Beneran Cinta

Beneran Cinta
16


__ADS_3

Hanbin menunggu jawaban dengan tegang. Sikap diam yang mendadak dari Jiwon, membuatnya bercucuran keringat dingin. 


Jiwon masih terunduk diam dan dalam benaknya berkata, "Gue gak boleh suka sama mereka berdua jadi harus pilih salah satu dari mereka. Walau pun gue suka keduanya, gue harus pilih yang bener-bener gue cinta." gumamnya.


Seketika Jiwon mengangkat kepala dan menatap Hanbin. Bola mata Hanbin begitu sayu, ada harapan banyak di mata sang lelaki di hadapanya itu.


"Bin.. Gue.. Gue suka sama loe," ungkap Jiwon, hingga membuat Hanbin yang sejak tadi cemas kini dapat tersenyum senang.


"Tapi gue cuma anggep lo temen, gak lebih." lanjutnya lirih.


Seketika Hanbin tersentak kaget oleh ucapan itu.


"Apa ada pria lain?" tanya Hanbin dengan penuh penasaran.


"Yah Bin.. Perasaan cinta yang begitu dalam, yang baru gue rasain dalam hidup gue sekarang." Jiwon mengakui.


Hanbin menunduk lemah, harapannya hilang seketika untuk memiliki cinta sang pujaan hati.


"Siapa Won?" tanya Hanbin yang di landa rasa penasaran orang yang di cintai Jiwon.


"Gue gak bisa kasih tau lo sekarang, gue harap lo ngerti dengan keputusan gue." pinta Jiwon, lembut.


"Kita masih tetap temenan kok, Bin." Jiwon menambahkan seraya menggenggam erat tangannya. Sontak Hanbin segera memeluk tubuh Jiwon, sangat erat hingga tak ingin ia lepaskan.


"Won, apa lo masih mencintai mantan lo? Sehingga gak bisa buka hati lo buat yang lain?" Sayangnya pertanyaan itu hanya Hanbin simpan di dalam hati.


"Makasih yah lo udah cinta sama gue!" bisik Jiwon yang melepas diri dan langsung pergi meninggalkannya.


Linangan air mata jatuh ke pipi Jiwon, rasa bersalah pun menggelayuti hatinya kini.


"Maafin gue, Bin. Gue harus nolak lo, gue gak mau mencintai dua pria sekaligus."

__ADS_1


Jiwon mencoba mengahapus air mata yang masih terus terjatuh. 


"Gue sakit nolak lo, Bin. Tapi ini yang terbaik. Jadi gue harap lo bisa ngerti sama pilihan gue."


Jiwon terus bergerutu dalam hatinya, sementara kakinya terus berlari meninggalkan taman.


"Aaaaaaakh..."


Teriakan Hanbin menggema seluruh taman yang sudah sepi dari pengunjung.


"Siapa Won? Siapa orang itu?"


Dalam remangan cahaya lampu taman, Hanbin masih setia berdiri mematung diri.


"Harapan gue hancur,"


"Dengan gue jadi Hanbin pun dia tolak gue, apa lagi gue jadi Binbin? Pastinya dia akan tolak gue mentah-mentah si cupu itu." pikirnya.


Setelah berdiri beberapa jam, akhirnya Hanbin pergi meninggalkan taman dengan perasaan terluka.


Pagi hari yang kelabu di alami Jiwon karena pikirannya mendadak tak menentu. Rasa-rasanya ia telah patah hati karena mengecewakan Hanbin semalam.


Jiwon harus menolak perasaan Hanbin, walaupun hatinya menyukai pria tampan itu. Karena ada hati lain yang Jiwon yang cintai lebih besar dari pada Hanbin, yaitu rasa cinta pada sosok Binbin.


"Mungkin lo sekarang benci sama gue, Hanbin. Tapi ini udah pilihan hati gue, dan gue lebih menginginkan Binbin di banding lo. Maafin gue, Hanbin." gumam Jiwon yang terus menatap dirinya dalam cermin.


Binbin melangkah lesu yang baru saja keluar dari kamar, ia menatap kamar Jiwon dengan raut wajah ke sedihan.


"Gue gak bisa dapetin lo, dengan jati diri gue pun lo nolak gue. Apa lagi dengan gue yang seperti ini? Elo pastinya gak akan mungkin tepatin sumpah lo waktu itu kan, Won?" gumam Hanbin yang sudah berganti sosok menjadi Binbin. Lalu dirinya melangkah turun menuruni anak tangga menuju meja makan.


"Pagi m, tante?!" sapa Binbin dengan suara lesu. 

__ADS_1


"Kamu sakit, Bin?" tanya Bram.


"Ng, nggak kok om. Binbin baik-baik aja." sangkal Hanbin.


"Tapi muka kamu pucet loh, Bin. Kenapa?" timpal Rosa, khawatir.


"Mungkin karena Binbin kurang tidur aja tante." Hanbin menyakinkan.


Jiwon mendekati mereka dengan tak menyapa. Sama halnya dengan Binbin, Jiwon pun memperlihatkan wajah murung di hadapan ke tiganya.


"Woni! Kamu kok gak biasanya, gak nyapa kami semua?" tanya Rosa menyelidik.


"Maaf mah pah, Woni lagi kurang enak badan." Jiwon menyesal.


"Apa kalian berantem?" tanya Bram dan membuat Jiwon menoleh ke arah Binbin dan kini ke duanya saling menatap.


"Enggak kok. Iya kan, Bin?" Jiwon menyangkal sementara Binbin hanya menggangguk kepala pelan.


"Tapi kalian kok aneh hari ini, barengan pula. Lagi patah hati?" timpal Rosa, membuat Jiwon dan Binbin tak berkutik di hadapan mereka. 


Melihat reaksi anak-anaknya, Bram pun menghentikan percakapan dan menyarankan untuk melanjutkan bersantap.


"Udah jangan bahas itu lagi, kita lanjut sarapan sekarang!" saran Bram menenangkan suasana.


Sarapan tak begitu semangat oleh Jiwon dan Binbin. Keputusan Jiwon di tanggapi Binbin saat mengajaknya langsung pergi ke kampus.


"Kita pergi yah mah, pah?!" pamit Jiwon dan di ikuti Binbin di belakangnya.


"Pah, kenapa yah sama mereka?" tanya Rosa khawatir.


"Mungkin mereka lagi berantem kecil, mah." jawab Bram, santai.

__ADS_1


"Tapi kenapa mereka? Kelihatannya mereka abis perang hebat yah pah?"


"Jangan ngaco deh mah, buktinya mereka masih duduk bareng sama kita." tegur Bram yang tak ingin sang istri berpikir buruk pada hubungan Jiwon dan Binbin.


__ADS_2