
...***...
Putri Aswaja Rahayu Dewi tidak dapat lagi menahan dirinya ketika ada seseorang yang tidak ia kenal tapi mengetahui rahasianya?. Dengan serangan yang sangat cepat ia menyerang sosok misterius itu, hatinya sangat panas sebelum ia menghajar orang itu?.
"Tebasan dari pedang itu membuat aku merinding, nyawaku bisa melayang dengan sia-sia jika aku terkena tusukan pedang itu." Dalam hatinya sangat takut dengan hawa pedang itu.
"Bajingan busuk!. Jangan hanya bisa menghindari saja!. Lawan aku!. Akan aku bunuh kau!." Dengan amarah yang sangat membara ia terus menyerang musuhnya.
"Kalau begitu akan aku gunakan jurus itu." Dalam hatinya sedang memikirkan hal yang sangat tepat untuk menghindari pertarungan itu lebih lama lagi. Dengan gerakan yang sangat cepat ia mempersiapkan dirinya untuk menjadi umpan?. Ia berlari dengan sangat cepat ke arah Putri Aswaja Rahayu Dewi, dan saat itu ia seperti sedang menebarkan sesuatu yang tak kasat mata.
"Kurang ajar!. Apa yang telah kau lakukan sebenarnya?." Amarahnya benar-benar sangat memuncak dengan amarah yang sangat membara.
Deg!.
Tiba-tiba saja langkahnya terasa sangat berat ketika ia merasakan ada sesuatu yang menahan kakinya?. Saat itu ia melhat ada beberapa duri yang menancap di kakinya?. "Apa yang telah kau lakukan padaku?." Kakinya benar-benar bergetar kesakitan karena duri yang menancap dikakinya ternyata telah dilumuri dengan racun yang dapat melumpuhkan syaraf manusia.
"Sayang sekali, aku ingin membunuhmu sebenarnya. Tapi aku sedang memiliki masalah yang sangat penting sekarang." Dengan sangat cueknya ia meninggalkan Putri Aswaja Rahayu Dewi yang sedang beru sha untuk lepas dari pengaruh racun itu.
"Kau bedebah!. Jangan bermain-main kau denganku!. Akan aku bunuh kau!." Emosinya saat itu sangat meledak-ledak.
"Kau tidak udah banyak bicara." Dengan sangat santainya ia menggendong Raden Surya Biantara yang masih belum sadarkan diri. "Jika kau masih berniat ingin bertarung denganku?. Maka lihat dulu kondisimu. Aku dengan mudahnya dapat membunuhmu sekarang juga jika aku ingin melakukan itu." Ia tatap Putri Aswaja Rahayu Dewi yang masih bersikeras ingin bertarung. "Sebaiknya kau simpan saja kesombongan yang kau miliki, karena aku muak dengan orang seperti kau. Aku bisa saja membunuhmu dengan racun yang lebih ganas lagi jika aku mau." Setelah berkata seperti itu ia melompat ke atas pohon.
"Kurang ajar!. Kembali kau!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras, dan ia sangat kesal karena tubuhnya sama sekali tidak mau digerakkan.
"Kau jangan memancing amarahku untuk membunuhmu. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan orang agung." Sosok misterius sangat kesal. "Diam lah di sana sampai besok pagi. Semoga saja kau tidak dseruduk babi hutan jika kau tidak dijemput seseorang malam ini." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan Putri Aswaja Rahayu Dewi yang berteriak keras memanggil namanya dengan amarah yang sangat membara.
"Kembali kau bedebah busuk!." Teriakannya yang menggema di hutan belakang Istana.
__ADS_1
...***...
Istana.
Beberapa orang prajurit yang melihat itu tentunya sanagt heran ketika melihat ada banyak orang yang tergeletak begitu saja di halaman istana?.
"Prajurit!."
Deg!.
Kelima prajurit itu sangat terkejut mendengarkan suara Patih Reswara Pradipta yang memanggil mereka?.
"Apa yang terjadi sebenarnya Gusti?."
"Jangan banyak bertanya!. Cepat bawa Gusti Prabu Maharaja kencana biantara dan Prabu adinegara prabeswara ke dalam istana. Gotong keduanya karena mereka saat ini sedang tidak bisa bergerak."
"Sandika Gusti Patih."
"Mohon maaf Gusti Prabu."
Tentunya mereka tidak ingin terkesan sangat lancang karena telah berani menyentuh Raja mereka seperti itu.
"Bawa aku ke dalam."
"Sandika Gusti Prabu."
Dengan sangat hati-hati mereka membawa junjungan mereka ke dalam istana. Tentunya mereka masih sangat sayang dengan nyawa mereka jika sampai bersikap kasar pada seorang Raja.
__ADS_1
"Aku juga harus bisa bergerak. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada anakku." Dalam hati Patih Reswara Pradipta cemas dengan anaknya. "Dia adalah seorang ahli racun, jika dia bisa melumpuhkan kami semua dengan racun yang dia miliki?. Ada kemungkinan dia akan menggunakan racun yang sangat berbahaya untuk melumpuhkan anakku." Dalam hatinya sangat panik memikirkan kemungkinan terburuk yang akan ia hadapi saat itu.
"Gusti Patih." Ada seseorang yang melompat dan memberi hormat padanya.
"Cepat temukan anakku. Aku bisa mengatasi masalah ini dengan sangat baik." Ia sudah tidak tahan lagi dengan pikiran buruknya tentang keselamatan anaknya.
"Gusti Patih jangan khawatir, kami telah berpencar untuk mencari keberadaan Gusti putri."
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir dengan keselamatan anakku."
"Kalau begitu akan hamba bantu Gusti pergi dari sini."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan halaman istana, apalagi saat itu panas terik membuat mereka sanagt tidak nyaman sama sekali.
"Cari orang itu. Bunuh saja dia, jangan beri ampun pada orang yang telah menculik Raden surya biantara."
"Sandika Gusti."
"Aku tidak akan pernah membiarkan orang bedebah itu melarikan Raden surya biantara dari hukuman mati." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi, padahal tadinya ia ingin menyaksikan Raden Surya Biantara dihukum pancung. Tapi sepertinya ada seseorang yang mencoba untuk bermain-main dengannya?.
...***...
Sementara itu sosok hitam yang telah berhasil membawa Raden Surya Biantara dari Istana.
Saat itu ia baringkan tubuh Raden Surya Biantara yang masih belum sadarkan diri.
"Begitu banyak masalah yang kau hadapi Raden. Untuk saat ini kau istirahat saja di sini untuk sementara waktu." Ia merasa sangat bersimpati pada Raden Surya Biantara. "Aku yakin dia akan mengalami guncangan jiwa setelah apa yang ia alami. Kali ini aku akan mendapatkan pekerjaan yang lumayan sangat berat. Aku harap dia mampu menjalani masalah ini dengan baik." Dalam hatinya hanya berharap jika Raden Surya Biantara akan kuat. "Tapi aku juga penasaran dengan apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Apakah dia orang yang mudah putus asa atau tidak?. Aku juga ingin melihatnya." Ia hanya tersenyum di balik penutup wajah itu. "Perlihatkan padaku bagaimana kau menghadapi masalah ini Raden." Ia melangkah menuju keluar setelah ia merasakan bagaimana perutnya yang mulai terasa sangat lapar. "Pekerjaan hari ini cukup melelahkan." Dalam hatinya memikirkan masakan apa yang akan ia masak malam ini. "Beberapa ikan bakar, atau burung bakar juga enak rasanya." Ia malah tertawa kecil sambil membayangkan masakan enak yang akan ia buat malam ini.
__ADS_1
Next halaman.
...***...