
...***...
Perlahan-lahan Raden surya biantara saat itu mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Nini Kemuning. Dengan penuh kesabaran ia belajar ilmu kanuragan tanpa mengeluh sedikitpun. Ia telah menguatkan hatinya saat itu, bisa melakukannya.
"Walaupun terasa sangat sulit akan aku lakukan dengan segenap hatiku." Dalam hatinya telah mantap untuk mempelajari hal yang sangat mustahil baginya?.
Duak!.
"Eagkh!."
Sudah tidak terhitung berapa kali ia mendapatkan pukulan di punggung, bahu, dan kakinya dengan rotan. Pukulan itu tidak main-main, dan tentunya akan meninggalkan bekas luka yang sangat dahsyat. Pukulan dengan sekuat tenaga yang dilepaskan oleh Nini Kemuning yang seakan-akan tidak memberikan perasaan hati sedikitpun.
Duak!.
"Eagkh!."
Kali ini tepat di pinggangnya hingga ia berteriak kesakitan. Tubuhnya memar-memar semua, hingga ia merasakan sakit yang menguras tenaganya. Tapi yang menjadi pertanyaannya?. Kenapa Nini Kemuning melakukan itu?. Tentu saja karena ia ingin membuat Raden Surya Biantara lebih bersemangat lagi dalam melatih ilmu kanuragannya.
"Ini memang terkesan kejam, tapi jika aku tidak melakukan ini, maka ancaman yang lebih parah dari ini mungkin akan membunuhnya." Dalam hatinya berusaha untuk menekan perasaan iba.
"Aku harus kuat. Aku bisa melakukan ini dengan sangat baik." Dalam hati Raden Surya Biantara mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak lemah. "Aku pasti bisa melakukannya demi membalaskan dendamku pada orang yang telah membuat aku dalam keadaan yang seperti ini!." Itulah semangatnya saat ini.
...***...
Raden Sahardaya Biantara saat itu sedang mengamati daerah sekitar, ia mengamati bagaimana banyaknya kerumunan orang yang menikmati makanan yang tersaji di sana. Akan tetapi ia tidak sengaja mendengarkan ucapan mereka mengenai Raden Surya Biantara.
"Aku tidak menduga sama sekali jika orang sebaik Raden surya biantara bisa menjadi pembunuh yang sangat sadis." Ia terlihat menghela nafasnya. "Bukan hanya penduduk desa lembung pasa saja yang menjadi korbannya, tapi anak dan istrinya juga menjadi korban. Sungguh sangat sadis sekali apa yang telah ia lakukan."
"Ya, sangat sadis sekali. Karena itulah ayahanda dari Gusti Putri jayanti latsmi memberikan pengumuman pada semua orang, semua kalangan. Bagi siapa yang bisa membunuh Raden surya biantara akan mendapatkan hadiah yang dapat menjamin kehidupanmu tujuh turunan."
"Itu adalah hadiah yang sangat luar biasa dari seorang raja yang merasa sangat sakit hati karena anaknya dibunuh dengan cara yang sangat sadis."
__ADS_1
"Apakah kalian merasa sangat tertarik dengan sayembara itu?."
"Aku hanyalah manusia biasa, mana mungkin aku bisa membunuh Raden surya biantara." Terlihat raut wajah yang diisi dengan perasaan kecewa, hingga membuat mereka yang berada tak jauh darinya malah tertawa cekikikan.
"Jadi pengumuman itu telah sampai ke daerah ini?." Dalam hati Raden Sahardaya Biantara sangat kesal mendengarkan itu. "Tapi aku tidak bisa menyalahkan mereka tentang apa yang akan mereka lakukan pada raka surya biantara." Dalam hatinya mencoba untuk menekan perasaan itu agar ia tidak menyerang siapa saja yang berniat membunuh kakaknya. "Aku harus siap-siap dengan kemungkinan itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu raka." Dalam hatinya sangat sesak membayangkan bagaimana nasib kakaknya yang kini menjadi seorang buronan karena perbuatan ayng sama sekali mustahil dilakukan kakaknya?.
...***...
Di kediaman Patih Reswara Pradipta.
Ia beru saja kembali dari Istana dan melihat anaknya yang sedang duduk di serambi depan dengan senyuman yang manis menyambutnya.
"Selamat datang kembali ayahanda."
"Ya." Ia duduk di samping anaknya. "Apakah keadaanmu sudah baikan?. Sehingga kau duduk di sini menyambut ayahanda?." Dengan senyuman lembut ia menatap anaknya, dan ia usap rambut panjang anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sudah baikan ayahanda. Aku sudah baikan seperti biasanya."
"Syukurlah kalau memang seperti itu." Ia rangkul anaknya, hatinya mulai membaik mendengarnya. "Ayahanda enang jika kau kembali sembuh."
"Ayahanda telah berhasil memberikan perintah pada raja bodoh itu untuk mengeluarkan dua ratus prajurit untuk mencari keberadaan anaknya yang bodoh itu."
Putri Aswaja Rahayu Dewi melihat ke arah anaknya dengan senyuman kecil. "Lalu bagaimana dengan sahardaya biantara ayahanda?. Apakah dia tidak akan menjadi ancaman buat kita nantinya jika dia tidak kita awasi?."
"Kau tenang saja anakku. Masalah sahardaya biantara dapat ayahanda atasi dengan sangat baik."
"Benarkah?."
"Ya. Ayahanda telah menyuruh salah satu orang kepercayaan ayahanda untuk mengawasinya. Bisa jadi ada kemungkinan ia akan bertemu dengan Raden surya biantara."
"Itu ide yang sangat bagus ayahanda."
__ADS_1
Keduanya saat itu membahas apa saja yang berhubungan dengan Raden Surya Biantara yang kini entah berada di mana?. Tapi mereka tidak akan membiarkan Raden Surya Biantara pergi begitu saja.
...***...
Di sebuah tempat yang sangat terpencil.
Gondaria melihat ada sebuah gubuk kecil yang dulunya pernah ia datangi, dan gubuk kecil itu masih dalam posisi yang sama, tidak berubah sama sekali.
"Kau datang setelah sekian lama tidak datang ke sini kakang?."
Deg!.
Gondaria terkejut mendengarkan suara seseorang yang berasal dari arah belakangnya.
"Kenapa mata kakang melotot seperti itu?. Apakah suaraku mengejutkan mu?." Wanita ayu itu tersenyum manis melihat raut wajah Gondaria yang memang tergambar seperti itu.
"Kau seperti hantu saja." Tiba-tiba saja kesal.
"Ahahaha!. Kau jangan berbicara seakan-akan aku adalah hantu yang dengan berani muncul di siang hari." Ia malah tertawa cekikikan melihat raut wajah bodoh itu.
"Berani sekali kau menertawai aku?. Mau aku cium dengan jurus cakar harimau milikku?."
"Ahaha!. Kasar sekali uluran tanganmu ketika beratmu ke tempatku." Ia melangkah masuk ke dalam pondoknya. "Lalu kali ini kakang ingin apa dariku?. Apakah kakang ingin mengajak aku menikah?."
"Dengkulmu dipatok ular sanca!. Mana sudi aku menikah dengan orang hutan seperti kau!." Ia mengikuti gadis ayu itu masuk.
"Jangan malu-malu, nanti kakang menjilat ludah sendiri loh?."
"Rasanya aku ingin segera pergi dari sini jika saja tidak memiliki keperluan." Dengan sangat kesalnya ia berkata seperti itu. Namun gadis ayu itu hanay menanggapinya dengan tawa yang puas.
"Aku tahu kau sedang menahan diri, jadi ya?. Aku maklumi saja sikap malu-malu mu itu." Ia malah menghela nafasnya dengan sangat lelahnya.
__ADS_1
Gondaria adalah orang yang telah menyelamatkan gadis ayu itu dari marabahaya di masa lalu. Gadis ayu itu memiliki kemampuan yang sangat spesial, sehingga ia menjadi incaran banyak orang. Bahkan gadis ayu itu hampir saja dibunuh orang tuanya jika saja tidak diselamatkan oleh Gondaria yang saat itu kebetulan berada di daerah gadis itu tanggal dulunya.
...***...