BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 17


__ADS_3

...***...


Perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali setelah ia merasakan bagaimana tubuhnya yang terasa sangat nyeri?. Ia mencoba untuk duduk walaupun terasa berat, tapi ia saat itu masih memiliki perasaan yang sangat kuat untuk melihat apa yang terjadi padanya.


"Terakhir yang akau ingat adalah ketika aku melihat ada seseorang yang menggunakan topeng penutup wajah membantuku untuk kabur?." Matanya melihat ke ruangan kecil itu. "Artinya aku benar-benar akan menjadi buronan yang paling dicari." Suasana hatinya saat itu sedang buruk mengingat apa yang akan ia hadapi setelah ini.


"Syukurlah jika Raden telah siuman."


Raden Surya Biantara melihat ada seorang wanita muda yang tersenyum ramah padanya sambil membawa nampan.


"Terima kasih karena telah membantu saya."


"Raden tidak perlu berterima kasih. Saya hanya kasihan pada nasib Raden yang sangat malang."


Raden Surya Biantara merasa miris mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh wanita muda itu.


"Istirahatlah dengan baik supaya tenaga Raden cepat kembali pulih."


"Ya."


"Raden jangan berkecil hati hanya karena masalah yang Raden hadapi terasa sangat berat. Raden harus bangkit kembali demi orang yang Raden cintai."


"Rasanya saya tidak sanggup lagi untuk hidup setelah kehilangan dinda jayanti dan putriku santika. Rasanya duniaku kini telah berhenti berputar sejak aku membantai mereka dengan cara yang sangat sadis." Hatinya sangat sakit setiap ingat dengan situasi itu.


"Jika Raden memang berniat untuk mati?. Maka saya tidak akan susah-susah membantu Raden untuk keluar dari sana!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras, hingga membuat Raden Surya Biantara terkejut dan melihat ke arah wanita yang sedang marah padanya?. "Jangan bersikap lemah hanya kerana kau merasa telah kehilangan segalanya!. Tapi kau harus bangkit dengan sisa keyakinan yang ada di dalam hatimu!." Amarahnya keluar begitu saja. "Tapi jika kau memang ingin mati sekarang?. Maka akan aku kabulkan surya biantara."


Deg!.


Raden Surya Biantara sangat terkejut ketika melihat wanita itu telah mengangkat sebilah pedang yang sangat tajam, dan wanita itu terlihat seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa seseorang dengan sangat sadisnya.

__ADS_1


"Aku tahu kau tidak ingin mati sebelum kau mengetahui siapa yang telah menjadi dalang atas kematian anak dan istrimu bukan?."


Tidak ada jawaban dari Raden Surya Biantara karena memang ada tekad seperti itu di dalam hatinya walaupun secuil.


"Buktikan pada mereka yang berniat ingin menyingkirkan mu dari dunia ini karena perasaan cinta yang berlebihan itu." Wanita itu mengacungkan ujung pedangnya tepat ke arah dada kiri Raden Surya Biantara yang tampak terdiam dan tidak bisa melawan sama sekali. "Jika Raden kehilangan semangat untuk membalaskan perbuatan mereka?. Maka dengan sangat senang hati aku akan membunuh Raden kapan saja jika Raden ingin pergi ke alam lain."


Deg!.


Raden Surya Biantara sangat terkejut dengan ucapan itu. Ia tidak menduga sama sekali jika wanita itu terlihat sangat serius dengan ucapannya?.


...***...


Di Istana.


Ratu Saraswati Tusirah menemui Prabu Maharaja Kencana Biantara yang tampak masih marah dengan apa yang telah terjadi?.


Prabu Maharaja Kencana Biantara menghela nafasnya dengan lelahnya, apalagi ia melihat senyuman istrinya yang tidak biasa. "Putramu telah bekerja sama dengan orang yang sangat jahat. Apakah dinda masih tidak malu dengan senyuman yang dinda perlihatkan pada kanda sekarang?."


"Itulah beda seroang ayah dan seorang ibu. Mereka sangat mengetahui anaknya akan mendapatkan bantuan dari sang hyang widhi jika ia tidak melakukan kesalahan." Ratu Saraswati Tusirah tampak sangat tenang. "Seorang ibu akan rela melihat anak laki-lakinya dipenggal, bahkan ia langsung yang akan melakukan itu jika memang anaknya terbukti telah melakukan kesalahan yang sangat fatal." Lanjutnya. "Tapi anakku Raden surya biantara tidak akan melakukan itu. Jadi orang baik akan selalu dilindungi oleh sang hyang widhi."


Untuk sesaat Prabu Maharaja Kencana Biantara terdiam mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh istrinya yang terlihat sangat percaya diri jika anaknya tidak melakukan kejahatan yang sangat fatal.


"Apakah karena dinda yang melahirkannya?. Dinda sangat percaya diri mengatakan jika apa yang telah ia lakukan tidak bersalah?."


"Kanda kaan membuktikannya suatu saat nanti. Jika anak dinda terbukti bersalah?. Maka hukumlah dinda yang sangat percaya jika ananda Raden surya biantara telah melakukan kejahatan itu."


Prabu Maharaja Kencana Biantara terpaku dengan senyuman istrinya yang penuh dengan percaya diri?. "Jika memang dia tidak terbukti bersalah?. Kenapa dia melarikan diri?. Itu bukti dia memang telah melakukan kejahatan. Apakah dinda masih ingin membelanya?."


"Jika dia masih di sini dia tidak akan bisa membuktikan jika ia tidak bersalah. Namun kanda malah menghadapkan hukuman mati untuknya. Apakah setelah kematiannya baru kanda akan menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya?. Lebih baik itu tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


Kembali Prabu Maharaja Kencana Biantara terdiam setelah mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh istrinya mengenai alasan kenapa anaknya kabur?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.


...***...


Sementara itu Putri Aswaja Rahayu Dewi masih sangat kesal karena ia masih saja belum bisa bergerak, dan ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya.


"Ayahanda?." Ia terkejut ketika ia melihat ayahandanya dan Gondaria yang terlihat sangat cemas dengan keadaannya?.


"Ayahanda akan menjagamu sampai pagi. Jadi istirahatlah." Ia elus kepala anaknya dengan perasaan sayang. "Jangan cemas, ayahanda telah mengutus para pendekar kepercayaan untuk melacak keberadaan orang yang telah berani menculik Raden surya biantara, dan juga orang yang telah membuat kamu lumpuh seperti ini." Hatinya sangat sakit ketika melihat anaknya kembali dalam keadaan lemah tak berdaya karena ada duri racun yang menancap di tubuh anaknya.


"Tapi bukan itu yang membuat aku dendam padanya ayahanda." Ia terlihat sangat marah, hingga ia ingin segera membunuh seseorang. "Dia mengetahui pedang iblis kegelapan yang aku gunakan saat itu ayahanda."


Deg!.


Patih Reswara Pradipta dan Gondaria sangat terkejut dengan apa yang telah mereka dengar.


"Bagaimana mungkin ada seseorang mengetahui pedangmu itu?. Tidak ada yang mengetahui pedang itu jika dia bukan orang biasa."


"Itulah yang akau pikirkan ketika berhadapan dengannya ayahanda."


"Kalau begitu kita benar-benar harus mencari keberadaanya sampai dapat. Jangan sampai dia lolos setelah mengetahui pedang itu."


"Hamba akan mencarinya Gusti."


"Ya, kau memang harus mencari keberadaannya sampai dapat. Jangan biarkan seseorang hidup setelah ia mengetahui pedang iblis kegelapan."


Sebenarnya apa istimewa pedang dengan nama yang buruk itu?. Iblis kegelapan?. Apakah tidak ada nama yang lebih bagus selain itu?. Tapi kekuatan apa yang tersimpan di dalam pedang itu?. Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2