Beban Keluarga

Beban Keluarga
next 2


__ADS_3

Aku kembali bekerja seperti biasanya karena memang kegiatan sehari hari seperti itu, tidka ada kegiatan lain karena tidak ada keluarga disini namun sebenarnya ada, adikku juga ada dinegara ini, namun bagaimana mungkin bisa menemuinya bahkan keluar rumah saja banyak aturan kesehatan, dan kemungkinan tidak diperbolehkan apabila tidak terlalu penting.


" Halo ma assalamualaikum, tiba tiba sinta menelponku


" Waalaikumsalam nak, kenapa seperti bersedih?" Tanyaku karena terlihat wajah sedih putriku dalam video call ini


" Maaf ya ma, aku tidak lolos tahap kedua ini, aku gagal ma, jawab sinta sedikit menangis


" Gagal bukan hal yang salah sayang, itu wajar, mungkin kesempatanmu bukan sekarang, kita coba tahun ajaran depan yaa ? Jawabku setengah menyemangati agar sinta tidak terlali bersedih

__ADS_1


" Apa mama tidak apa apa, apa mama tidak marah?" Tanya sinta , oh ternyata ini yang membuatnya sedih karena takut aku kecewa atau marah akan berira mengenai kegagalannya dalam tahap kedua


" Mama marahpun tidak mengubah keadaan sayang, aku menjawab mencoba mengerti keadaan sinta agar tidak tertekan,


" Itu artinya aku tidak bisa mengikuti kuliah tahun ajaran ini dong ma, aku harus ikut yang tahun depan?" Tanya sinta kepadaku


" Tapi ma ( hiks hiks) , maafin sinta ya ma?" Kata sinta


Lagi lagi sinta berbicara sambil menangis karena kegagalan ini, aku terus berusaha menenangkan hati dan pikirannya agar tetap semangat, aku sangat paham perasaannya karena dari awal sinta sangat bersemangat mengikuti tes untik kuliah ini.

__ADS_1


Tidak ada percakapan lagi antara kami karena sinta tengah bersedih, aku membiarkannya terlebih dahilu supaya menenangkan diri, setelah itu baru aku akan beri nasehat kepada sinta.


Setelah kegagalan test kemarin sinta memutuskan untuk kembali bekerja di tempat kerja kemarin, karena memang sinta belum mengajukan resign, tapi hanya ijin cuti beberapa hari untuk mengikuti test tahap kedua itu. Entahlah apa yang di atur Tuhan untuk takdir putriku ini namun selalu aku panjatkan doa yg terbaik untuk anak anakku.


Semakin lama semakin jenuh menghadapi pekerjaan ini karena tidak ada aktivitas lain yang di perbolehkan, tapi mau bagaimana lagi ini sudah ujian dan takdir yang maha kuasa, kita sebagai manusia hanya bisa berserah dan berpasrah kepada-Nya. Rutinitas pekerjaan selalu dikerjakan karena memang inilah tujuanku berangkat kerja di luar negeri, jika tidak dikerjakan yaa, aku harus ingat kembali tujuanku datang ke negara ini untuk apa. Selalu juga aku mendoakan anak anak agar tidak terjerumus seperti kami kedua orangtuanya, semoga mereka kelak menjadi orang orang sukses.


Namun lagi lagi aku mendengar kabar yang kurang mengenakkan lagi dari keluargaku, karena kabarnya putriku sinta didesak untuk segera menikah saja setelah beberapa bulan dari kegagalannya masuk ke perguruan tinggi, sinta sempat membantah dan menolak namun keluarga suami terlalu mendesak, dan mereka berkata meskipun sudah berumah tangga masih bisa masuk ke perguruan tinggi. Ya Allah ujian apalagi ini, bahkan aku belum diperbolehkan pulang ke tanah air. Sedih tak terbendung mendengar kabar ini, aku saja belum siap menerima hal ini bagaimana dengan putriku sinta.


istighfar terus di ucapkan agar hati dan pikiran kembali tenang, cobaan apalagi ini, aku kerap berfikir awal kepergianku ke luar negeri adalah keputisan yang salah. Sehingga masa depan anak anakku tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2