
"Woni, lo kok diem mulu?" tegur Kristal, heran.
"Kamu mikir apa Won?" tanya Hanbin.
"Gue nyesel, udah lakuin itu tadi" aku Jiwon dengan wajah sedih.
"Lo yakin nyesel sama Ojun?" Kristal terkejut.
"Ital.. Bukan Ojun, gue rasa jahat aja sama bunga yang udah gue injek-injek, kan itu bunga gak salah tapi malah jadi pelampiasan amarah gue." jelas Jiwon membuat Kristal dan Hanbin tersenyum.
"Gue kirain apa, soal bunga nanti biar gue yang ambil dosanya dari lo" canda Kristal.
"Wkwk.."
"Jiwon lo itu punya hati nurani bersih sampe bunga aja lo pikirin" gumam Hanbin bangga.
Kelas pun dimulai, mereka belajar dengan serius hingga mata kuliah berakhir.
"Kalian liat gak muka Ojun waktu lo nginjek-injek bunga nya?!" Kristal kembali membahas.
"Hahaha.. Iya muka merah banget karena marah besar!" sahut Hanbin
"Dia emang pantes digituin, muak gue sumpah sama dia." ketus Jiwon.
Mereka melangkah menuju parkiran dengan terus membahas kejadian beberapa jam lalu.
Tit.. Tit..
"Halo mah?" sapa Hanbin.
"Bin mamah udah transfer uang ke kamu, kalo butuh apa-apa kamu tinggal pake ya!"
"Makasih mah" dengan suara khas Binbin.
"Bin apa kamu lagi sama Jiwon?" tanya Marni karena Hanbin masih menggunakan suara penyamarannya.
"Iya mah!" jawab Hanbin yang membuat Marni lega karena berati sang anak masih normal dalam bicara.
"Gimana sama dia?"
"Mah, nanti Binbin telpon mamah, bye mah" tutupnya seketika.
"Kenapa Bin?" tanya Jiwon heran.
"Binbin harus pergi ke tempat lain"
"Kemana?" timpal Kristal heran.
"Keperluan lain" kilah Hanbin yang tak ingin memberitahukan ke mereka.
"Woni anter yah?!" pinta Jiwon, berharap.
__ADS_1
"Nggak usah. Woni sama Ital ke mall duluan, nanti Binbin nyusul deh" saran Hanbin yang menolak halus.
"Nggak apa Bin biar Woni anter lo, kalo udah kalian nyusul ke mall, gimana?" kata Kristal yang tau apa yang diinginkan sahabatnya.
"Woni anter mau yah?" bujuk Jiwon.
"Beneran gak usah, Binbin janji kalo udah selesai langsung temuin kalian." ucap Hanbin menyakinkan.
"Ya udah deh, tapi janji ya?" Jiwon pasrah, yang sebenarnya sedikit kecewa atas penolakan itu.
"Bye Woni, Ital!" pamit Hanbin meninggalkan mereka.
"Tal, lo yang bawa yah?" pinta Jiwon dengan melempar kunci mobil kearahnya.
"Oke!" sahutnya dengan menaiki mobil, mereka pun melaju kencang.
Di sepanjang perjalanan Jiwon hanya diam, rasa hampa tanpa sosok Binbin pun terasa olehnya.
"Won.. Bokap lo balik, kan?" tanya Kristal yang tak didengar oleh Jiwon.
"Woni? Elo ngelamun?" tegur Kristal dengan mencoba mengguncang pundaknya..
"Hah? Nggak, nggak kok.." sangkal Jiwon.
"Terus apa jawaban sama pertanyan gue tadi?" tanya Kristal, menjebak.
"Hehehe.. Gak tau gue Tal" ringis Jiwon, bernada lesu.
"Gue khawatir sama Binbin, gue takut dia nyasar Tal" aku Jiwon.
"Astaga naga Won. Dia itu bukan anak kecil lagi, jadi dia tau jalan kali." Kristal dengan kesal.
"Iya gue tau, tapi kan dia pertama kalinya ke jakarta Ital, jadi gue takut dia salah jalan. Emang salah gue khawatir sama dia?" protes Jiwon.
"Khawatir sih gak salah, tapi kelebayan elo yang salah Woni"
"Namanya juga sama temen Tal, lo ilang juga gue pasti khawatir"
Mengejek, "Makasih, tapi gue gak sebego itu buat ilang"
"Cih.."
"Gue yakin Jiwon itu emang kemakan sumpah si Ojun, bisa gawat ini" gumam Ital dalam hati.
*****
"Elo semua liatkan apa yang Jiwon lakuin? Bikin malu gue gak tuh? Sialan,"
"Gue gak terima sama perlakuan Jiwon,"
"Gak boleh hal itu terulang lagi"
__ADS_1
Seojoon uring-uringan sejak tadi, ia tak terima dipermalukan didepan banyak orang oleh mantan kekasihnya.
"Jadi kalian semua tolongin gue"
"Jadi lo mau kita buat mukulin Jiwon?" tanya salah satu teman Seojoon.
"Jangan asal ngomong lo. Kalian harus kasih pelajaran buat si cupu itu, bukan cewek kesayangan gue." bentak Seojoon.
"Tapi si cupu itu kan gak ada salah sama lo?"
"Iya Jun, Jiwon yang udah buat elo malu" timpal yang lainnya.
"Gue tau Jiwon yang buat malu gue, tapi penyebab dia begitu ya si cupu itu, kan?"
Seojoon terus memaksa sehingga para sahabatnya itu pasrah dengan keinginannya.
"Jadi besok kita lakuin rencana itu?"
"Iya! Gue mau cupu itu jauh dari Jiwon, bahkan untuk selamanya." Seojoon menekankan.
Di mall.
Sampainya disana mereka disana.
"Gue telpon Kai dulu" ucap Kristal dengan ditanggapi anggukan kepala Jiwon, pelan.
"Sayang lo dimana?"
"Gue udah didepan bioskop"
"Oke, kita kesitu sekarang." kata Kristal.
Jiwon termenung, dan dilihat oleh Kristal yang langsung menegurnya dengan lembut.
"Ayo, Kai udah nunggu!" ajak Kristal. Dimana Jiwon pun mengikuti langkahnya dari belakang.
"Ital?" panggil Jiwon, Kristal pun menoleh.
"Gue gak ikut, boleh?" Jiwon, memelas.
"Kenapa, lo mau balik?" selidik Kristal.
Jiwon menjelaskan, "Nggak.. Gue cuma mau keliling aja nunggu sampe Binbin datang, nanti kita nyusul kedalem kalo masih ada waktu"
"Oke, kalo gitu gue nyusul Kai dulu"
Sepeninggalan sang sahabat, kini Jiwon melangkahkan kaki dengan lunglai tanpa arah dan tujuan. Jiwon benar-benar merasa sepi tanpa sosok Binbin didekatnya.
Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, galau? Padahal Jiwon sadar diri, bahwa Binbin hanya pergi sebentar namun hatinya serasa kehilangan.
"Ada apa sama gue?"
__ADS_1