
...***...
Gejolak itu telah masuk ke istana, mereka semua mendesak Prabu Maharaja Kencana Biantara untuk memberikan hukuman mati kepada Raden Surya Biantara. Ditambah lagi Prabu Adinegara Prabeswara pada saat itu sedang terluka hatinya setelah mendengar kabar tentang kematian anak dan cucunya.
"Oh?. Bagaimana mungkin raka prabu diam saja?. Kenapa raka Prabu tidak langsung memberi kabar duka itu kepada saya?. Hati saya sangat sedih karena saya telah kehilangan dan cucu saya yang disebabkan oleh putra Raka."
"Sungguh, maafkan aku rayi Prabu. Aku tidak tahu harus menyampaikan kabar buruk itu seperti apa kepadamu rayi." Suasana hatinya saat itu juga sedang berduka, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menutupi semua kesalahan yang telah dilakukan oleh anaknya.
"Dalam keadaan yang seperti ini?. Saya hanya meminta hukum hanya satu tempat untuk Raden surya biantara. Dia harus mendapatkan hukuman karena dia telah membunuh anak dan cucu saya." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas sekali bahwa ia sangat terpukul setelah kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai. "Jika raka Prabu tidak bisa memberikan hukuman padanya maka saya akan berikan hukuman mati kepadanya. Karena dia telah menghilangkan nyawa putri saya."
"Rayi." Prabu Maharaja Kencana Biantara dapat merasakan bagaimana luka seorang ayah yang kehilangan anak yang sangat ia cintai, dan tentu saja itu membuat ia merasakan perasaan sesak sekaligus sedih. Apakah sang Prabu akan mengabulkan permintaan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...****...
Ratu Saraswati Tusirah datang menemui anaknya, karena ia sangat mencemaskan keadaan anaknya. Hati ibu mana yang tega melihat anaknya tersiksa seperti itu, hati ibu mana yang rela jika anaknya diperlakukan seperti itu?.
"Ibunda."
"Putraku." Ia mencoba untuk tersenyum walaupun terasa sangat pahit. "Ceritakan kepada ibunda apa yang terjadi sebenarnya saat itu?. Katakan kepada ibunda yang sejujurnya."
"Pada malam itu, tiba-tiba saja nanda merasakan kantuk yang sangat berat sekali ibunda. Pada malam acara itu nanda merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sana." Raden Surya Biantara mencoba menjelaskan kepada ibundanya. "Setelah itu Anda tidak mengerti apa-apa lagi yang terjadi kecuali ketika nanda bangun, dan mengingat sesuatu jika tangan nanda yang telah melakukan pembunuhan itu ibunda." Raden Suraya Biantara menangis terisak sambil menceritakan apa yang telah terjadi pada saat itu pada ibundanya. "Entah kenapa. Pada saat itu nanda merasa seperti sedang dikendalikan oleh seseorang untuk melakukan itu ibunda." Tangannya sampai bergetar ketakutan ketika ia mengingat bagaimana kejadian mengerikan yang ia lakukan?.
"Oh. Putraku. Ibunda sangat yakin jika memang ada seseorang yang telah menjebak mu nak." Ia peluk anaknya untuk menenangkan anaknya.
"Nanda juga berpikir seperti itu ibunda." Hatinya sangat sakit dengan apa yang telah terjadi. "Tapi nanda belum bisa membuktikan jika nanda tidak bersalah. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada nanda untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." Hatinya sangat sangat sakit karena ia tidak bisa melakukan apapun.
"Tenanglah putraku rayi mu saat ini sedang mencoba melakukan itu semua. Semoga saja rayi mu bisa membuktikan sikap kau memang tidak bersalah." Hatinya sebagai seorang ibu sedang diuji, apakah ia mampu menenangkan hati anaknya yang sedang terluka atau tidak. "Ibunda harap kau bisa bersabar barang sebentar. Doakan saja rayi mu bisa membuktikan jika kau memang tidak bersalah."
"Ibunda. Semoga saja rayi sahardaya biantara bisa membuktikan jika nanda tidak bersalah." Dalam keadaan yang sangat sedih seperti itu ia hanya berharap jika adiknya mampu melihat itu semua dengan baik.
__ADS_1
...***...
Di kediaman Patih Reswara Pradipta.
Saat itu Patih Reswara dan Putri Aswaja Rahayu Dewi sedang duduk di serambi depan, tentu saja anak dan ayah sedang menikmati senja yang cukup nyaman. Tapi rasanya ada yang ganjal dari raut wajah yang ditunjukkan oleh Putri Aswaja Rahayu.
"Kenapa kau malah terlihat kesal seperti itu anakku?."
"Rasanya aku sangat sekali ayahanda."
"Ahahaha!. Kali ini masalahnya apa lagi yang membuatmu kesal putriku?."
"Rada surya biantara benar-benar tidak takut mati. Ia tidak mau menerima uluran tangan baik dariku ayahanda." Ia sedang menggembungkan kedua pipinya tanda ia sedang sangat kesal tingkat Dewa.
"Ahaha!. Bukankah itu yang kau inginkan?. Kau yang menginginkan kematiannya. Tapi kenapa kau malah bersikap sebaliknya?." Ia tusuk pipi anaknya dengan menggemaskan.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya lagi kamu harapkan cintanya. Lebih baik kau cari pemuda yang mencintaimu apa adanya." Patih Reswara Pradipta hanya bisa tertawa saja dengan apanya dialami oleh anaknya.
...***...
Di istana.
Pada saat itu ada tiga orang pendekar yang membawa dua orang tahanan yang katanya yang telah bekerja sama dengan Raden Surya Bintara untuk membunuh mereka yang berada di desa itu?.
"Ada apa ini?. Bukankah kalian adalah anak buah dari Patih reswara pradipta?."
"Mohon ampun Gusti prabu. Kami memang anak buah Gusti Patih reswara pradipta."
"Lantas?. Siapa yang kalian bawa ini?."
__ADS_1
"Mereka adalah dua orang pendekar yang bekerja sama dengan Raden surya biantara untuk membunuh orang-orang yang hadir di acara itu Gusti."
"Apa?. Apakah kalian yakin dengan itu?." Prabu Maharaja Kencana Biantara tentu saja sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Kami sangat yakin sekali Gusti. Karena menurut keterangan dari beberapa saksi, mereka juga berada di lokasi yang sama saat itu."
"Kalau begitu masukkan mereka ke penjara!. Jangan sampai mereka kabur."
"Sandika Gusti Prabu."
Setelah itu mereka bertiga membawa kedua orang pendekar yang dianggap sebagai orang-orang yang membantu Raden Surya Biantara melakukan kejahatan itu.
Sementara itu Raden Sahardaya Biantara yang hampir saja memasuki perbatasan desa sejuk embun?. Saat itu ia melihat ada seorang yang mendekatinya.
"Hormat hormat hamba Raden." Ia memberi hormat.
"Siapakah kisanak ini?. Ada tujuan apa mencari saya?."
"Saya telik sandi dari istana. Saya datang untuk mengatakan kepada Raden, bahwa besok Raden surya biantara akan menjalani hukuman mati."
Deg!.
Tentu saja ia sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh telik sandi itu?.
"Kurang ajar!. Ternyata ada yang mencoba bermain-main denganku." Dalam hatinya sangat geram dengan itu. Sehingga tanpa pikir panjang ia segera pergi dari sana, ia biarkan telik sandi itu terpaku melihat kepergiannya.
"Ternyata benar apa yang telah dikatakan tuanku. Sangat luar biasa sekali." Dalam hatinya sangat puas dengan apa yang telah ia lakukan. "Dengan seperti ini?. Aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menyampaikan pesan itu." Dalam hatinya lagi.
...***...
__ADS_1