
" Abang tidak apa apa jika bolak balik bertemu, aku khawatir nantinya berdampak sama keluarga dan anak anak bang".
Aku khawatir dengan virus ini jika suamiku sering datang menemuiku,
Sebenarnya tentang rumor virus ini masih banyak masyarakat yang pro kontra dengan berita tersebut, dan suamiku salah satu yg kontra dan tidak percaya akan bahaya bahaya yang akan diterima.
" InsyaAllah tidak apa apa sayang, aku khawatir kamu sendirian merawat diri pasca operasi".
"Trimakasih ya bang, jawabku
Berjalan monoton setiap hari suami datang, membawa bekal dan membantu aku mandi dan persiapan lainnya, hingga tak terasa sudah 2 minggu saja, aku senang karena akan bertemu anak anakku, rindu sekali rasanya lama meninggalkan anaku yabg pertama karena sebenarnya dia masih menyusui.
" Halo anak mama, rizal rindu nggak dengan mama ?".
Tampak wajah gembira dari anakku setelah beberapa hari tidak bertemu, rizal belum bisa berbicara, sehingga hanya bisa merespon dengan tawa dan tangis saja, namun aku paham maksud dari tawa dan tangis tersebut.
Terasa ringan merawat 3 balita sekaligus karena saudara saudara berbondong bondong untuk membantu, beberapa saudara dari pihak keluargaku juga ikut serta menjenguk aku yang baru dipulangkan dari karantina, serta bayiku juga.
Beberapa hari , beberapa minggu situasi mulai sedikit menurun, karena efek dari maraknya virus ini berimbas ke usaha kami yang semakin lama semakin sepi saja , bagaimana tidak diberitakan kalau masyarakat untuk sementara waktu tidak di perbolehkan meggelar acara acara besar seperti hajatan, pesta pernikahan, dan acara acara lain, bahkan sekolah beberapa bulan ini diliburkan , sehingga usaha kami sepi job seperti cetak undangan, sablon seragam, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Yang awalnya bersyukur karena uang pinjaman tidak terpakai dan berniat untuk dikembalikan agar tidak menumpuk hutang, akhirnya malah terpakai untuk kebutuhan sehari hari, hingga suaru saat uang sudah hampir menipis.
"Gimana ini bang, pemasukan kita tidak ada.. sisa uang yang ada sudah hampir habis, susu dan kebutuhan anak anak juga hampir habis". Tanyaku sambil meminta pendapat kepada suamiku
"Sabar ya sayang kita pasti dapat solusi dari semua ini".
Jawab suamiku
Disini kami bersama sama nemutar otak untuk mendapatkan uang, mana sebentar lagi bulan ramadhan , biasanya jika bulan ramadhan kami mejual beras kemasan untuk beras zakat, tahun tahun kemarin juga sama seperti itu, namun usaha ini juga membutuhkan modal besar untuk membeli beberapa ton beras, sedangkan kami tidak ada uang sepeserpun. Ditengah tengah kami sedang berpikir, tiba tiba bibiku menelpon langsung menanyakan apakh aku akan jualan beras kemasan zakat lagi atau tidak ramadhan yang akan datang ini.
"Halo nia?" Sapa bibiku di telepon
"Iya bi, ada menelpon?". Jawabku
" Alhamdulillah sehat bi" jawabku lagi
" Oh iya, sebentar lagi kan ramadhan , kamu jualan beras kemasan zakat seperti tahun kemarin?". Tanya bibiku
Kenapa kebetulan bibiku tanya seperti itu, sedangkan baru saja kami memikirkan hal yang sama , batinku
__ADS_1
"Pengennya seperti itu bi, tapi bibi kan tau sendiri usahaku sedang sepi sepinya, untuk jualan beras zakat membutuhkan modal besar, kami belum bisa sepertinya bi untuk tahun ini karena modal kami belum ada". Jawabku sedikit ragu karena sebenarnya sangat ingin berjualan lagi mengingat tahun kemarin penjualan untung besar.
"Wah sayang sekali yaa padahal pelanggan tetap sudah banyak " kata bibiku
"Ya mau bagaimana lagi bi, " jawabk
" Bagaimana kalau bibi pinjamkan untuk beli berasnya, kamu butuh berapa? Tanya bibiku
Aku dan suami terkejut mendengarnya dan senang ada yang menawarkan untuk meminjamkan modal.
"Memangnya bibi ada uangnya". Tanyaku sedikit ragu karena setahuku bibiku bukan orang punya yg memiliki uang banyak,
" Ya sebenarnya tidak ada, tapi bibi ada uang simpanan orang orang yang titip uang, tapi harus benar benar dikembalikab karena itu juga uang orang, bukan uang bibi pribadi, bibi cuma mau bantu karena pelanggan pasti banyak yang cari". Jawab bibiku
" Iya bi pasti kamu kembalikan, bakhan nanti InsyaAllag kami lebihkan". Jawabku antusias karena senang
"Tidak perlu dilebihkan, buat anak anak saja, yang terpenting uang pokoknya saja yang dikembalikan". Jawab bibiku
"Alhamdulillah terimakasih bi, jadi kapan uangnya bisa kami ambil". Tanyaku lagi karena tidak sabar, karena juga bulan ramadhan tinggal menghitung hari saja, kami juga perlu persiapan untuk mencari beras yang berkilualitas, dan mengemas.
__ADS_1
" Sekarang juga bisa". Jawab bibiku
Selama pembicaraan tidak perlu meminta pendapat suami, karena telepon dalam mode on speaker, dan sudah menunjukkan kode kode bahwa dia setuju