BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 19


__ADS_3

...***...


Raden Surya Biantara saat itu sedang mendengarkan apa yang telah dijelaskan oleh Nini kemuning padanya, dengan konsentrasi yang sangat kuat ia mencoba untuk mendengarkan apapun yang dikatakan pendekar wanita itu.


"Kita adalah manusia yang memiliki tingkat belajar yang sangat tinggi. Sebab tidak ada manusia di dunia ini yang selalu membawa kemampuan sejak lahir jika tidak didukung dengan tekat yang sangat kuat untuk mencapai tujuannya."


Raden Surya Biantara mencoba untuk mencerna apa yang telah dikatakan Nini Kemuning. Ia dapat merasakannya, setiap dari ucapan pendekar wanita itu menyadarkannya akan sebagai seorang putra mahkota yang selama ini melekat padanya.


"Termasuk terlahir sebagai seorang putra mahkota yang memiliki tanggung jawab yang sangat luar biasa adalah takdir yang harus kau emban, walaupun kau tidak menginginkan lahir di mana." Sorot mata itu terlihat sangat serius dari siapapun. "Setiap manusia yang lahir ke dunia ini memiliki tujuan dan kemampuan yang berbeda-beda. Namun itu semua tidak didapatkan dengan mudah, jika saja tidak diasah dengan sangat baik."


"Ya, tentu saja. Mungkin itu karena aku selalu dimanjakan oleh ibundaku yang mengatakan jika kita tidak mampu di bidang kadigdayaan, ataupun ilmu kanuragan seperti ayahanda prabu?. Tapi aku masih bisa menggunakan kemampuan otakku untuk mengatur strategi kehidupan istana yang sewaktu-waktu akan mengalami kekacauan." Ia masih ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh ibundanya mengenai potensi yang dimiliki oleh seseorang. "Maka di sana bukan hanya saja kekerasan yang akan terjadi, tapi dibutuhkan seseorang yang masih memiliki pikiran yang sangat jernih untuk menyelesaikan masalah itu tanpa menggunakan kekuatan fisik yang akan menyakiti siapapun juga." Lanjutnya. "Karena ucapan ibunda, aku tidak mengasah kemampuanku di bidang ilmu kanuragan, walaupun sesekali aku mengasah kemampuanku pada ilmu kadigdayaan saja. Karena itulah aku tidak bisa menggunakan kekuatan tenaga dalamku ketika aku dihajar oleh orang-orang yang berniat untuk menangkap aku pada saat itu." Hatinya sangat sakit mengingat dirinya yang tidak berdaya sama sekali saat itu.


"Mungkin kehidupan yang sebelumnya kau adalah seorang putra mahkota yang selalu dapat melakukan apapun yang kau lakukan. Tapi di kehidupan ini kau tidak akan dapat melakukan dengan tanganmu sendiri. Kau harus lebih kuat dari siapapun juga."


Deg!.


Raden Surya Biantara terkejut melihat Nini Kemuning yang tersenyum lembut menatapnya. Ia pikir wanita itu akan selalu marah padanya?. Namun apa yang terjadi padanya saat itu?. Pendekar wanita itu tersenyum dengan sangat ramah padanya, hanya saja jantungnya yang tidak ramah menanggapi senyuman itu.


...***...


Patih Reswara Pradipta saat itu berada di istana.


Tentu saja sebagai seorang patih yang sangat bertanggung jawab pada tugasnya ia segera datang untuk menyelesaikan masalah Raden Surya Biantara.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangannya Patih reswara pradipta?. Apakah sejauh ini masih saja belum menemukan hasil yang sangat baik?."


"Mohon ampun Gusti Prabu. Saat ini kami masih berusaha untuk mencari tahu di mana mereka bersembunyi." Ia memberi hormat. "Pendekar misterius itu adalah seorang ahli racun, dan kami mengalami kesulitan saat ini karena dia mampu menghilangkan jejak dengan menggunakan racun."


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?!." Amarahnya memuncak begitu saja ketika ia mendengarkan ucapan itu. "Apapun caranya kita harus segera menangkap penjahat busuk itu agar dia bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan pada menantuku, juga cucuku!." Hatinya saat itu sedang dikuasai oleh kemarahan yang membara.


"Mohon ampun Gusti Prabu. Kami tentunya akan melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Tapi kami mohon berikan kami waktu yang cukup untuk menemukan keberadaanya, dan setelah itu menyerahkannya pada Gusti Prabu." Ia kembali memberi hormat pada Prabu Maharaja Kencana Biantara.


Terlihat sang prabu sedang menghela nafasnya dengan pelan, dan ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa oleh amarah yang sangat berlebihan. "Baik!. Akan aku berikan kesempatan padamu untuk menemukan keberadaanya!." Dengan suara yang sangat keras ia berkata seperti itu. "Aku berikan kau waktu dalam satu purnama ini untuk menyelesaikan apa yang telah terjadi."


"Sandika Gusti Prabu." Dengan senyuman yang sangat ramah ia mencoba untuk terlihat patuh pada junjungannya. "Jika saja kau bukan rajanya?. Aku tidak akan mengikuti apa yang kau inginkan." Dalam hatinya saat itu mulai kesal dengan sikap Prabu Maharaja Kencana Biantara yang memaksanya untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayahanda pada anaknya. "Suatu saat nanti kau juga akan aku singkirkan, seperti aku menyingkirkan anakmu yang tidak berguna itu." Dalam hatinya saat itu telah muncul niat yang tidak baik.


...***...


Di depan halaman kediaman Patih Reswara Pradita terapat sebuah pendopo yang sangat mewah. Di sana lah dua insan yang sedang duduk bersama untuk menikmati keindahan alam yang seakan-akan sedang mendukung apa yang telah mereka lakukan.


Putri Aswaja Rahayu Dewi tersenyum kecil melihat ke arah Raden Kawiswara Lasmana yang tampak masih sangat polos, masih malu-malu ketika bertemu dengan seorang wanita?.


"Tidak apa-apa Raden. Terima kasih karena Raden membawaku keluar bilik. Dengan begitu aku tidak akan merasa kesepian dengan keadaan tubuh yang melemah seperti ini."


Deg!.


Raden Kawiswara Lasmana saat itu tersipu malu melihat senyuman yang sangat manis yang diberikan Putri Aswaja Rahayu Dewi padanya.

__ADS_1


"Itu karena aku sangat mencintaimu Gusti Putri." Ucapnya tanpa perasaan yang ragu sedikitpun.


"Cinta Raden kepadaku sangat luar biasa sekali. Rasanya aku sangat beruntung dicintai oleh Raden yang merupakan orang yang sangat luar biasa."


"Gusti Putri jangan berkata seperti itu. Justru aku lah yang sangat beruntung dapat bertemu dengan wanita secantik dirimu Gusti Putri." Terlihat sangat jelas bagaimana perasaan cinta itu dari tatapan matanya.


...***...


Raden Sahardaya Biantara saat itu mencoba untuk mengumpulkan beberapa orang yang dapat ia percayai untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi di keluarganya.


"Kami menghadap Raden."


Setidaknya saat itu ada lima orang pendekar yang dapat ia gunakan kemampuan mereka untuk menemukan keberadaan Raden Surya Biantara.


"Aku tahu kalian memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam menemukan keberadaan seseorang. Karena itulah gunakan itu untuk menemukan Raden surya biantara."


"Sandika Raden."


"Kalau begitu pergilah."


Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat bagaikan tiupan angin yang menyebar ke segala arah untuk menjalani tugas mereka masing-masing.


"Raka. Aku akan membantumu untuk menyelidiki apa yang terjadi padamu sebenarnya." Dalam hatinya telah membulatkan tekadnya.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2