BALAS DENDAM & CINTA

BALAS DENDAM & CINTA
CHAPTER 23


__ADS_3

...***...


Raden Sahardaya Biantara sangat terkejut dengan apa yang telah mereka katakan?.


"Apakah kau mendengarkan aku tuan pendekar?. Jika kau masih ingin membelanya?. Maka kau yang akan bertanggung jawab untuk menikahinya."


Belum ada tanggapan sama sekali dari Raden Sahardaya Biantara, ia terlihat sangat terkejut dengan ucapan mereka sehingga ia belum memberikan tanggapan apapun.


"Tapi, aku merasa kasihan padanya." Dalam hatinya memang tidak tega melihat wanita muda yang sedang hamil itu merintih kesakitan. "Memangnya aoa yang akan kalian lakukan padanya?. Sehingga kalian menyakitinya seperti itu?."


"Dia adalah wanita yang sangat kotor, dan kami akan membunuhnya dengan melemparinya ke jurang."


Deg!.


Jantung Raden Sahardaya Biantara semakin handak lepas mendengarkan ucapan itu.


"Apakah hanya karena ia hamil tanpa mengetahui siapa laki-laki yang telah menodainya?. Kalian ingin membunuhnya dengan melemparinya ke jurang?." Ada bentuk amarah yang hendak ia sampaikan saat itu.


"Itu adalah perintah dari Gusti Prabu kami!. Sudah sejak lama hukum ini berlaku!. Kau hanya lah orang luar, dan kau tidak usah ikut campur jika kau hanya akan menghambat pekerjaan kami."


Kelima prajurit yang menyeret wanita muda itu terlihat sangat marah, mereka sangat tidak suka jika ada orang asing yang ikut campur dengan masalah yang sedang mereka atasi.


"Tuan pendekar. Sebaiknya-."


"Baik!. Aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilan wanita ini!." Dengan sorot mata yang tajam ia melotot ke arah mereka semua.


Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah diucapkan oleh Raden Sahardaya Biantara.


"Tuan pendekar. Apakah tuan serius dengan ucapan tuan pendekar?."

__ADS_1


"Aku selalu serius dengan apa yang telah akau katakan!. Aku yakin kalian semua masih belum tuli dengan apa yang telah akau katakan tadi!."


Kelima prajurit itu saling bertatapan satu sama lain, seakan-akan masih belum percaya dengan apa yang telah mereka dengar.


"Tuan pendekar. Jika tuan menolong saya karena perasaan kasihan?. Sebaiknya tuan pendekar-."


"Sshh." Dengan pelan ia mendekati wanita muda yang tampak kesakitan itu dengan tatapan yang sangat lembut. "Ini bukan masalah kasihan saja. Nini adalah wanita yang sangat istimewa, jadi nini masih pantas hidup untuk membesarkannya. Dari pada nini ikut terbunuh bersamanya." Dengan senyuman lembut ia berkata seperti itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu wanita muda itu untuk berdiri.


Deg!.


Wanita muda itu sangat tersentuh dengan apa yang telah dilakukan Raden Sahardaya Biantara, ia dapat merasakan bagaimana perkataan yang sangat tulus dari seorang laki-laki dalam bertutur kata.


"Terima kasih tuan." Wanita muda itu menggenggam erat tangan Raden Sahardaya Biantara sambil menangis sesegukan. "Apakah dengan ini aku bisa membalaskan dendamku pada orang yang telah menodai aku?." Dalam hatinya menjerit sakit dengan apa yang telah terjadi padanya saat itu.


...***...


Raden Surya Biantara saat itu sedang berada di dalam perjalanan bersama nini Kemuning menuju sebuah tempat.


"Apakah kau takut Raden?."


"Justru aku malah takut dengan wajah nini yang sangat menyeramkan."


"Apakah kau sidah bosan hidup Raden?. Berani sekali kau mengatakan jika wajahku yang menyeramkan?."


Deg!.


"Ti-ti-tidak nini, mungkin kau salah dengar tadi." Raden Surya Biantara benar-benar sangat tidak berkutik pada nini Kemuning, wanita yang memiliki hawa yang tidak biasa.


"Sebentar lagi kita akan sampai. Jadi kau tenang saja." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat seram?. "Ini adalah lembah kematian, jadi wajar saja kalau tempat ini terlihat sangat menyeramkan."

__ADS_1


"Lembah kematian?. Apakah masih wilayah yang dipimpin oleh Gusti Prabu Maharaja kencana biantara?."


"Tidak, ini perbatasan yang menyeramkan antara kerajaan batu alam dewa, dan kerajaan teratai besi. Ini adalah tempat berdarah ketika dua orang Raja saling bertikai untuk memperebutkan kekuasaan. Makanya tempat ini dinamakan dengan lembah kematian."


"Sepertinya nini mengetahui banyak hal."


"Aku ini memang sangat pintar dari apa yang kau bayangkan."


"Huah?. Percaya diri sekali." Dalam hati Raden Surya Biantara antara kaum dan kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nini Kemuning.


Mereka saat itu terus berjalan cepat, namun seperti orang yang sedang terbang saking cepatnya. Itu karena mereka menggunakan jurus ilmu meringankan tubuh, mereka ingin cepat sampai pada tujuan.


...****...


Di Istana.


Ratu Saraswati Tusirah sangat cemas menunggu kabar dari anaknya Raden Sahardaya Biantara. Hatinya mendadak gelisah karena anaknya yang belum juga kembali. Ia sekalu menunggu kepulangan anaknya di serambi depan Istana. Sudah beberapa kali ia lakukan, seakan-akan ia menaruh kepercayaan bahwa kedua anaknya akan kembali dengan segera?.


"Semoga saja kau baik-baik saja anakku, ibunda akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Ia tidak dapat menahan kesedihan yanag ia rasakan saat itu. "Ibunda hanya ingin kau kembali dalam keadaan baik-baik saja."


"Itu semua karena putra sulung dinda yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Prabu Maharaja Kencana Biantara yang berdiri di belakangnya.


"Apakah Raden surya biantara bukan putra kanda hanya karena dia telah melakukan kesalahan?. Sehingga kanda Prabu berkata seperti itu pada dinda?." Suasana hatinya sangat kesal dengan ucapan itu.


Terlihat sang Prabu sedang menghela nafasnya. "Dinda. Jangan membuat suasana semakin keruh. Semua orang telah mengetahui jika surya biantara telah melakukan kejahatan itu."


"Sebagai seorang Raja, harusnya kanda Prabu memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Jika perlu mencari tahu apa yang telah terjadi sebenarnya sebagai seorang ayahanda dari Raden surya bintara." Tatapannya menjadi sorot mata yang penuh dengan kebencian yang sangat dalam. "Bukan mendengarkan kata orang yang bisa saja ingin menyingkirkan putraku dengan cara yang kotor seperti memfitnah putraku yang telah melakukan kejahatan itu." Hatinya sangat panas dengan apa yang telah terjadi pada anaknya.


Kembali Prabu Maharaja Kencana Biantara terlihat menghela nafasnya. "Dinda, sebaiknya dinda menenangkan diri. Sebab, masalah yang terjadi tidak sebaik yang dinda inginkan." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan Ratu Saraswati Tusirah yang tampak sedih.

__ADS_1


"Kanda boleh saja berkata seperti itu. Tapi sebagai seorang ibunda dari Raden surya biantara!. Aku akan lebih percaya dengan anaknya yang memiliki tatapan yang sangat jujur ketika hendak diberikan hukuman mati sekalipun!." Dengan suara yang sesegukan ia berusaha untuk menyampaikan itu, walaupun tidak ada tanggapan sama sekali dari Prabu Maharaja Kencana Biantara. "Aku sangat yakin jika anakku tidak melakukan kesalahan apapun. Anakku yang mengatakan jika ia hanya dijebak saja. Tidak mungkin anakku berkata dusta." Hatinya menangis sedih dengan itu semua.


...***...


__ADS_2