BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 8


__ADS_3

...***...


Perlawanan yang dilakukan oleh Raden Suryadi antara ternyata sia-sia karena ia sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni saat itu. Kemampuan bertarungnya hanya sekedar batas ilmu kadigdayaan saja, sehingga ia kalah telak dari ketiga orang pendekar itu.


"Sudah aku katakan padamu, percuma saja kau melawan kami." Ia tekan kuat bahu Raden Surya Biantara.


"Kegh!." Raden Surya Bintara hanya bisa meringis sakit saja. Tubuhnya terasa sangat sakit ketika dihajar oleh ketiga pendekar itu.


"Kalian hanyalah pendekar pengecut yang tidak berguna. Hanya bisa main keroyokan saja." Akan tetapi pada saat itu Raden Surya Biantara mencoba untuk memberontak.


"Kau masih saja ingin meronta?." Dengan sangat kesalnya ia menotok tubuh Raden Surya bantara sehingga ia tidak bergerak lagi. "Heh!. Itu lebih baik." Ia sangat senang dengan apa yang telah ia lakukan pada saat itu.


"Sial!. Apa yang harus aku lakukan jika aku dalam kondisi seperti ini?." Dalam hati Raden Suryadi antara sangat mengutuk dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terasa sangat kaku karena ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Sebaiknya kita bawa saja dia ke istana, itu lebih baik." Ia tarik paksa Raden Surya Biantara yang tadinya terduduk di tanah.


"Ya aku rasa itu ide yang sangat bagus." Tentu saja ia sangat setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh temannya.


"Kurang ajar!. Kenapa aku bisa tertangkap dalam kondisi seperti ini?. " Dalam hati Raden Surya Bintara sangat tidak terima dengan apa yang mereka lakukan kepadanya.


Mereka membawa Raden Surya bantara ke istana itu karena perintah seseorang. Apakah Raden Surya Bintara akan selamat dari tangan-tangan jahat yang ingin mencelakainya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Di kota Raja.


Saat itu dengan menggunakan bedati yang sangat mewah?. Patih Reswara Pradipta membawa anak gadisnya itu jalan-jalan mengelilingi kota Raja.


"Ternyata jalan-jalan di kota Raja tidaklah buruk ayahanda." Ada ungkapan kekaguman yang ia tunjukkan saat.


"Apa yang ayahanda katakan itu selalu benar. Kau saja yang terbawa suasana, hanya menuruti amarah kau yang berlebihan itu." Dengan senyum menyimpan percaya diri ya berkata seperti itu.


"Hehehe!. Habis ini aku sangat kesal sekali ayahanda." Ia hanya bisa tertawa saja.


"Kau harusnya bisa mengendalikan dirimu, atau kau bisa celaka nantinya jika terlalu menuruti amarahmu itu." Itulah nasehat yang ia berikan kepada anaknya.


"Mungkin akan sangat sulit aku lakukan itu ayahanda." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas bagaimana ia mengeluhkan sikapnya itu. "Karena marah ku meledak begitu saja jika aku tidak menyukai sesuatu." Tentu saja ia merasakan itu. "Rasanya sangat sulit aku kendalikan emosiku itu."


"Hahaha!. Kau ini memang sama persis dengan ibundamu, kalian memang sangat sulit untuk mengendalikan amarah." Patih Reswara Pradipta malah tertawa keras mendengarkan ucapan anaknya.


"Namanya juga buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ayahanda." Dengan raut wajah yang manyun ia berkata seperti itu.


"Ahaha!. Sejak kapan anak ayahanda pandai berbicara seperti itu?." Patih Reswara Pradipta heran.


"Sejak aku bersamamu ayahanda." Suaranya terdengar sangat manja.


"Hahaha!. Jangan buat ayahandamu ini merasa malu." Patih Reswara Pradipta tidak tahan dengan ucapan anaknya sehingga ia tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menduga sama sekali jika anaknya memang pandai dalam berbicara.

__ADS_1


Pada siang hari itu mereka menikmati bagaimana jalan-jalan di kota Raja sambil melihat beberapa pemandangan yang indah menurut mereka saat itu.


...***...


Di istana, kaputren.


Ratu Saraswati Tusirah tidak henti-hentinya berdoa kepada sang pemilik kehidupan menurut kepercayaannya. Sejak ia mendengar kabar anaknya mengalami masalah yang sangat besar?. Hatinya sebagai seorang ibu menjerit sakit, hatinya meratap pilu mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang anaknya.


"Dewata yang agung." Air matanya tak terbendung lagi. "Hamba hanya memohon kepadamu selamatkan anak hamba surya biantara." Setiap doa yang ia lantunkan hanyalah nama anaknya. "Hamba percaya jika anak hamba tidak akan mungkin melakukan kesalahan seperti itu." Sebagai seorang ibu tentu saja ia sangat mempercayai apa yang dilakukan oleh anaknya di luar sana.


"Ibunda."


Deg!.


Pada saat itu ia mendengarkan suara anaknya yang seakan-akan meminta bantuan kepadanya. Suara anaknya yang sedang merintih kesakitan meminta tolong kepadanya.


"Ibunda. Tolong nanda. Tolong nanda."


Suara itu terdengar seperti dari arah belakangnya, sehingga pada saat itu ia membalikkan tubuhnya untuk memastikan apakah anaknya benar-benar berada di belakangnya?.


Deg!.


Mata itu melotot lebar ketika melihat bagaimana kondisi anaknya?. Apakah matanya pada saat itu tidak salah menangkap bagaimana kondisi anaknya yang terluka?.


"Oh putraku." Dengan keadaan setengah berlari ia mendekati anaknya dan memeluk anaknya yang seperti sedang menggigil ketakutan. "Apa yang terjadi padamu?." Air matanya semakin membasahi pipinya karena ia tidak sanggup melihat bagaimana kondisi anaknya.


Akan tetapi apa yang terjadi pada saat itu?. Ketika ia ingin memeluk untuk menenangkan anaknya?. Tiba-tiba saja tubuh anaknya itu menghilang entah ke mana.


"Putraku!. Putraku!." Teriaknya dengan hati yang sangat pilu, hatinya sangat ketakutan ketika melihat anaknya tiba-tiba saja menghilang dari dekapannya?. "Oh?. Apa yang telah terjadi pada anakku surya biantara?." Teriaknya dengan penuh kesakitannya yang sangat mendalam. "Kenapa anakku dalam keadaan terluka parah seperti itu?." Hatinya sangat indah dengan apa yang telah terjadi kepada anaknya?. "Dewata yang agung, hamba mohon lindungilah putra hamba surya biantara." Dalam keadaan yang seperti itu ia hanya memohon kepada sang hyang Widhi. "Semoga kau baik-baik saja anakku." Hanya itulah harapannya sebagai seorang ibu yang tidak mengetahui apakah itu benar-benar terjadi kepada anaknya?. Atau itu hanyalah gambar semata-mata karena ia sangat takut kehilangan anaknya?.


...***...


Raden Sahardaya Biantara yang pada saat itu berpisah dengan para prajurit yang datang bersamanya?. Pada saat itu ia melihat ada beberapa orang yang melewati jalan itu di depannya?.


Deg!.


Ketika ia fokuskan pandangannya ke arah ketiga orang yang membawa seseorang yang dalam keadaan terluka?. Matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenali.


"Bukankah itu adalah raka surya biantara?." Suasana hatinya mendadak bergemuruh ketika ia mengenali orang itu. "Hei!. Tunggu!." Teriaknya kepada ketiga orang itu.


"Raden." Ketika orang pendekar itu memberi hormat.


"Rayi sahardaya biantara?." Dalam hati Raden Surya Bintara tidak menyangka akan melihat adiknya.


"Apa yang telah kalian lakukan kepada raka ku?. Kenapa kalian malah mengikatnya?." Hatinya sangat panas ketika melihat kondisi kakaknya yang terluka seperti itu. "Kenapa kondisinya malah terluka seperti ini?!." Ia bentak mereka bertiga dengan suara yang sangat keras.


"Kami terpaksa melumpuhkannya Raden." Jawab salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Terpaksa?. Kalian terpaksa?!." Suasana hatinya semakin panas. "Siapa yang telah memerintahkan kalian untuk menangkap raka surya biantara?." Tentu saja ia ingin mengetahui siapa yang telah berani memerintahkan seperti itu.


"Gusti Patih, juga Gusti Prabu ya secara diam-diam memerintahkan kami untuk menangkap Raden surya biantara." Jawabnya.


"Jika memang benar ayahanda Prabu yang memerintahkan kalian untuk menangkap Raka surya biantara?. Maka aku tidak akan repot-repot datang ke sini untuk mencari keberadaannya!." Hampir saja iya tidak bisa mengendalikan emosinya ketika ia mendengarkan ucapan mereka yang seperti itu.


"Kegh!." Raden Surya Biantara mencoba untuk memberi kode kepada adiknya itu.


"Dan kalian bahkan telah berani membawanya dalam keadaan tertotok seperti ini?. Kalian benar-benar kurang ajar!." Amarahnya semakin bergejolak, dan ia seorang salah satu dari mereka untuk melampiaskan amarahnya itu.


Hingga pada saat itu terjadilah pertarungan antara Raden Sahardaya Biantara dengan salah satu pendekar yang membawa Raden Surya Biantara. Pertarungan antara kaum bangsawan dengan kaum pendekar memang terlihat sangat berbeda?.


"Apa yang harus kita lakukan?." Bisiknya pada temannya.


"Kita harus menghentikan pertarungan itu. Kita jangan sampai terlibat apapun denganmu Raden sahardaya biantara." Balasnya.


Setelah itu mereka melompat untuk meleraikan pertarungan itu. Tentu saja Raden Sahardaya Biantara sangat tidak terima, dan hampir saja menyerang mereka semua.


"Cukup Raden. Tenanglah Raden."


"Maafkan kami Raden. Kami benar-benar terpaksa melakukan ini."


"Kalian memang kurang ajar. Aku tidak terima atas apa yang telah kalian lakukan kepada raka ku!."


"Baiklah. Sekali lagi kami minta maaf kepada Raden."


Raden Sahardaya Biantara mendengus kesal, setelah itu ia pergi dari sana untuk membebaskan kakaknya dari totokan itu.


"Kegh!." Tubuh Raden Surya Biantara tertunduk lemah, tapi beruntung masih bisa ditahan oleh adiknya.


"Raka!." Raden Sahardaya Biantara memeluk erat kakaknya itu.


"Rayi." Suaranya terdengar sangat lemah sekali, karena dari kemarin ia belum menenggak minum untuk melegakan tenggorokannya.


"Tenanglah Raka. Aku akan membawamu ke tempat yang aman." Ada perasaan ibu yang ia rasakan mendengarkan suara kakaknya yang sangat lemah itu. "Aku pasti akan melindungimu raka." Bisiknya.


Setelah itu ia membawa kakaknya itu pergi dari sana, ia bantu kakaknya untuk berjalan. Karena kakaknya sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan.


"Lalu bagaimana dengan kita?."


"Kita laporkan kepada Gusti putri."


"Mari."


Mereka juga pergi meninggalkan tempat itu untuk melapor apa yang telah terjadi?. Banyak hal yang telah terjadi, bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah itu?..


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2