BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 6


__ADS_3

...***...


Malam telah menyapa, di gubuk kecil itu Raden Surya Biantara sedang termenung. Malam itu ia hanya ditemani oleh lampu alam yang berasal dari bulan yang menemani kesedihannya. Ia masih ingat bagaimana saat itu ia masih berbicara dengan istrinya.


Kembali ke masa itu.


Di istana bagian barat.


Di istana ini tempat kediaman Raden Surya Biantara bersama keluarga kecilnya. Ini adalah hak yang dimiliki oleh keluarga istana yang merupakan anak tertua yang memiliki gelar putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan ayahandanya untuk memimpin kerajaan.


Sore itu ada seorang prajurit yang masuk ke dalam untuk memberikan suatu pesan kepada Raden Surya Biantara.


"Hamba menghadap raden."


"Ya, katakan."


"Tadi ada seseorang yang mengantarkan pesan ini pada raden."


"Terima kasih."


"Sama-sama raden."


"Kalau begitu berjaga-jaga lah di depan gerbang istana ini."


"Sandika raden."


Raden Surya Biantara membuka gulungan surat yang entah dari siapa. Namun saat itu kebetulan istrinya datang menghampirinya.


"Ada apa kanda?. Apakah ada pesan penting dari ayahanda prabu?."


"Akan kanda bacakan isi dari surat ini." Raden Surya Biantara membuka gulungan surat itu. "Mungkin ada berita penting dari istana untuk kita semua di sini."


"Kepada putraku raden surya biantara. Aku mengutus kau untuk menghadiri acara panen padi yang di selenggarakan di desa bendung pasa. Aku tidak bisa datang ke sana, karena ada pertemuan yang sangat penting yang tidak bisa aku undur. Acara itu akan diadakan dua hari lagi, jagan sampai tidak datang. Jadi aku serahkan masalah desa itu padamu. Dari ayahandamu Prabu kencana biantara."


Itulah surat yang telah dituliskan oleh Prabu Kencana Biantara untuk anaknya.


"Apakah kita akan ke sana kanda?."


"Sepertinya kita memang harus ke sana dinda. Karena dalam surat itu ayahanda prabu memang menyuruh kita untuk datang ke sana. Selain itu ayahanda prabu tidak bisa datang karena ada pertemuan yang sangat penting."


"Kalau begitu akan dinda siapkan semuanya. Karena desa bendung pasa sangat jauh sekali kanda."


"Baiklah. Kalau begitu kita sama-sama menyiapkan semuanya."


Keduanya berjalan menuju ke kamar mereka untuk segera beres-beres.


"Tapi di mana putri kita santika jayanti?. Apakah masih bermain dengan anak-anak petinggi istana yang lainnya?."

__ADS_1


"Katanya tadi seperti itu kanda."


"Kalau begitu akan kanda cari. Dinda tolong persiapkan semuanya."


"Baiklah kanda."


Setelah itu Raden Surya Biantara keluar untuk mencari anaknya, sedangkan Putri Jayanti Latsmi menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa nantinya.


Kembali ke masa ini.


"Aku rasa tidak ada yang salah dengan itu, tapi kenapa saat kami berada di sana tidak ada yang ganjal sama sekali?." Dalam hatinya mencoba mengingat apa yang telah terjadi di desa itu.


Kembali ke masa itu.


Raden Surya Biantara saat itu telah sampai di desa Bendung Pasa. Kedatangannya disambut dengan sangat meriah oleh mereka semua, tentunya itu membuat Raden Surya Biantara sangat senang. Siapa yang menduga jika akan disambut seperti itu oleh mereka semua.


"Selamat datang di desa bendung pasa Raden."


"Terima kasih tuan. Sambutannya sangat meriah sekali."


"Anggap saja ini adalah ungkapan kebahagiaan kami. Terima kasih karena telah datang sebagai perwakilan dari Gusti Prabu."


"Sama-sama tuan. Maaf jika Gusti Prabu kencana biantara tidak bisa datang. Jadi saya sebagai perwakilan ayahanda meminta maaf karena tidak bisa menghadiri acara yang sangat luar biasa ini."


"Tidak apa-apa Raden. Tentunya kami memahami apa yang menjadi kesibukan Gusti Prabu saat ini. Kamu saja yang lancang mengundang Gusti Prabu di saat kesibukan Gusti Prabu begitu banyak mengurusi kerajaan ini."


"Karena Raden beserta keluarga baru saja tiba di sini. Untuk sementara waktu Raden beristirahat di sini. Acaranya akan dimulai nanti malam. Pasti Raden beserta keluarga sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh."


"Terima kasih tuan. Jika dirasakan memang seperti itu. Kalau begitu kamu ini istirahat sampai menjelang malam. Nanti kami akan datang bersama-sama ke tempat acara."


"Baiklah kalau begitu Raden. Nanti ada beberapa pembantu dan prajurit yang akan membantu Raden. Menyiapkan beberapa hidangan sebelum datang ke tempat acara."


"Saya ucapkan terima kasih sekali lagi tuan."


"Kalau begitu saya pamit Raden. Sampurasun."


"Rampes."


Kembali ke masa ini.


"Bahkan mereka sangat menyambut kami dengan baik. Tapi kenapa tiba-tiba saja aku merasakan ada yang aneh dengan diriku." Dalam hatinya mencoba untuk mencari kejanggalan itu.


Kembali ke masa itu.


Seperti itulah mantram yang ia ucapkan untuk membuat mereka semua tertidur malam itu. Ajian serat jiwa pada saat itu perlahan-lahan mulai menyebar ke seluruh area itu, termasuk area di mana orang-orang sedang menikmati musik dengan santai. Satu persatu dari mereka mulai merasakan mengantuk yang sangat luar biasa. Termasuk Raden Surya Biantara yang merasakan aneh dengan situasi itu.


"Demi Dewata yang agung. Kenapa tiba-tiba saja aku merasakan kantuknya sangat luar biasa?." Pada saat itu ia merasa sangat ngantuk yang tidak bisa ia tahan lagi.

__ADS_1


"Kanda." Putri Jayanti Latsmi juga merasakan ada hal yang sangat aneh pada saat itu. "Kanda." Perlahan-lahan suaranya terdengar sangat pelan karena ia tidak dapat menahan kantong itu. Sementara itu anaknya telah terlelap di sampingnya, namun ia berusaha untuk tetap terbangun karena ia sangat khawatir dengan keadaan sekitar.


"Dinda." Raden Surya Biantara berusaha untuk tetap terjaga namun hasilnya tetap mustahil. Ajian serat jiwa pada saat itu telah membuat mereka terkapar semua.


Saat itu pulang keluar tiga orang pendekar yang memiliki kesaktian yang sangat luar biasa. Ketiga pendekar itulah yang telah membuat mereka tertidur.


"Kita hanya melakukan sesuai dengan perintah Gusti Putri. Kita bunuh mereka semua, kamu yang tersisa hanyalah Raden surya biantara saja."


"Tapi Gusti Putri mengatakan untuk menyisakan lima orang untuk sebagai saksi nantinya."


"Ya. Lima orang sisanya itu akan menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan Raden surya biantara."


"Tapi sebelum itu mari kita isi mereka semua dengan perasaan ketakutan mereka yang menyaksikan pembunuhan yang telah dilakukan oleh Raden surya biantara."


"Kalau begitu mari kita lakukan dengan segera. Jangan sampai ada celah yang nantinya akan memberatkan kita semua."


Pada malam yang sangat sadis itu mereka bertiga melakukan hal yang sangat tidak manusiawi sama sekali. Pada saat itu ia seperti sedang memegang pedang yang sangat tajam, tubuhnya seakan-akan sedang dikendalikan oleh seseorang yang memiliki ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi. Pada saat itu ia seperti sedang melakukan hal yang sangat tidak manusiawi sama sekali. Dengan tangannya yang sangat kejam itu ia membunuh siapa saja yang ia temui.


"Kanda. Apa yang telah kanda lakukan?."


Suara itu adalah suara yang sangat ia kenali. Nama saat itu suara itu sedang dibomboi oleh perasaan takut yang sangat luar biasa.


Deg!.


Raden Surya Biantara sangat terkejut melihat keadaan istrinya yang sangat tidak baik.


"Tega sekali kau melakukan itu kepadaku kanda. Kenapa kamu bunuh anak kita?. Apa salahnya sehingga kau membunuhnya?." Dengan perasaannya sangat sakit luar biasa iya menanyakan itu kepada Raden Surya Biantara.


"Aku." Raden Surya Biantara sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah ia alami.


"Bunuh saja aku jika kau mampu!. Supaya lengkap penderitaannya aku alami setelah kehilangan putri kita!."


"Akan aku bunuh kau!." Saat itu Raden Surya Biantara merasakan gejolak yang aneh di dalam tubuhnya, sehingga tanpa berpikir panjang lagi ia telah menebas tubuh istrinya itu dengan menggunakan pedang yang berada di tangannya.


Cekh!.


Darah merah kental menyipret ke tubuhnya ketika ia menebas tubuh istrinya.


"Kau ada seorang pembunuh. Suatu saat nanti kau akan dibunuh oleh orang yang mencintaimu."


Kembali ke masa ini.


Hatinya sangat hancur mengingat apa yang telah ia alami pada malam itu. Rasanya ia ingin mencabut nyawanya sendiri saking takutnya dengan apa yang ia rasakan saat itu. Hatinya yang saat itu masih belum bisa melupakan apa yang telah terjadi selama ini.


"Apa yang harus aku lakukan dinda?. Apakah aku akan menjadi orang yang sangat pengecut dengan bertindak seperti ini?. Melarikan diri karena takut terhadap mereka yang melihat kejadian itu?. Melihat jika aku lah yang telah melakukan itu semua?." Hatinya sangat hancur dengan apa yang ia rasakan, hatinya tidak terima sama sekali jika dirinya yang disalahkan dalam kejadian yang membuatnya terpuruk.


...***...

__ADS_1


__ADS_2