BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 18


__ADS_3

...***...


Raden Surya Biantara saat itu melangkahkan kakinya menuju keluar. Ia mendengarkan suara seseorang yang sedang berlatih ilmu kadigdayaan pagi-pagi?. Dengan hati-hati ia memperhatikan bagaimana seorang wanita muda yang sangat agresif bergerak dengan sangat lincahnya.


"Sangat luat biasa sekali." Dalam hatinya sangat kagum melihat gerakan dari wanita itu. "Aku bahkan tidak bisa bergerak dengan gerakan secepat itu. Aku sangat yakin dia adalah pendekar wanita yang sangat hebat." Entah kenapa saat itu ia benar-benar sangat terpesona dengan apa yang terlihat oleh matanya saat itu.


Wanita itu melakukannya dengan sangat baik, gerakannya lincah menambah kesan ia adalah pendekar yang memiliki kemampuan tinggi. Dua, tiga, dan empat jurus telah ia mainkan dengan sangat lancar tanpa hambatan sama sekali, hingga saat itu pendekar wanita itu melompat ke arahnya.


"Oh?. Kau sudah bangun?."


"Maaf, jika saya tidak sopan bangun tengah hari."


"Tidak masalah. Aku selalu memaklumi seseorang yang masih terluka hatinya."


Raden Surya Biantara hanya diam saja, ia tidak membatah ucapan itu sama sekali. "Saya memang sangat lemah. Bukan hanya lemah hati, namun saya juga tidak memiliki kemampuan pada ilmu kanuragan serta ilmu kadigdayaan."


"Kau memang sangat lemah dalam segala hal surya biantara. Sehingga aku merasa sangat kasihan padamu."


"Tidak ada gunanya nini kasihan pada saya-."


PLAK!. PLAK!.


Deg!.


Raden Surya Biantara sangat terkejut karena wanita itu berani menampar pipinya dua kali?. Dan yang lebih mengejutkan wanita itu terlihat sangat marah luar biasa.


"Aku telah mengatakan padamu surya biantara!." Suaranya memang sangat jelas terdengar sangat marah, dan ia tempelkan pedangnya di leher Raden Surya Biantara, pedang yang entah kapan ia keluarkan?. "Aku bersedia menjadi malaikat kematianmu jika kau sangat bosan untuk hidup!."

__ADS_1


Raden Surya Biantara terpaku di tempat, ia sama sekali tidak bisa menjawab ucapan itu dengan biasa.


"Jika aku bisa membunuhmu sekarang maka aku akan mendapatkan imbalan, dan pangkat yang sangat hebat di kerajaan. Karena telah tersebar dengan sangat cepat berita tentang pembangkangan yang telah kau lakukan." Ucapnya sambil menarik kembali pedang tajam itu. "Kau sekarang adalah seorang buronan. Aku adalah seorang penjahat yang sewaktu-waktu bisa merubah diriku menjadi orang uang sangat baik kepada pemerintah jika aku menginginkan kemewahan dunia dengan menjual mu."


Deg!.


Raden Surya Biantara benar-benar sangat dikejutkan oleh senyuman pendekar wanita yang terlihat sangat menyeramkan dari sosok iblis ketika mendapatkan sesuatu yang sangat luar biasa.


...***...


Raden Sahardaya Biantara saat itu telah kembali ke istana, dan tentunya ia menghadap ibundanya yang terlihat biasa saja?.


"Ibunda."


"Istirahatlah anakku."


"Ada apa putraku sahardaya biantara?."


Raden Sahardaya Biantara sangat tidak mengerti kenapa ibundanya terlihat sangat santai seakan-aan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya?.


"Kenapa ibunda terlihat begitu tenang?. Apakah ibunda tidak cemas jika raka surya biantara saat ini telah menjadi buronan istana?."


Ratu Saraswati Tusirah mendekati anak bungsunya, dan ia peluk dengan sangat eratnya.


"Terkadang tekanan hidup memang sangat berat, jika kita terpaku pada satu titik yang dinamakan dengan kesedihan. Kita tidak akan sanggup lagi untuk hidup, jika kita selalu menuruti perasaan suasana hati yang seakan-akan kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini." Ia selalu mencoba untuk menguatkan suasana hatinya yang sebenarnya sangat rapuh. "Ingatlah anakku. Waktu tidak akan berhenti, dan dia akan terus berjalan sambil menyaksikan apa saja yang telah kita lakukan. Jadi kita juga jangan hanya terpaku pada waktu bersedih saja, namun kita harus mengubah waktu itu dengan cara mencari apa yang telah terjadi, melangkah lah selagi kau bisa menata kembali hatimu yang telah sedih itu."


"Ibunda." Raden Sahardaya Biantara dapat meresapi setiap kata yang keluar dari mulut ibundanya. Ia dapat memahami jika ibundanya mencoba untuk menjadi wanita yang kuat walaupun banyak masalah yang dapat menjatuhkannya. "Nanda pasti akan menjadi lebih kuat lagi untuk mengatasi masalah ini." Raden Sahardaya Biantara menangis di pelukan ibundanya.

__ADS_1


"Jangan menangis. Ibunda tahu kau adalah putra ibunda yang sangat kuat." Ratu Saraswati Tusirah juga menguatkan hati anaknya.


...***...


Putri Aswaja Rahayu Dewi baru saja bisa menggerakkan tubuhnya. Ternyata benar apa yang telah dikatakan pendekat asing itu?. Ia akan bisa bergerak saat pagi?.


"Kurang ajar!. Berani sekali dia merendahkan aku dengan menggunakan senjata yang sangat memalukan seperti itu padaku!." Suasana hatinya saat itu sangat buruk, dan ia tidak bisa melupakannya begitu saja atas apa yang telah terjadi padanya?. "Akan aku bunuh dia jika bertemu denganku!. Aku tidak akan mengampuninya!. Akan aku gunakan pedang iblis kegelapan untuk mencabut nyawanya!." Dendam itu terasa telah sampai ke dadanya, hingga saat itu ia merasakan perasaan sesak yang sangat luar biasa.


"Selamat pagi Gusti Putri."


Deg!.


Putri Aswaja Rahayu dewi sangat terkejut melihat seseorang yang menyapanya dengan senyuman yang sangat manis?.


"Raden kawiswara lasmana?." Ia tidak menduga pagi-pagi seperti itu akan kedatangan tamu istimewa dari kerajaan tetangga?. "Apa yang Raden lakukan pagi-pagi seperti ini?."


"Maaf jika aku lancang masuk ke dala bilik seorang tuan putri. Aku sangat sedih ketika aku datang ke sini aku mendengar kabar jika Gusti Putri sedang sakit." Ada kesedihan yang terpancar di matanya yang sangat polos itu.


"Terima kasih karena Raden sangat peduli padaku."


"Ya, tentu saja." Raden Kawiswara Lasmana tersipu malu dengan senyuman yang terlihat manis menghiasi wajah Putri Aswaja Rahayu Dewi yang sangat ayu.


...***...


Gondaria saat itu sedang mencari keberadaan orang yang telah menyerang Putri Aswaja Rahayu Dewi. Namun ia belum bisa juga menunjukkan bagaimana keberadaan orang itu?.


"Sepertinya dia memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga dia tidak meninggalkan jejak apapun untuk aku jadikan petunjuk." Ia sangat kesal dengan seseorang yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. "Sepertinya dia memang seorang pendekar yang sangat luar biasa. Dia ahli racun, dan racun harusnya memiliki bau yang sangat pekat untuk aku ikuti. Tapi dia malah menutupi jejaknya dengan racun pula. Memang pendekar yang sangat luar biasa." Entah kenapa ia merasa sangat kagum dengan kemampuan yang dimiliki musuhnya?. "Aku harus mencari orang itu. Aku sangat yakin dia dapat melihat jejak orang itu ke mana, walaupun akan memakan waktu yang cukup lama." Setelah berkata seperti itu ia segera meninggalkan tempat itu. "Rasanya aku sangat malu sekali jika aku tidak berhasil melakukan tugas ini. Aku sangat yakin jika Gusti Putri akan membunuhku." Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat itu juga.

__ADS_1


...***...


__ADS_2