Beneran Cinta

Beneran Cinta
13


__ADS_3

"Plis Woni, lo gak akan mikir Binbin salah jalan, diculik atau kecelakaan, kan?"


"Jangan konyol Woni,"


"Nggak boleh mikir ngawur Won, dia bakal datang bentar lagi."


Itu lah yang Jiwon pikirkan dari tadi setelah berkeliling sendirian karena terlalu lama menunggu kedatangan sosok Binbin.


"Ehem.."


"Binbin?!" seru Jiwon yang mengangkat kepala berharap sosok Binbin dihadapannya.


"Bukan ternyata" gumam Jiwon, kecewa.


"Masih inget gue?" tanya seorang pria yang kini membuat Jiwon mengingat wajahnya.


"Hei, elo apa kabar?" tanya Jiwon.


"Baik Won! Elo sendiri gimana?" balik bertanya.


"Kok tau nama gue?" Jiwon menyelidiki karena seingatnya belum pernah mengenalkan diri.


"Kita sempet kenalan, cuma lo gak tau nama gue karena langsung dikejar mantan lo" jelasnya, Jiwon hanya mengangguk kepala ketika mengingat kejadian tersebut.


"Gue Hanbin!" ucapnya memperkenalkan diri pada Jiwon.


"Hanbin? Kalo diliat langsung mereka ada kemiripan, dan nama mereka pun sedikit mirip" gumam Jiwon dalam hati.


"Won, lo kenapa?" tegur Hanbin yang kini telah mengubah penampilannya kesemula.


"Gak apa-apa"


"Mau pulang?" tanya Hanbin.


Jiwon yang melangkah tanpa tujuan, baru menyadari kalau dirinya kini telah berada didepan mall.


"Nggak.. Lagi nunggu temen kebetulan."


"Mau gue temenin jalan?"


"Kalo lo mau, boleh!" 


Tit.. Tit.. Tit..


Ponsel Jiwon berdering membuat langkah keduanya terhenti.


"Iya Tal?" 


"Lo dimana?" tanya Kristal.


"Gue didepan mall" 


"Ngapain? Binbin belum datang?"


"Belum, bahkan telpon Binbin juga gak aktif Tal"


"Kita ditempat makan, sini Won. Siapa tau bentar lagi Binbin datang."


"Oke.. Gue kesitu.." tutup Jiwon dengan melirik pada Hanbin.


"Temen lo?" tanya Hanbin, ditanggapi anggukan kepala Jiwon.

__ADS_1


"Lo mau bareng kita?"


"Kenapa nggak?!" sahut Hanbin, menyetujui. 


Jiwon melangkah berdampingan dengan Hanbin. Perasaan kehilangan Binbin pun mulai terobati dan kekhawatiran pun hilang seketika.


"Elo kenapa Won? Tadi lo khawatir karena Binbin belum dateng juga, sekarang ada Hanbin kenapa gak khawatir lagi?"


"Hanbin gak mungkin dia, tapi gue ngerasa dia itu Binbin"


"Hati berdebar saat dideket dia pun sama, apa mungkin gue juga jatuh cinta sama Hanbin juga?" Jiwon yang berkutat dalam hatinya.


"Won! Gimana mantan cowok lo, masih gangguin lo?" tanya Hanbin memecah keheningan sepanjang langkah.


"Gitulah.. Gue juga heran sama dia, bukannya cari yang baru tapi tetep aja ngejar-ngejar gue." aku Jiwon, bernada kesal.


"Siapa sih yang rela lepasin cewek secantik lo?"


"Bisa aja lo buat gue terbang. Tapi, kalo gak rela lepasin kenapa dia mendua? Kan gak lucu"


Mereka pun sampai ditempat makan dimana Kai dan Kristal duduk menunggu.


"Ital, Kai kenalin ini," belum sempat Jiwon melanjutkan ucapannya Kai sudah buka suara, "Binbin? Lo berubah?" antusias.


"Kai, dia bukan Binbin tapi Hanbin" Jiwon menyangkal.


"Elo kakaknya Binbin?" selidik Kristal yang juga terkejut akan sosok Hanbin.


"Bukan." sangkal Hanbin.


"Tapi muka lo sama dia ada kemiripan, makanya kita pikir dia itu elo" ungkap Kai.


"Awalnya gue juga pikir lo itu mirip sama Binbin" aku Jiwon.


"Gue jadi penasaran sama sosok Binbin yang kalian maksud"


"Harusnya dia disini, tapi dia ada urusan lain. Makanya si Jiwon ini galau berat gak ada itu anak" goda Kristal.


"Gak gitu Tal" ringis Jiwon, memalu.


"Kalian mau makan apa?"


"Apa aja!"


Perbincangan pun begitu hangat seperti mereka telah mengenal sosok Hanbin sebelumnya.


Canda tawa terlontar dari ketiganya hingga membuat Hanbin pun ikut tertawa. Hingga Jiwon tertegun melihat tawa itu, tawa yang sama persis dengan Binbin. Bola mata, hidung pun sama, yang membedakan hanyalah penampilan mereka saja.


"Oh yah Binbin kok lama gak dateng juga? Apa dia gak jadi ke sini?" tanya Kristal, membuat Jiwon kembali mengingat sosoknya.


"Gue telpon lagi, siapa tau udah aktif"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif___"


"Masih belum, apa dia baik-baik aja?" Jiwon panik kembali.


"Mungkin dia lupa, malah pulang ke rumah" Kai mencoba menenangkan Jiwon.


"Kalo iya ke rumah, kalo malah ilang gimana? Gue takut Binbin ngilang." 


"Jiwon khawatir sama Binbin? Gue kira Jiwon mau ketemu sama sosok Hanbin lagi, tau gitu tetep jadi Binbin kalo akhirnya buat Jiwon sedih" sesalnya dalam hati.

__ADS_1


Makanan yang dipesan pun telah habis disantap oleh mereka, karena perbincangan yang menarik membuat keempat orang itu tidak sadar telah menghabiskan hidangan diatas meja.


"Gue pulang bareng Kai, gak apa-apa?" tanya Kristal.


"Gak apa-apa kok!" Jiwon menenangkan.


"Kita duluan nya?" pamit Kristal dan Kai dengan meninggalkan Jiwon dan Hanbin.


"Lo juga mau pulang sekarang?" tanya Hanbin, yang dijawab anggukan kepala Jiwon.


"Mungkin nanti temen lo dateng, gimana?"


Bernada sedih, "Gue gak tau, handphonenya aja gak aktif, mungkin dia lupa ama janjinya" ucap Jiwon dengan kecewa.


"Sorry Won, gue udah buat lo sedih. Gue cuma mau yakinin perasaan lo yang suka sosok Hanbin apa nggak?" gumam Hanbin dalam hatinya.


"Apa mau gue temenin lo nunggu temen lo itu sampe dateng?" tanya Hanbin menawarkan diri.


"Emang lo masih mau disini?" Jiwon bertanya dengan memasang wajah heran.


"Yah itu pun kalo lo mau!" seru Hanbin.


"Boleh.. Mungkin aja bentar lagi dia dateng, tapi gue harus telpon orang rumah dulu, siapa tau dia udah pulang."


Jiwon langsung menghubungi rumahnya, dan menanyakan sosok Binbin telah kembali atau masih diluar rumah.


"Gimana?" tanya Hanbin setelah Jiwon menutup sambungan.


"Belum pulang" jawab Jiwon yang mulai panik dan khawatir dengan keberadaan Binbin.


"Dimana kamu Bin?" gumam Jiwon.


"Hey, kok malah ngelamun?" tegur Hanbin.


"Ah, nggak kok. Oh yah kita kemana nih?" Jiwon mengalihkan kesedihannya.


"Gimana kalo ke timezone?"


"Boleh, kita tanding yah?"


"Oke, siapa takut!"


Didalam mobil.


Kristal sejak tadi diam yang membuat Kai angkat bicara. 


"Lo kenapa?"


"Jiwon sama Hanbin cocok yah?" Kristal antusias.


"Emang kenapa?" Kai bingung.


"Dibanding sama Binbin, lebih cocok Jiwon sama Hanbin!" tegas Kristal.


"Udahlah say, gak usah ikut campur urusan percintaan Jiwon. Dia udah gede, bisa milih siapa yang terbaik buat jadi pasangan." saran Kai, bijak.


"Tapi, kan__"


"Hustt.."


"Iya.. Tapi gak janji, selama bukan karena kutukan dari Ojun ya?" tegas Kristal.

__ADS_1


__ADS_2