BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 16


__ADS_3

...***...


Gondaria baru saja berhasil menemukan Putri Aswaja Rahayu Dewi yang sedang kesakitan karena ia tidak bisa bergerak.


"Gusti Putri."


"Bawa aku dari sini."


"Sandika Gusti." Gondaria mencoba untuk menggendong Putri Aswaja Rahayu Dewi yang sedang lemah tak berdaya. "Maaf jika hamba telah lancang menggendong Gusti Putri seperti ini." Ia sangat gugup karena untuk pertama kalinya ia menggendong seorang wanita terhormat seperti itu.


"Jangan banyak bicara kau gondaria. Aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang mendera tubuhku."


"Baik Gusti."


Setelah itu ia membawa Putri Aswaja Rahayu Dewi pergi dari sana. Ia tidak menduga jika ada seseorang yang memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam melumpuhkan orang lain.


"Jika aku bertemu dengannya aku harus berhati-hati. Sepertinya dia memiliki keahlian yang sangat meresahkan." Dalam hati Gondaria sangat tidak menduga sama sekali.


...***...


Sementara itu di Istana.


Cukup memakan waktu yang agak lama untuk mereka bergerak kembali bergerak karena racun yang melumpuhkan syaraf mereka hilang sampai malam hari?. Prabu Maharaja Kencana Biantara dan Prabu Adinegara Prabeswara baru saja bisa bergerak setelah mendapatkan bantuan dari tabib istana yang mengetahui cara mengatasi racun itu.


"Sungguh racun yang sangat mengerikan. Siapa orang itu?." Prabu Maharaja Kencana Biantara sangat kesal dengan racun ganas itu?.


"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini raka Prabu?. Orang itu telah berhasil membawa surya biantara ketika hendak aku penggal kepalanya." Hatinya masih panas dengan itu.


"Kita harus segera mencari keberadaannya. Tentunya dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan, dan dia tidak akan lari dari kerajaan ini."

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus mengerahkan banyak prajurit, menyebarkan berita ini kepada rakyat dan siapa saja yang menemukan keberadaannya." Prabu Adinegara Prabeswara belum puas sebelum ia berhasil memenggal kepala Raden Surya Biantara. "Akan aku berikan hadiah yang sangat besar kepada siapa saja yang berhasil menangkapnya dalam keadaan hidup atau mati!." Lanjutnya dengan penuh kemarahan yang sangat luar biasa.


"Aku sangat mengutuk atas apa yang telah ia lakukan. Mungkin saja dia memang masih memiliki komplotan untuk melakukan perbuatan yang sangat hina di luar sana tanpa aku ketahui." Prabu Maharaja Kencana Biantara sudah tidak memiliki rasa simpati lagi pada anaknya. "Jika dia tertangkap dalam keadaan hidup?. Maka aku sendiri yang akan membunuhnya." Ia sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa, sehingga ia tidak peduli lagi pada anaknya. "Berani sekali dia melempari aku dengan kotoran yang sangat memalukan seperti itu."


Apakah yang akan dilakukan Prabu Maharaja Kencana Biantara pada anaknya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di Kaputren, tepatnya di bilik Ratu Saraswati Tusirah yang saat itu masih menangis karena ia sangat takut mendengar kabar buruk tentang anaknya?. Akan tetapi pada saat itu seorang emban masuk ke biliknya dengan membawakan makanan dan minuman seperti biasanya.


"Hormat hamba Gusti Ratu." Ia memberi hormat.


"Bawa saja makanan itu kembali. Biarkan saja aku mati kelaparan di sini." Ia membelakangi emban itu. "Tidak ada gunanya aku hidup jika anakku mati." Ia tidak dapat lagi menahan tangisnya. Dadanya terasa sangat sesak sambil membayangkan anaknya yang meninggalkan dirinya dalam keadaan menderita. "Aku ingin mati menyusul anakku." Hatinya sangat hancur karena membayangkan anaknya pergi meninggalkan dirinya dengan cara yang sangat mengenaskan.


Emban tersebut tersenyum kecil, ia memaklumi apa yang telah dikatakan Ratu Saraswati Tusirah yang sangat terpukul atas apa yang menimpa anaknya. "Mohon ampun Gusti Ratu. Raden surya biantara putra Gusti Ratu telah dibawa oleh seseorang, sehingga hukuman mati itu tidak bisa dilaksanakan."


Deg!.


"Itu sangat benar Gusti Ratu. Bahkan Gusti Prabu saat ini sedang dirawat di ruang pengobatan karena sempat mangalami kelumpuhan akibat serangan dari musuh." Meskipun Ratu Saraswati Tusirah tidak mengatakan apa-apa, tapi emban itu sepertinya mengerti dari raut wajah Ratu Saraswati Tusirah yang berkata seperti itu.


"Syukurlah jika memang anakku surya biantara masih hidup. Aku akan membakar dupa untuk orang baik yang telah menyelamatkan hidup anakku." Dalam hati Ratu Saraswati Tusirah sangat bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan malam itu.


...***...


Di sebuah rumah yang sangat sederhana.


Perlahan-lahan ia membuka matanya untuk menemukan kembali kesadarannya yang sempat hilang. Akan tetapi pada saat itu ia merasa sangat pusing yang sangat luar biasa, apa lagi perutnya juga terasa sangat lapar sehingga ia tidak sanggup untuk bergerak.


"Oh?. Syukurlah jika Raden telah sadar." Suara seorang wanita yang sangat cantik menyapa gendang telinganya.

__ADS_1


"Si-si-siapa kau?." Ada perasaan takut yang menghantui dirinya. Ia tidak bisa membayangkan jika wanita itu telah melakukan hal yang sangat aneh padanya?.


"Raden tenang saja. Raden tidak akan menghadapi bahaya jika berada di sini." Dengan senyuman yang sangat ramah ia berkata seperti itu.


"Apa yang telah terjadi padaku?. Rasanya aku sangat sulit untuk bergerak."


"Itu karena Raden mengalami kelelahan yang sangat luar biasa. Sehingga Raden tidak bisa mengendalikan diri. Raden hamba temukan dalam keadaan pingsan di tepian hutan menuju masuk ke dalam kawasan kota raja."


Deg!.


Akan tetapi pada saat itu ia ingat membantu kakaknya yang akan mendapatkan hukuman mati.


"Cepat antarkan aku ke istana!. Aku ingin membantu raka surya biantara agar terbebas dari hukuman mati!." Tiba-tiba saja ia merasakan perasaan sedih yang sangat luar biasa sambil mengingat apa yang telah terjadi pada kakaknya.


"Raden tenang saja. Hukuman mati Raden surya biantara untuk saat ini telah ditangguhkan."


"Apa?. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?."


"Menurut dugaan kabar yang sedang beredar?. Raden surya biantara meminta bantuan pada komplotannya untuk membebaskannya dari hukuman itu."


"Apa?. Tidak mungkin raka surya biantara melakukan perbuatan yang sangat hina itu!."


"Mohon ampun Raden. Namun itulah yang terjadi saat itu." Ia menghela nafasnya dengan sangat pelan. "Bahkan menimbulkan keributan yang sangat luar biasa."


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?. Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!." Suasana hatinya saat itu sedang bergejolak sangat luar biasa.


"Pendekar itu dikabarkan memiliki kemampuan mengolah racun dengan sangat baik. Dia berhasil melumpuhkan dua raja hebat dengan kemampuan yang ia miliki." Jawabnya. "Raden surya biantara dianggap sebagai buronan pemerintah. Bahkan siapapun akan mendapatkan imbalan yang sangat luar biasa jika berhasil membawa Raden surya biantara dalam keadaan hidup atau mati."


Deg!.

__ADS_1


Raden Sahardaya Biantara sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu, rasanya tidak mungkin!.


...***...


__ADS_2