
Kembali ke halaman istana.
Prabu Adinegara Prabeswara telah menggenggam erat sebilah pedang yang sangat tajam. Suasana hatinya saat itu sedang bergemuruh ketika senyuman anaknya yang selalu membanggakan Raden Surya Biantara padanya.
"Ayahanda Prabu. Hari ini saya belajar banyak hal dari kanda surya biantara." Senyumannya selalu mengembang dengan sangat indahnya ketika itu. "Ayahanda Prabu, saya sangat terkejut ternyata kanda surya biantara menyukai syair yang saya buatkan." Bayangan-bayangan itu menari-nari dengan liarnya di dalam kepalanya sambil membawa perasaan luka yang sangat dalam di hatinya, karena ia tidak akan pernah melihat senyuman anak perempuannya. "Kau memang sangat biadab surya biantara!." Teriaknya dengan Penuh amarah yang sangat membara.
Sedangkan mereka yang mendengarkan itu sangat terkejut, namun mereka semua dapat merasakan kemarahan yang sangat luar biasa itu. Hati ayah mana yang tidak sakit sebelah kehilangan orang yang sangat penting di dalam hidupnya.
"Berani sekali kau membunuh anakku!. Apa salahnya sehingga dengan teganya kau membunuh anakku!." Bentaknya dengan amarah yang sangat membara. Hatinya yang kini sedang dipenuhi dengan gejolak api kemarahan yang sangat luar biasa.
"Bagus!. Marah lah dengan sepuas hatimu. Aku tahu kau sangat terpukul dengan apa yang telah dilakukan Raden surya biantara pada anakmu!. Dalam hati Patih Reswara Pradipta sangat puas melihat itu. Hatinya sudah tidak sabar lagi ingin melihat kematian Raden Surya Biantara. "Segera lakukan!. Jangan terlalu lama bermain sandiwara.m yang membosankan." Dalam hatinya sangat bosan dengan situasi yang sangat lama menurutnya.
"Ayahanda prabu. Ananda mohon dengarkan ananda. Berikan ananda kesempatan-."
"Diam kau!. Jangan coba-coba lari kau dari tanggung jawab!." Bentaknya dengan penuh gejolak amarah.
"Hukum saja Raden surya biantara!." Teriak seseorang dengan suara yang sangat keras dari arah belakang mereka?.
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarkan suara tu, dan yang lebih mengejutkan adalah?. Ternyata you adalah Suara Putri Aswaja Rahayu Dewi.
"Wanita jahat itu." Dalam hati Raden Surya Biantara. Ia tidak menduga sama sekali akan mendengarkan suara Putri Aswaja Rahayu Dewi menyuarakan seperti itu.
"Kalau begitu akan aku lakukan." Prabu Adinegara Prabeswara telah siap untuk mengangkat tinggi ayunan Pedangnya.
Seketika suasana menjadi tegang karena sasaran ayunan pedang itu menargetkan leher Raden Surya Biantara yang tampak pasrah menerima hukuman pancung.
"Maafkan ayahanda, putraku surya biantara." Dalam bati prabu Maharaja kencana Biantara hanya bisa parah saja jika ia akan kehilangan anak sulungnya karena masalah yang tidak bisa ia bantu sebagai seorang Raja dan keinginannya untuk melindung emaknya sebagai seorang ayah tampaknya tidak berlaku. Apakah ia akan kehilangan anak sulungnya dengan cara seperti itu?.
__ADS_1
"Heh!. Selamat jalan raden surya biantara, sampaikan salamku pada malaikat kematian agar kau bisa terang di alam sana." Dalam hati Patih Reswara Pradipta sangat senang ketika melihat Prabu Adinegara Prabeswara telah mengangkat tinggi sebilah pedang yang sangat tajam.
"Matilah kau Raden surya biantara!. Bukan hanya kau saya laki-laki gagah yang ada di dunia ini. Kau akan mati dengan cara yang hina!." Dalam hati Patri Aswaja Rahayu Dewi sangat serang melihat pemandangan yang sangat indah menurutnya saat itu.
Namun apa yang terjadi pada saat itu?. Ketika pedang yang diayunkan Prabu Adinegara Prabeswara hendak menebas leher Raden Surya Biantara?. Apa yang terjadi saat itu?.
TRANG!.
Terdengar suara dentingan pedang yang sangat kuat. Apakah leher Raden Surya Biantara Sangat keras hingga terdengar suara yang sangat keras seperti itu?.
Deg!.
Tidak, mereka semua sangat terkejut ketika melihat ada seseorang berpakaian serba hitam, dan topeng kain hitam menahan pedang Prabu Adinegara Prabeswara dengan sangat kuat.
"Kurang ajar!. Siapa kau setan busuk?!. Berani sekali kau melindunginya?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Hatinya yang saat itu sedang dikuasai oleh amarah yang sangat membara.
Tanpa banyak bicara orang misterius itu malah mengayun pedangnya, sehingga membuat Prabu Adinegara Prabeswara melompat menjauh darinya?.
"Rayi Prabu!." Prabu Maharaja Kencana Biantara sangat terkejut ketika melihat itu.
"Kurang ajar kau orang asing!." Patih Reswara Pradipta langsung bertindak?. "Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami!." Hatinya sangat panas ketika orang asing itu menahan ayunan pedang itu?.
Namun apa yang terjadi?. Orang bertopeng itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya, setelah itu ia hempaskan benda aneh yang bentuk bola itu hingga mengeluarkan asap. Mereka semua sangat terkejut dengan itu, dan yang lebih mengejutkan adalah orang itu membebaskan Raden Surya Biantara Setelah ia membuatnya tidak sadarkan diri?.
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut, ternyata asap itu mengandung racun yang dapat melumpuhkan syaraf manusia. Mereka semua tidak bisa bergerak, dan bahkan ada yang pingsan?.
"Kurang ajar!." Patih Reswara Pradipa sangat mengutuk itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bergerak raka prabu."
"Aku juga tidak bisa bergerak rayi."
Prabu Adinegara Prabeswara dan Prabu Maharaja Kencana Biantara sangat panik karena mereka sama sekali tidak bisa bergerak dengan sangat bebas.
"Apa yang harus kita lakukan raka?."
"Kita harus bisa membebaskan diri dari pengaruh ini rayi Prabu."
"Bedebah kau orang asing!." Saat itu Patih Reswara Pradipta melihat anaknya yang sedang mengejar orang asing yang membawa lari Raden Surya Biantara. "Aku harap kau bisa mengejar nye anakku." Dalam hatinya sangat kesal dengan itu. Jangan dirinya yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat mempuni tidak mampu melawan racun pelumpuh syaraf, apalagi rakyat kecil yang telah bergelimpangan di sekelilingnya.
Sementara itu Putri Aswaja Rahayu Dewi yang telah mengejar sarok misterius itu. Dengan menggunakan hawa tebasan pedang yang telah ia salurkan dengan tenaga dalam?. Ia berhasil menghentikan orang asing itu. Orang asing yang hampir saja terjatuh terkena terpaan angin yang sangat kencang, akan tetapi ia masih beruntung karena masih bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Untuk sementara waktu tunggu di sini sebentar Raden." Ia turunkan Raden Surya Biantara yang sudah tidak sadarkan diri, ia sandarkan tubuh Raden Surya Biantara di pohon yang tak jauh darinya yang hampir jatuh tadi.
"Kurang ajar!. Kunyuk busuk!. Berani sekali kau mencurinya!. Kembalikan dia!." Ada kemarahan yang ia tunjukkan saat itu. Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan orang asing itu.
"Siapa yang menduga ternyata tuan putri dari anak seorang Patih yang terkenal dengan sikap kalem, pendiam?. Anggun?. Ayu?. Ternyata bisa mengayunkan pedang iblis yang sangat berbahaya?. Pedang iblis kegelapan yang dapat merengut seribu nyawa tentara perang dalam satu, dua, tiga ayunan beruntun."
Deg!.
Putri Aswaja Rahayu Dewi sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh orang asing itu.
"Bagaimana mungkin?." Dalam hatinya sangat gugup. "Jika kau mengetahui pedang ini?. Maka kau tidak akan aku biarkan pergi begitu saja!." Hatinya sangat tidak terima. Saat itu ada hawa hitam kental yang menyelimuti tubuhnya sebagai ungkapan suasana hatinya yang sedang dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa. "Jangan harap kau bisa lari dariku. Kau telah mengetahui rahasiaku, maka pilihanmu hanya mati!." Ia genggam kuat gagang pedangnya.
"Pedang iblis kegelapan bukanlah pedang biasa." Dalam hatinya. "Aku sangat paham dengan baik bagaimana keganasan pedang itu dalam medan pertempuran." Ia ingat dengan apa yang telah ia ketahui tentang pedang iblis kegelapan.
...***...
__ADS_1