
Aku mendengar kabar setelah kelulusan anakku kemarin, dia langsung di tempatkan kerja oleh sekolahnya di perusahaan industri karena memang sekolah yang di tempuh anakku adalah sekolah kejuruan, dan memang di wajibkan untuk bekerja setelah lulus karena sekolah mereka sudah menerima kontrak dengan beberapa perusahaan apabila sudah kelulusan diwajibkan bagi mereka untuk langsung bekerja di beberapa tempat tersebut.
" Assalamualaikum ma" tiba tiba anakku melakukan panggilan video saat aku tengah bekerja,
" Waalaikumsalam nak". Jawabku
" Ma, aku mulai besok sudah bekerja di tempat yang dipilihkan sekolahku ma". Kata anakku
" Oh ya nak, bukannya kamu ingin kuliah?" Tanyaku kepadanya karena setauku dia ingin sekali meneruskan sekolah kejuruannya hingga perguruan tinggi". Tanyaku heran
* Iya sih ma, tapi kuliah bisa tahun depan ma, aku ingin coba bagaimana rasanya kerja, hitung hitung hasilnya nanti bisa di tabung untuk biaya pendaftaran ke universitas". Jawab anakku
__ADS_1
" Kamu tidak usah memikirkan biaya kuliahmu nak, kamu masih tanggung jawab mama dan ayah, bukannya orangtuamu ini masih sama sama kerja, sudah pasti kami sudah menyiapkan uang untuk biaya pendidikan kamu dan adik adikmu". Jawabku
" Tidak apa apa ma, hitung hitung juga cari pengalaman, mama simpan saja kalau memang ada uang, untuk adik adik". Jawab anakku
" Baiklah nak jika itu kemauan mu mama akan doakan yang terbaik untukmu". Aku meyetujui keputusan anakku
" Terimakasih ma, aku matikan terlebih dahulu ya teleponnya, aku harus mempersiapkan biodata untuk perusahaan besok ma assalamualaikum". Jawab anakku
Aku kembali bekerja seperti biasanya , namun sekarang serba susah karena terisolir didalam rumah tidak boleh melakukan aktivitas keluar rumah, bahkan hanya untuk membeli kebutuhan saja harus dengan pengawasan ketat. Sudah 2 bulan berlalu dengan keadaan terisolir dunia luar, hanya berada didalam rumah sepanjang hari terdengar kabar dari anakku katanya dia sudah melakukan tahap test pertama untuk masuk universitas karena dirasa sudah cukup pengalaman bekerja dan sudah waktunya mendaftar universitas, tidak henti hentinya doa ini terucap agar anakku dapat yang terbaik, sekarang virus yang sedang marak itu sudah mulai berkurang dan aku sudah bisa melakukan aktivitas luar rumah meskipun masih di batasi beberapa peraturan.
Tiba tiba terdengar kabar yang kurang mengenakkan hati dan pikiran ini, yaitu kabar pernikahan anakku. kabar yang sering kali aku khawatirkan ini akhirnya terdengar juga, tapi kenapa secepat ini.
__ADS_1
" Halo assalamualaikum nak". Aku langsung menghubungi sinta
" Waalaikumsalam ma". Jawabnya
" Kenapa kabarnya tiba tiba nak, apakah ada sesuatu?" Aku menanyakan kepada sinta
"Ini semua keinginan nenek ma, karena tidak enak dipandang tetangga jika seorang perempuan berteman dengan teman lelaki". Jawab sinta
"Kenapa ayah tidak berdiskusi dulu dengan mama? Trus bagaimana dengan kuliahmu nak?" Tanyaku
" Maaf ma, aku kira ayah sudah memberitahu mama, kalau untuk kuliahku aku tetap kuliah ma, ini hanya sebatas bertunangan saja kata nenek". Jawab sinta
__ADS_1
" Yang terpenting tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, dan cita citamu masih berlanjut nak, mama tidak masalah". Jawabku sedikit sedih karena berita ini, entah sedih karena sinta terburu buru mengambil keputusan itu, atau sedih karena aku tidak bisa mendampingi putriku dalam acaranya