mereka saat itu. Hanya ada satu rasa yang ada di dalam hati mereka, yaitunya menunggu kabar bahagia dari istana mengenai kematian Raden Surya Biantara.
...**...
Di penjara istana.
Makan suasana di penjara istana terdengar suara keributan. Suasana hati mereka sedang sangat panas tidak ada satupun dari mereka yang memiliki hati yang dingin.
"Ayahanda prabu?." Raden Surya Biantara sangat terkejut melihat Prabu Adinegara Prabeswara.
"Jangan panggil aku ayahanda prabu, jika kau telah melakukan hal yang sangat keji kepada anak dan cucuku."
"Diam kau surya biantara!. Aku pasti akan memberikan hukuman mati padamu!. Atas apa yang telah kau lakukan!."
"Ayahanda prabu. Saya mohon, berikan kesempatan kepada saya untuk membuktikan, jika saya tidak melakukan kesalahan itu. Tapi saya dijebak oleh seseorang untuk melakukan itu."
"Diam kau!." Ia cabut keris yang ada di belakang pinggangnya. "Jika kau masih saja ingin berkilah atas apa yang kau lakukan?. Maka aku sendiri yang akan membunuhmu di sini!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Prajurit!. Ikat, dan bawa Raden surya biantara ke alun-alun istana. Di sana dia akan menerima hukuman pancung."
Deg!.
Raden Surya Biantara sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. Hatinya sangat bergemuruh mendengarkan ucapan ayahandanya Prabu Maharaja Kencana Biantara.
"Ayahanda prabu!." Raden Surya Biantara tidak menduga akan mendengarkan ucapan menyakitkan dari ayahandanya?.
__ADS_1
Sementara itu di Kaputren.
Ratu Saraswati Tusirah telah mendengarkan keributan yang tidak biasa dari halaman istana. Hatinya sangat sedih mendengarkan teriakan itu, mereka yang menyuarakan hukuman mati untuk anaknya.
"Dewata yang agung. Aku harus ke sana, aku takut terjadi sesuatu pada anakku." Dalam hatinya sangat takut, jika anaknya akan mengalami hal yang tidak diinginkan sama sekali. Dengan langkah yang sangat cepat ia menuju penjara Istana. "Dewata yang agung, hamba mohon selamatkan anak hamba dari sifat buruk manusia yang ingin menjatuhkannya." Dalam hatinya tak henti-hentinya berdoa seperti itu.
Di saat yang bersamaan, Patih Reswara Pradipta saat itu datang bersama anaknya, tentu saja mereka juga ingin melihat, apakah benar Raden Surya Biantara akan menjalani hukuman mati.
"Bagaimana dengan pendapat ayahanda tentang itu?."
"Ayahanda sangat yakin, jika ia akan mendapatkan hukuman mati." Jawabnya dengan senyuman lebar. "Apakah kau tidak melihat bagaimana amukan itu?."
"Tentu saja ayahanda."
Dan saat itu pula mereka melihat ada beberapa orang prajurit istana yang mengurung Raden Surya Biantara yang sedang dipasung tangannya.
"Lihatlah ayahanda. Sepertinya memang dilaksanakan hari ini."
"Ayahanda tidak akan pernah salah dalam berbicara." Matanya melihat apa yang telah terjadi di depannya saat itu juga.
Sedangkan Raden Surya Biantara berusaha untuk membebaskan dirinya dari hukuman itu, namun sayangnya ia sama sekali tidak dapat melakukan itu. Di sisi lainnya, rakyat yang telah mendesak ingin masuk?. Mereka langsung menyerbu masuk dengan kekuatan yang tidak bisa dibendung lagi oleh prajurit istana. Sehingga mereka masuk tanpa adanya hambatan sama sekali.
"Berikan hukuman mati untuk Raden surya biantara!." Teriak mereka dengan suara yang sangat keras.
"Hukum mati Raden surya biantara!." Teriak mereka lagi.
"Oh!. Dewata yang agung. Apakah ini adalah akhir dari hidup hamba?." Dalam hati Raden Surya Biantara sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Hatinya sangat sakit mendengarkan teriakan mereka yang menginginkan kematiannya?.
"Tidak!. Jangan!. Jangan lakukan itu!." Ratu Saraswati Tusirah terlihat sangat terpukul hatinya melihat keadaan anaknya saat itu. "Aku mohon jangan lakukan itu kanda." Dengan berlinang air mata ia memohon kepada suaminya agar tidak melakukan itu.
"Ibunda." Raden Surya Biantara sangat sedih melihat keadaan ibundanya yang seperti itu. "Ibunda." Rasanya ia tidak sanggup melihat ibundanya yang membela dirinya yang sedang mengalami kesulitan.
__ADS_1
...***...