Beban Keluarga

Beban Keluarga
perjalanan kerumah adik


__ADS_3

Menunggu di teras rumah, kurang lebih 15menit ayahku sampai, dan suamiku bergegas memasukkan karung karung beras kedalam bagasi mobil, sambil dibantu ayah dan adikku yang kecil, namanya dimas. Setelah masuk semua kami langsung berangkat kerumah adik, aku hanya membawa anakku yang pertama, karena jika membawa ketiga tiganya tidak mungkin, anakku yang kedua umurnya masih belum diperbolehkan untuk keluar rumah. 40menit kira kira kami sudah sampai dirumah adikku, dan langsung menurunkan semua beras karena memang sudah ditunggu.


"Alhamdulillah, sudah selesai". Aku bicara sendiri karena bersyukur urusan dengan mudah selesai, meskipun ada masalah baru yang sudah siap menunggu, yaitu balik modal kurang 1juta, ini kesalahan kami karena terlalu percaya diri dengan penjualan, sehingga mengira2 laba penjualan sudah pasti ada 1juta sehingga menggunakan terlebih dahulu uang tersebut dari hasil penjualan beras. Dan 1 juta lagi untuk membeli peralatan pengepakan kemasan, dengan begitu uang yang di dapat sekarang masih kurang 2juta untuk di kembalikan kepada bibiku,


"Tapi bibi minta tolong untuk benar benar di kembalikan setelah hari raya, karena uang itu milik orang orang yang titip kepada bibi untuk digunakan setelah hari raya nduk" kata bibiku kala itu saat memberikan uang itu


Aku dan suami langsung pulang setelah transaksi dengan adikku selesai, badan terasa lelah karena beban pikiran bagaimana cara mencari sisa uang yang seharusnya dikembalikan


"Bibi, maaf ya aku hanya bisa mengembalikan uang modal beras masih terkumpul setengah dari uang yang di pinjami bibi kemarin, aku juga tidak mengira kalau penjualan beras tahun ini merosot drastis bibi, bagaimana bi?" Tanyaku kepada bibi untuk bernegosiasi

__ADS_1


"Aduh bagaimana nduk, bibi tidak punya solusi lain nduk karena itu bukan uang bibi". Jawabnya dengan nada pasrah


" Maaf ya bi, aku juga bingun, apakah tidak ada pinjaman sementara bi ?" Tanyaku memohon bantuan


, Terdengar suara bibi menghela nafas besar


"Trimakasih bi". Jawabku


Aku merasa tidak enak setelah ini karena bibiku sudah berusaha membantu agar aku mempunyai pemasukan, tapi malah seperti ini kejadiannya, namun apapun yang terjadi ini bukan hal yang di sengaja, aku juga tidak mengerti kenapa penjualan tahun ini bisa seperti ini , padahal di tahun tahun sebelumnya penjualan baik baik saja

__ADS_1


" Bang, kata bibi akan di carikan pinjaman sementara untuk menutupi kekurangan uang kemarin". Kataku kepada suamiku


"Kita jadi tidak enak ya sama bibi kamu sayang, tapi kita masih beruntung bibi masih mau pengertian sama kita? " Kata suamiku


" Iya bang, jadi bagaimana kita mencari sisa uangnya yg belum ada ini bang, bibi membantu kan bukan berarti kita tidak ikut mencari juga". Kataku kepada suamiku


" Yaa itu ini sedang dipikir, sedangkan kebutuhan anak anak juga harus terpenuhi, kasihan mereka masih kecil". Jawab suamiku


Begitulan diskusi diskusi kecil kami mengenai masalah ini, kami termasuk pasangan yang kompak namun ada juga beberapa bagian yang tidak kompaknya hehehe. Pada era virus CORONA ini begitu susah mencari pendapatan, bahkan sumber pemasukan kami begitu sepi karena beberapa faktor dari virus ini, beberapa pegawai saja bahkan banyak juga yang di rumahkan, untuk kegiatan diluar rumah juga di batasi untuk hanya beberapa orang dan kepentingan tertentu saja yang di perbolehkan.

__ADS_1


__ADS_2