BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 13


__ADS_3

...***...


Suasana halaman istana pada saat itu benar-benar sangat kacau karena telah dikerumuni oleh rakyat, serta beberapa para petinggi istana yang saat itu hendak menyaksikan hukuman mati Raden Surya Biantara yang telah terbukti melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Tenanglah hadirin sekalian." Patih Reswara Pradipta mencoba untuk menenangkan mereka semua. Dan entah sejak kapan ia bisa berada diantara mereka saat itu. "Kami dari pihak istana meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh ananda surya biantara."


Mereka semua terdiam dan merasa bersimpati dengan apa yang telah diucapkan oleh Patih Reswara Pradipta.


Namun saat itu mereka semua juga merasa sangat kecewa pada Raden Surya Biantara yang dengan teganya membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa.


"Dengan berat hati kami memberikan hukuman mati pada ananda surya biantara atas kesalahan yang telah ia lakukan."


"Hukum mati saya penjahat itu!. Jangan berikan belas kasihan kepada orang yang telah berbuat jahat!."


"Hukum mati saja Raden surya biantara!."


Teriak mereka dengan penuh amarah yang sangat membara, mereka yang saat itu dengan sangat mudahnya dipancing untuk melakukan sesuatu.


"Oh?. Dewata yang agung. Apakah sampai di sini saja hidup hamba?. Tewas dalam keadaan yang sangat menyedihkan tanpa mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya?." Dalam hati Raden Surya Biantara sangat sedih dengan apa yang telah menimpa dirinya. "Dinda jayanti, apakah aku akan pergi menyusul mu dengan cara yang seperti ini?." Hatinya sangat hancur dengan kenyataan hidupnya yang Sangat pahit.


Sementara itu tak jauh dari kerumunan itu?. Putri Aswaja Rahayu Dewi sedang melihat bagaimana keadaan Raden Surya Biantara yang sangat mengenaskan menurutnya. Senyuman mengembang begitu saja dipipinya setelah memastikan bahwa Raden Surya Bantara benar-benar akan mendapatkan hukuman mati. "Itulah kau yang dapatkan Raden." Dalam hatinya merasa sangat miris.

__ADS_1


"Andai saja kau tidak menolak uluran tangan baikky ini?. Maka kau tidak akan berada di sana untuk saat ini. Sangat disayangkan sekali." Kembali ia tersenyum sambil mengingat bagaimana Raden Surya Biantara dengan bodohnya menolak bantuan darinya.


"Untuk hukuman hamba serahkan pada gusti prabu." Patih Reswara Pradipa memberi hormat pada Prabu Maharaja Kencana Biantara.


"Rayi prabu adinegara prabeswara. Untuk hukuman itu aku serahkan padamu.


"Baik raka prabu."


"Ho?. Ini sangat menarik." Dalam hati Patih Resware Pradipta tidak menduga akan melihat itu?. "Prabu adinegara prabesuara yang merupakan ayahanda dari Putri jayanti latsmi yang melaksanakan hukuman mati itu. Ini sangat menyenangkan sekali, rasanya aku tidak rugi datang hari ini untuk menyaksikan hal yang sangat menarik seperti ini." Dalam hatinya semakin senang dengan apa yang akan terjadi.


...***...


Sementara Raden Sahardaya Biantara saat ini sedang bergemuruh hebat. Suasana hatinya yang dikuasai oleh gejolak emosi yang sangat membara. "Aku harap mereka, ayahanda tidak akan memberikan hukuman mati pada raka surya biantara!." Dalam hatinya yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa ia hanya bisa berharap. "Raka!. Aku mohon raka bertahan lah." Raden Sahardaya Biantara berlari bagaikan bantu, melayang di udara untuk segera sampai di istana. "Sial!. Kakiku mulai keram karena aku belum istirahat sejak malam, kepalaku juga terasa sangat sakit, dan perutku telah meronta-ronta ingin segera di isi." Tapi Raden Sahardaya masih memaksakan diri untuk terus berlari dengan sangat cepat. "Sebentar lagi akan memasuki kota raja." Dalam hatinya mencoba untuk menguatkan dirinya, bahwa apa yang telah ia lakukan tidak sia-sia. "Sebentar lagi!." Raden Sahardaya Biantara terus menyemangati dirinya agat tidak menyerah begitu saja.


BRUK!.


Tubuhnya oleng dan Raden Sahardaya Biantara telah menyerah pada tubuhnya yang sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak.


"Kurang ajar!. Kenapa kau malah berhenti di sini?. Kau harus segera sampai di istana untuk menyelamatkan raka surya biantara!." Suasana hatinya saat itu geregetan karena sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak, namun keinginan hatinya sangat kuat untuk melindungi kakaknya Raden Surya Biantara yang mungkin kini sedang diadili. "Tidak!. Aku mohon jangan sampai aku yang tepar duluan di sini!." Dalam hatinya menolak untuk itu. Namun sayangnya nafasnya juga tersengal-sengal, merasakan pasokan oksigen yang ada didalam paru-parunya mulai berkurang. "Tidak!. Raka!. Aku ingin menyalamatkan raka surya biantara!. Bergeraklah!." Pertahan-lahan kesadarannya mulai menipis, ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang mendera tubuhnya, hingga saat itu ia memilih untuk menyerah pada takdir yang Seakan-akan tidak mengizinkan dirinya untuk menolong saudaranya dari hukuman mati itu?.


"Raka, aku mohon bertahanlah." Suaranya semakin melemah, dan saat itu pula ia dalam keadaan setengah sadar. Raden Sahardaya Biantara tidak dapat lagi merasakan tubuhnya, hingga saat itu ia tenggelam dalam perasaan penyesalan yang sangat mendalam.

__ADS_1


...***...


Di sisi lainnya Ratu Saraswati Tusirah sedang menangis sejadi-jadinya di dalam biliknya. Saat itu hatinya sangat sedih karena ia dikurung oleh suaminya yang tidak ingin dirinya menyaksikan hukuman mati pada anaknya.


"Oh?!. Putraku surya biantara!. Kenapa kau harus mendapatkan hukuman itu?!." Ratu Saraswati Tusirah menangis dengan saadi-jadinya saat itu. Hatinya sangat hancur, hatinya sangat terluka atas apa yang telah terjadi pada anaknya. "Putraku surya biantara!." Teriaknya dengan amarah yang sangat membara, hatinya semakin sakit ketika bayangan kehilangan anak yang sangat ia cintai menari-hari begitu saja di dalam pikirannya ketika bayangan hukuman pancung yang akan diterima oleh anak yang sangat ia cintai.


"Tidak!. Jangan bunuh anakku!. Jangan berikan hukuman mati pada anakku!. Jangan bunuh anakku!." Ratu Saraswati Tusirah berteriak semakin menjadi-jadi, bahkan ia berusaha untuk mendobrak pintu biliknya dengan sangat kuat, seakan-akan hendak menghancurkan pintu itu dengan tenaga yang ia miliki.


Sedangkan dua orang prajurit yang menjaga pintu itu merasa sangat bersimpati pada Ratu Saraswati Tusirah yang telah menangisi anaknya yang akan mendapatkan hukuman mati.


"Apa yang harus kita lakukan wanggi?. Aku merasa kasihan pada Gusti Ratu. Apakah kita tidak membiarkan Gusti Ratu untuk melihat anaknya untuk yang terakhir kalinya?."


"Sudahlah Badra. Jangan kau keluarkan rasa simpatimu. Tapi ingatlah nasibmu akan jadi seperti apa jika kau berani membiarkan Gusti Ratu ke halaman istana."


Deg!.


"Ternyata kau orang yang sangat kuat wanggi, kau telah menguatkan hatimu untuk tetap menjalankan tugasnya dengan sangat baik." Dapat ia lihat bagaimana temannya itu sedang menahan diri sampai menangis sedih supaya tidak membebaskan Ratu Saraswati Tusirah agar tidak bebas dari ruangan itu.


"Diam kau badra. Kau jangan banyak bicara." Ia sedang berusaha untuk menahan gejolak yang ada didalam hatinya saat itu. "Kau akan mendapatkan hukuman jika kau berani melanggar ucapan Gusti Prabu?. Kau pilih saja hukuman yang kau inginkan jika kau berani melanggarnya." Hatinya sangat sedih.


"Baiklah wanggi. Aku tidak akan membantah lagi.' Ia juga sedang berusaha untuk menguatkan hatinya agar tidak terpengaruh dengan suara teriakan Ratu Saraswati Tusirah yang dipenuhi dengan ketakutan yang sangat dalam.

__ADS_1


"Maafkan kami Gusti Ratu. Kami hanya menjalankan perintah dari Gusti Prabu. Jadi kamu tidak bisa membantu Gusti Ratu untuk keluar dari sini." Dalam hati keduanya mencoba untuk menekan semua perasaan simpati itu, walaupun hati mereka terasa sangat sakit mendengarkan suara tangisan itu.


...***...


__ADS_2