
"Bagaimana kalau kita tetap meneruskan usaha kita yang lama sayang?". Pendapat bang gala
" Tapi apakah bisa, bahkan disini kita tidak tau dimana beli alat dan bahan jika dibutuhkan". Jawabku sedikit ragu
"Ya kita coba saja dulu sayang, kita juga tidak tahu kan bagaimana hasilnya sebelum di coba". Jawab bang gala
" Baiklah bang". Jawabku
Sebenarnya dalam hati ini menginginkan untuk bang gala mencari kerja diluar, karena usaha ditempat baru akan memakan waktu lama, sedangkan kami membutuhkan uang secepatnya, namun lagi lagi kecewa datang karena juga tidak mungkin meskipun terpaksa, selain kondisi kesehatan bang gala yang tidak bisa kerja diluar kami disini juga tempat baru, belum mempersiapkan identitas baru juga.
__ADS_1
Pagi hari datang kami menyiapkan peralatan kerja seperti komputer , dan banner logo usaha kami, aku juga memfollow forum kota ini agar cepat menemukan pelanggan dan relasi. Beberapa hari masih belum membuahkan hasil dan untuk kebutuhan sehari hari aku diam diam memakai uang pemberian mamaku untuk kebutuhan anak anak, tidak banyak sedikit demi sedikit agar tidak terlalu mencolok perhatian bang gala ,selain itu juga kami menumpang kepada kedua mertua. Sampai uang pemberian mama hampir menipis usaha kami belum juga membuahkan hasil. Dikala sedang melamun aku teringat dengan adik.ku karena kesehariannya dia berdagang jajanan untuk anak anak, aku terbesit pula ingin mencoba karena tempat tinggal kami sekarang sepertinya cocok, karena depan rumah kami bertepatan dengan sekolah dasar, yang pastinya banyak anak anak.
" Bang, bagaimana kalau kita coba jualan seperti adikku bang, tempat kita ini kan sepertinya cocok karena depan rumah ada tempat sekolah kan bang?". Aku bertanya pendapat bang gala
" Sepertinya ide bagus sayang, tapi itu kan membutuhkan modal dulu sayang". Jawab bang gala
" Oh iya ya aku tidak terpikirkan hal itu". Jawabku kecewa karena kami sedang pada posisi tidak ada modal, sedangkan untuk meminjam ke teman atau saudara juga tidak mungkin. Kami berdua diam memikirkan solusi.
" Apa tidak apa apa, itu kan pemberian mamamu untuk usaha kita yang lama sayang?". Jawab bang gala
__ADS_1
" Sebetulnya iya juga babg, tapi kondisi kita sekaranf tidak ada pilihan lain". Jawabku
" Apapun keputusanmu aku ikut saja sayang". Jawab bang gala
Selalu seperti itu, bang gala selalu tidk berprinsip untuk kedepannya bagaimana kami bertahan dan setiap aku ingin mengeluh tentang kehidupan ekonomi kami, bang gala selalu berlindung dengan pedomannya yaitu keinginan pernikahan ini berawal dari keluargaku, dan keterbatasan kesehatannya, semua itu membuatku selali terbayang bayang rasa bersalah yang teramat besar dan pada akhirnya selalu aku yang mengalah dan mengerti akan keadaan ini
" Trimakasih bang" meskipun sedikit kecewa dengan jawaban bang gala, aku berusaha berterima kasih karena dia masih mengikuti saranku, bukan karena apa karena ini kedepannya juga menyangkut kehidupanku dan anak anak juga, jika tidak bisa mengandalkan orang lain, aku harus bisa mengandalkan diri sendiri dan kuga tidak mungkin terus terusan berpangku tangan kepada kedua orang tuaku.
" tapi ijin dulu ke mamamu ya sayang jika ingin menjual etalase itu, aku tidak ingin mamamu berpikiran yang macam macam". Saran bang gala kepadaku
__ADS_1
" Baik bang".