Beban Keluarga

Beban Keluarga
.....


__ADS_3

" Pasti mereka diluar, tapi kenapa lama sekali". Batinku


Namun menunggu beberapa saat hanya perawar yang masuk, membawa barang2 kebutuhan. Akhirnya aku bertanya ke salah satu perawat. " Sus, keluarga saya kemana ya kok tidak ada yang menemani".


" Maaf ibu, ibu sekarang sedang ada di ruang isolasi karena ibu terpapar virus, dan memang tidak boleh ada yang menjenguk atau menemani kecuali kami pihak perawat, ini handphone dari suami ibu jika ingin menghubungi mereka". Jawab perawat tersebut sembari menyodorkan telepon ke arahku. Aku hanya terpana mendengar perkataan perawat itu entah mau nangis atau marah karena pertama kali operasi tapi tidak ada yang menemani.


Setelah perawat keluar ruangan aku langsung menelpon suamiku..


" Halo bang, abang dimana". Tanyaku sambil menangis

__ADS_1


" Aku di luar ruangan sayang, perawat melarang siapapun masuk untuk menemani dan menjenguk. Jawab suamiku.


Seketika tangis pecah karena harus menjalani ini sendiri, " jangan nangis sayang, karena tidak ada pilihan lain, kita harus mengikuti prosedur rumah sakit, sabar yaa". Jawab suamiku lagi


" Aku takut bang sendirian, kaki aku tidak bisa bergerak, aku takut". Hanya itu yang bisa aku katakan sambil menangis namun aku hanya bisa menututi perkataan suami untuk bersabar, dan akhirnya aku menjalani prosedur pasca operasi sendirian tanpa di dampingi suami dan keluarga , bahkan anak yang baru saja keluar dari rahimku tidak diperbolehkan Bertemu.


Dengan berat hati aku hanya bisa pasrah menunggu waktu pulang di rumah sakit sendirian,  jadwal minum obat dan terapi gerak pun di lakukan sendiri, sering kali air mata menangis karena merasa sendirian, takut, pikiran campur aduk yang dirasakan apalagi banyak rumor yang mengatakan bahwa apabila sudah terpapar virus ini kemungkinan bisa kehilangan nyawa, aku dan suamiku serta anakku yang pertama hanya bisa bertatap muka melalui video call saja,


Beberapa hari diruma sakit nafsu makan sedikit terganggu, aku lupa jika efek terpapar virus ini adalah berkurangnya kinerja indra perasa.

__ADS_1


"Roti apa sayang?". Jawab suamiku


" Roti cokelat bang".


Selang beberapa waktu roti datang di antar oleh salah satu perawat, namun tetap saja tidak berasa roti tersebut, namun rasanya terharu sekali karena selama proses operasi kemarin suamiku serta bibiku sangat kesusahan menangani prosedur prosedur rumah sakit dan menemaniku pasca operasi.


anakku yang baru saja lahir juga memerlukan beberapa pemeriksaan karena aku terpapar virus ini saat mereka masih ada di dalam kandungan oleh sebab itu mereka juga tidak di perbolehkan untuk pulang, namun ruangan mereka terpisah, ada ruang isolasi khusus bayi, sedih ini bertambah karena tidak dapat bertemu anak yang baru saja dilahirkan.


Tidak terasa 4 hari berlalu aku di beri informasi akan pulang hari ini, namun masih belum diperbolehkan untuk berkumpul dengan keluarga, ini artinya sama saja belum dipulangkan tetapi harus melaksanakan protokol kesehatan untuk karantina mandiri selama 2minggu, aku memilih pulang kerumah orang tua karena memang di sana sepi dan jarang ada orang keluar masuk agar yang lain tidak tertular, namu suamiku tak tega sehingga dia berani melanggar protokol untuk jangan bertemu, suamiku setiap hari datang menjenguk dan membantu merawat karena untuk berjalan masih sedikit susah.

__ADS_1


Anakku masih belum di perbolehkan untuk pulang karena ada beberapa pemeriksaan yang belum selesai, dan mereka diperbolehkan pulang 2 hari setelah aku dipulangkan dari rumah sakit


Alhamdulillah biaya administrasi melahirkan gratis dan di tanggung pemerintah karena diriku masuk kategori pasien covid yang terpapar virus.


__ADS_2