
...***...
Raden Surya Biantara pada saat itu merasakan ada beberapa orang yang mendekati gubuk itu. Tentunya pada saat itu ia benar-benar harus waspada karena ia takut jika itu adalah utusan dari istana.
"Hei!. Raden surya biantara!. Tidak ada gunanya kau melawan. Sebaiknya kau serahkan diri saja daripada kau harus berbaku hantam dengan kami." Teriak seseorang dengan suara yang sangat keras.
"Raden surya biantara!. Kami tahu kalau ada di dalam!. Jadi kau tidak usah bersembunyi!. Sebaiknya kau cepat keluar dari dalam gubuk busuk itu daripada kami hancurkan gubuk itu bersamamu."
Sepertinya mereka memberikan ancaman yang tidak main-main. Raden Surya Biantara yang pada saat itu tidak memiliki kemampuan apa-apa tentu saja terpaksa mengalah. Matanya menangkap ada tiga orang pendekar yang sepertinya memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.
"Heh!. Akhirnya kau keluar juga. Aku rasa tidak ada gunanya kau melakukan perlawanan."
"Atas dasar apa kalian ingin menangkap aku?. Memangnya kalian ini siapa?. Berani sekali kalian mengancam ingin menangkap aku."
"Aku tahu kau tidak memiliki kepandaian apapun selain hanya pandai berbicara saja. Sebaiknya kau menyerah karena kami adalah utusan dari Patih reswara pradipta."
"Aku tidak akan ikut dengan kalian jika yang memanggilku bukan lah ayahandaku."
Raden Surya Biantara sepertinya sama sekali tidak terima dengan apa yang mereka katakan.
"Kalau begitu jangan salahkan kami jika kami melakukan kekerasan kepadamu."
"Kalian akan mendapatkan masalah jika kalian berani melakukan sesuatu kepadaku."
__ADS_1
"Heh!. Mari kita lihat nantinya siapa yang akan tertawa pada akhirnya."
Pada saat itu mereka siap-siap ingin menghajar Raden Surya Biantara. Tentu saja mereka harus melaksanakan tugas itu dengan sangat baik daripada mereka akan mendapatkan masalah dari Gusti Putri mereka.
...***...
Di tempat persembunyian rahasia.
Suasana hati Gusti Putri saat itu tidak tenang sama sekali. Karena saat itu ia belum juga menerima kabar baik dari apa yang ia inginkan.
"Sampai saat ini belum juga ada kabar mengenai Raden surya biantara. Apakah mereka benar-benar bisa menangkapnya ayahanda?."
"Bersabarlah barang beberapa hari. Menuju desa lembung pasa bukalah perjalanan kita menuju ke istana yang hanya ditempuh dalam beberapa masa saja. Akan tetapi membutuhkan dua hari untuk sampai ke sana." Laki-laki itu hanya menghalang nafasnya ketika ia sudah tidak sabar dan tidak tahan mendengarkan keluhan yang disampaikan oleh putrinya itu. "Duduklah dengan tenang untuk beberapa hari. Atau kau membutuhkan hiburan untuk menghilangkan kebosananmu itu?." Dengan senyuman yang sangat ramah ia menawarkan kepada putrinya itu.
...***...
Raden Sahardaya Biantara dan beberapa orang prajurit yang ikut dengannya saat itu baru saja meninggalkan perbatasan kerajaan. Pada saat itu mereka bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
"Apakah kalian telah membereskan semua yang telah kalian lakukan malam tadi?."
"Sudah Raden."
"Kalau begitu sampaikan kepada mereka semua jika kita akan berangkat dengan secepatnya supaya kita segera sampai di desa lembung pasa."
__ADS_1
"Sandika Raden."
Semua prajurit langsung memeriksa bawaan mereka, tentu saja mereka tidak ingin tertinggal. Atau meninggalkan sesuatu yang buruk di sana.
"Raka surya biantara. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?. Kenapa sampai hatiku melakukan perbuatan yang jahat itu?. Apakah selama ini kau telah menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya?." Dalam hatinya saat itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan kakaknya. Akan tetapi ketika ia mendengarkan beberapa kabar, dan secara langsung bagaimana kondisi jenazah Putri Jayanti Latsmi dan anaknya Santika Jayanti?. Saat itu pulau terbesit di dalam pikirannya bagaimana kekejaman yang telah dilakukan oleh kakaknya terhadap anak dan istrinya. "Aku sendiri yang akan menangkapmu. Aku sendiri yang akan mengungkapkan apa yang telah kau lakukan sebenarnya." Dalam hatinya pada saat itu telah bertekad akan melakukan sesuatu kepada kakaknya jika bertemu nanti.
...***...
Di istana.
Prabu Maharaja Kencana Biantara pada saat itu mencoba untuk menenangkan dirinya. Apalagi ya sudah tidak tahan lagi dengan suara tangisan istrinya yang memohon-mohon agar tidak memperlakukan anaknya dengan kasar.
"Tidak mungkin anak kita melakukan perbuatan keji itu kanda Prabu!. Aku mohon kepadamu agar tidak memperlakukannya dengan kasar!. Kita masih bisa membicarakan masalah itu dengan baik-baik padanya!."
"Sudahlah dinda." Entah kenapa perasaan kesal menyelimuti suasana hatinya. "Kau pikir aku tega melakukan itu kepada anakku sendiri?. Akan tetapi harga diriku sebagai seorang raja sedang dipertahankan." Amarah itu sedang bergejolak di dalam hatinya. "Bagaimana ucapan mereka ketika mendengarkan bahwa anakku telah melakukan kesalahan yang sangat tidak manusiawi!. Bukan hanya saja membunuh warga desa yang tidak berdosa. Akan tetapi dengan sangat kejamnya dia membunuh anak dan istrinya." Hatinya kembali bergejolak bergemuruh ketika ia mendengarkan berita-berita buruk dari luar istana.
"Bukankah kanda sendiri telah mengetahui bagaimana perangai anak kita?. Seharusnya sebagai seorang ayahandanya?. Kanda Prabu bisa melindungi putra kita dari masalah apapun." Tangisannya semakin pecah mendengarkan ucapan suaminya.
"Aku memang ayahandanya. Tapi jika anakku telah melakukan kesalahan yang telah mencoreng nama baikku!. Tentu saja aku tidak akan mengampuninya." Suara Prabu Maharaja Kencana Biantara semakin meninggi. Emosinya pada saat itu semakin meningkat dengan apa yang telah ia dengar dari istrinya yang membela anaknya.
"Oh!. Tega sekali kau kanda Prabu. Sebagai seorang ayahandanya, kau sama sekali tidak membela anakmu." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya saat itu benar-benar sakit dengan apa yang telah dikatakan oleh suaminya sendiri.
Prabu Maharaja Kencana Biantara hanya berpasrah diri ketika istrinya pergi meninggalkannya. "Sebagai ayahanda dari Raden surya biantara. Tentu saja aku ingin membela anakku sendiri. Tapi sebagai seorang raja aku akan membela hak rakyat yang telah diperlakukan dengan semena-mena. Apakah menurutmu aku ini orang yang tidak bisa mempertimbangkan satu masalah dengan masalah lainnya?." Dalam hatinya sangat sakit mengingat apa yang telah dikatakan oleh istrinya. "Apakah menurutmu aku tidak bisa memutuskan hal yang baik?. Sebab kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat. Aku bisa apa jika rakyat mengatakan melakukan hukuman yang sangat berat terhadap putraku itu." Dalam hatinya sangat sakit dan tidak bisa memilih yang mana yang harusnya dengar saat itu. Sebagai seorang raja ia hanya memutuskan apa yang telah diputuskan oleh musyawarah dengan suara yang terbanyak. Walaupun pada akhirnya ia harus kehilangan anak yang ia cintai. Memang sangat miris sekali.
__ADS_1
...***...