Beneran Cinta

Beneran Cinta
17


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pun Jiwon dan Binbin hanya diam tak bersuara. Keduanya sama-sama menutup mulut rapat. Tapi akhirnya Jiwon sudah menekan hatinya untuk melupakan ke sedihan karena telah menolak Hanbin.


Ada hati yang harus di perjuangankan bagi Jiwon. Kini ia mencoba menoleh ke arah Binbin yang entah Jiwon tidak tau alasannya sang pria melamun sejak tadi. 


"Binbin kok diem aja, kenapa dia gak hibur gue? Harusnya sejak awal gue gak boleh larut dalam masalah Hanbin. Gue pilih lo, Binbin. Gue akan tunggu lo sampai waktunya elo jatuh cinta sama gue dan tiba kita akan bersama." ucap Jiwon dalam hatinya.


"Bin?" panggil Jiwon, yang tak di jawab oleh sang pemilik nama.


"BINBIN.." panggil Jiwon dengan keras.


Binbin menyahut kaget, "Iya?"


"Kamu kenapa?" tanya Jiwon. Tatapan menyelidik ke wajah Binbin.


"Enggak apa-apa kok, Won!"


"Beneran? Kok diem aja dari tadi? Apa kamu marah sama Woni?" Jiwon mencecar beberapa pertanyaan.


"Nggak.. Binbin gak marah kok sama Woni." kata Binbin menyakinkan, "Sejak tadi kamu diem jadi Binbin pun diem karena gak mau ganggu Woni." lanjutnya.


Jiwon pun bernapas lega karenanya. Senyum terlontar untuk Binbin dari Jiwon, namun Binbin merespon dengan dingin. 


"Gue emang marah, marah sama lo Won. Tapi mungkin ini yang terbaik buat lo, jadi gue berusaha tahan senggaknya gue masih bisa di sisi lo." gumam Hanbin dalam hati.


"Semalem kok Binbin tidur duluan?" tanya Jiwon yang berusaha mencairkan suasana.


"Semalem Binbin capek dan ngantuk berat, jadi gak bisa temenin Woni main, gak masalahkan?" sebisa mungkin Hanbin bersikap santai kembali, karena tidak ingin membuat Jiwon bersedih.


"Iya Bin, gak masalah kok"


Mereka pun sampai di kampus. Saat Jiwon hendak turun dari mobil, Kristal tiba-tiba mentelpon dan mengatakan untuk menunggu dirinya di kantin kampus.


"Ital mau kita ke kantin, mau ikut?" tanya Jiwon, lembut. Binbin hanya mengangguk kepala pelan, pertanda menyetujui ajakannya.


Mereka pun melangkah berdampingan, tetapi hari ini ada yang berbeda. Canda tawa yang selalu terlontar terkunci rapat di mulut Binbin hingga membuat Jiwon pun heran dengan tingkah Binbin yang seolah berubah sejak tadi.


"Apa lo punya perasaan suka ke gue, Binbin? Kalo pun emang gue kena sumpah Seojoon, gue tetep akan cinta sama lo. Karena gue yakin kalo gue beneran cinta sama lo, Bin." gumam Jiwon dengan terus menatap ke arah samping Binbin.


"Bin, pulang kuliah kita mall yuk.." ajak Jiwon.


"Boleh Binbin tolak?" memasang wajah sendu.


"Kenapa sih sama dia? Apa emang dia punya masalah sampe gak mau bilang gue?" Jiwon bergemuruh dalam hatinya.


"Tapi kamu beneran baik-baik aja, kan?" Jiwon memastikan.


"Binbin cuma butuh istirahat aja kok Woni!" tegasnya.


Di dalam kelas..


Dengan santainya Seojoon menopang kaki ke atas meja dengan pijatan dari beberapa anak buahnya.


"Jun! Si cupu di kantin bareng Jiwon tuh" ucap seorang yang memang di suruh Seojoon untuk melaporkan keberadaan Binbin.


"Gue mau lo ke sana dan temuin mereka, bilang kalo Binbin di panggil pak Anton. Tapi inget lo usahain Jiwon atau siapa pun gak ikut bareng si cupu, paham lo?" titah Seojoon.


"Oke!" serunya seraya berlalu pergi meninggalkan Seojoon dan kawan-kawannya.


"Hem.. Sebentar lagi lo bakal abis di tangan gue, cupu sialan." Seojoon dengan geram tangan.

__ADS_1


"Kristaaaal!" teriak Wandi mendekatinya.


"Kenapa Wan?" tanya Kristal, heran.


"Elo mau ke kantin, kan?" 


"Iya, kenapa?" 


"Kalo Elo liat Binbin, lo bilang kalo dia di panggil pak Anton, oke?"


"Oke.. Kebetulan gue mau ketemu dia, nanti gue sampein." ucap Kristal dengan berlalu pergi menuju Jiwon dan Binbin yang lebih dulu berada di sana.


"Hay semua?" sapa Kristal.


"Kok telat?" Jiwon memayunkan bibir.


"Bentaran doang elah!" ringis Kristal, "Oh iya Bin, si Wandi bilang lo di cari pak Anton tuh." tambahnya.


"Kenapa ya? Binbin kesana duluan yah!" pamit Binbin meninggalkan ke duanya.


Sepeninggalan Hanbin.


Kristal menyadari di wajah Jiwon yang terukir ke sedihan.


"Kok gak semangat gitu sih?" selidik Kristal, Jiwon menatap sendu pada sahabat terbaiknya itu.


"Gue punya masalah Tal" ungkap Jiwon.


"Apa! Sini cerita ke gue, kenapa?" 


"Semalem Hanbin ngajak gue ke taman." Jiwon mulai mengungkap sedikit demi sedikit apa yang terjadi semalem.


"Terus?"


Kristal mengkerutkan dahi ketika nada suara Jiwon yang tidak ada bahagia ketika di tembak oleh Hanbin.


"Elo terima, kan?" tanya Kristal penasaran yang mana Jiwon menggeleng pelan. 


"KENAPA?" suara lantang keluar dari Kristal membuat Jiwon mendelik heran atas reaksi berlebihan sang sahabat.


"Ital sayang! Elo kan tau kalo gue cinta sama Binbin." Jiwon mengingatkan.


"Gue tau Woni. Tapi lo juga cinta, kan? Sama Hanbin?" tanya Kristal dengan menggenggam tangan Jiwon erat.


Yang tadinya Jiwon sudah kuat merelakan Hanbin, dengan percakapan bersama Kristal malah kembali membuatnya sedih.


"Gue bingung, Tal!" aku Jiwon yang akhirnya mengalirkan buliran cairan bening dari bola matanya.


"Apa yang buat lo bingung? Hanbin lelaki baik dan sempurna buat lo, Woni."


"Tal! Enggak mungkin dong gue milikin mereka berdua?" ketus Jiwon yang masih kukuh ingin bersama Binbin.


"Woni.. Hanbin udah jelas-jelas nembak lo tapi malah lo tolak demi milih Binbin yang mungkin aja dia gak cinta sama lo, Won." bentak Kristal, membuat Jiwon menatap dengan tajam.


"Apa? Benerkan apa yang gue bilang?" cetus Kristal, sengit.


Jiwon pun pasrah dengan ke kejaman sang sahabat. Ia hanya dapat menunduk kaku saat mungkin saja mengucap Kristal adalah sebuah ke benaran adanya.


Dalam benak Jiwon pun bergemuruh, mungkin selama ini Binbin hanya mengganggapnya teman dan tidak lebih dari itu.

__ADS_1


"Woni!" ringis Kristal yang memeluk Jiwon erat.


"Gue mencintai mereka berdua, seperti gue mencintai satu pria yang sama, Ital! Gue salah, kah?"


"Sabar ya sayang, gue harap lo bisa bedain mana yang cinta sama lo dan emang cuma kutukan semata."


Sementara itu..


Binbin terus melangkah, seketika ia di sekap oleh beberapa pria dari belakang.


"Lepasin.. Mau apa kalian?" Binbin meronta.


Mereka menggiring Binbin ke dalam kelas. Dengan kencang Seojoon menutup pintu, lalu mendekat pada Binbin yang masih di tahan ke dua tangannya.


"Lepasin!" pinta Binbin.


"Gue gak bakal lepasin lo, kalo elo masih deket sama Jiwon gue." kata Seojoon dengan mencengkram dagu Binbin.


"Apa urusan kamu larang aku dekat sama Jiwon?" Binbin bertanya dengan suara sedikit lantang.


"Gue emang mantannya Jiwon. Tapi gue bakal jadi milik Jiwon selamanya. Paham lo?" tegas Seojoon.


"Kalo kamu cinta sama Jiwon, kenapa kamu selingkuhin dia? Apa itu namanya cinta, hah?" Binbin memberanikan diri untuk melawan.


"Itu bukan urusan lo, cupu."


"Aku harap Woni benci sama kamu selamanya. Hingga gak mungkin kamu bisa bersama dia lagi."


"Apa lo bilang?"


Seojoon geram dan semakin mendekat lalu memukul Binbin dengan kencang.


Bhukk..


"Awh.." rintih Binbin dan darah segar keluar dari mulutnya.


"Apa ini rasa cinta kamu ke Jiwon?" Binbin menyindir dengan senyuman sinis.


"Gue bilang sama lo jauhin Jiwon. Atau lo abis di tangan gue." bentak Seojoon, mengingatkan.


Binbin berucap lantang, "GAK AKAN PERNAH.."


Seojoon semakin murka mendengar itu, ia pun kembali menghajarnya Binbin habis-habisan.


Bhukk.. Bhukk..


Binbin pun terjatuh, karena sudah tak berdaya. Semua yang di luar memperhatikan ke ributan itu tanpa membantu sedikit pun.


"Ini akibat nya kalo lo gak mau jauhin Jiwon" bisik Seojoon ke telinga Binbin yang sudah terkulai lemas.


"Hak.. Sampai kapan pun aku gak akan jauhin dia." Binbin terus menolak dengan tegas.


"Lo nyolot yah?"


Seojoon yang sudah kalap tanpa ragu menginjak punggung Binbin dengan kakinya.


"Aaaaaaakh.." rintih Binbin keras.


Tidak ada yang membantu, semua terdiam oleh akasi Seojoon yang terus menghentakkan kaki di atas punggung Binbin.

__ADS_1


Dalam hati Binbin bergumam, "Percuma gue lawan Seojoon, toh sebenernya Jiwon gak cinta sama gue. Kalo pun gue harus mati, senggaknya gue udah pertahanan cinta gue buat dia."


Binbin makin melelah dan tak sanggup lagi bertahan, hingga ia pun memejamkan bola matanya rapat.


__ADS_2