Beneran Cinta

Beneran Cinta
14


__ADS_3

"Ital, lo kok jadi jelek-jelekin Binbin gitu? Biar gimana juga dia temen kita, kan?" Kai kembali mengingatkan.


"Gue gak maksud gitu, gue cuma takut Jiwon beneran kena sumpah dari Ojun, itu aja kok" ringis Kristal yang masih khawatir akan sumpah serapah dari Seojoon.


"Ital sayang, sumpah itu gak akan terjadi sama Jiwon dan soal Binbin datang kehidupan Jiwon cuma kebetulan aja dan lagi, kalo pun dia suka sama Binbin itu bukan urusan kita buat mencegahnya." bijak Kai.


"Tapi__"


"Jangan bahas itu lagi atau gue marah karena lo masih ngurusin percintaan Jiwon?" ancam Kai.


Dalam hati Kristal, "Cih main ngancem, gue kan jadi susah buat bertindak" dumalnya.


**** 


"Hahaha.."


"Hahahahaaa.."


Tawa riang terlontar dari Jiwon dan Hanbin.


Perasaan senang menggelayuti Jiwon. Hingga debaran jantung pun tak tertahan saat Hanbin merangkul pundaknya.


"Gimana masih mau main?" tanya Hanbin berusaha menyeka keringat, dan itu membuat Jiwon terpana.


"Hei Woni, inget Binbin masih belum ada kabarnya!" otak Jiwon kembali mengingat sosok Binbin yang membuatnya segera mengakhiri kesenangannya bersama Hanbin.


"Gue mesti pulang, mungkin Binbin gak dateng jadi gue harus pastiin dia pulang ke rumah dengan selamat"


"Mmm.." hanya itu yang keluar dari mulut Hanbin, mengisyaratkan bahwa dirinya masih ingin bersama dengan Jiwon dalam waktu yang lama sebagai Hanbin.


"Gue duluan yah? Bye Hanbin!" pamit Jiwon.


"Jiwon?" panggil Hanbin, menghentikan langkah Jiwon dan menyahut pelan, "Iya?"


"Gue mau bilang kalo gue___" 


Terhentinya kalimat Hanbin membuat Jiwon heran.


"Kalo apa Bin?" tanya Jiwon, penasaran.


Hanbin bergumam, "Apa gue bilang tentang perasaan gue sekarang?" dengan menatap mata indah Jiwon.


"Enggak, bukan sekarang waktu yang tepat. Suatu saat nanti gue bakal bikin malem yang indah buat nyatain perasaan cinta ini."


"Hanbin kok diem?" tegur Jiwon.


"Oh itu... Mm, gue mau bilang makasih sama lo" ucap Hanbin kikuk.


"Atas apa?" tanya Jiwon.


"Karena lo mau gue temenin" jawab Hanbin dengan senyum mengembang.


"Gue kira kenapa, sama-sama Hanbin!" tutur Jiwon seraya berlalu pergi dengan senyuman terukir di bibir saat meninggalkannya.


"Ahh.. Jiwon.. Jiwon.. Hari ini gue bahagia bisa ngabisin waktu bareng lo dan jadi diri gue sendiri!" seru Hanbin kegirangan.


****** 


Sampainya di rumah, secepat mungkin Jiwon bergegas kedalam dengan  berharap Binbin sudah berada didepannya.


"Mbak, Binbin udah dateng?" tanya Jiwon, gelisah.

__ADS_1


"Belum tuh non!" sahutnya.


"Bin lo dimana? Apa lo beneran nyasar?" perasaan resah pun menggelayuti Jiwon saat tau Binbin masih belum berada di rumah.


Dibaringkannya tubuh Jiwon dengan rasa was-was yang terus menjadi.


"Apa gue telpon dia lagi? Mungkin aja udah aktif sekarang" gumam Jiwon dengan cepat maraih handphone.


"Nomer yang anda tuju sedah tidak aktif___" jawaban itu membuat Jiwon semakin khawatir.


"Gue yakin Binbin pasti gak tau jalan pulang, atau mungkin dia, dia diculik?" duga Jiwon yang tiba-tiba mengeluarkan airmata kesedihannya.


"Tok.. Tok.. Tok.."


Ketukan pintu membuat Jiwon menghapus airmata dan beranjak berdiri.


"Masuk!"


"Hay Woni?" sapa Binbin yang melontar tersenyum lebar, Jiwon bergegas mendekat dan memastikan keadaan Binbin baik-baik saja.


"Binbin kamu gak apa-apa, kan?" tanya Jiwon.


"Nggak apa-apaWon, emang kenapa?" Hanbin bertanya dan berusaha polos saat kembali menjadi sosok Binbin dihadapan Jiwon.


"Binbin jahat. Woni nunggu lama di mall tapi kamu gak dateng dan bahkan nomer kamu juga gak aktif, kenapa? Kamu bikin aku takut tau." cerocos Jiwon.


"Jiwon maafin Binbin ya? Mungkin kamu kecewa. Tadi itu urusan Binbin baru beres, terus lupa handphone mati dan pas aku ke mall cari kamu udah gak ketemu. Ini Binbin baru nyampe, maafin Binbin ya?" sesal Hanbin yang telah merangkai kebohongan sebelum tiba di rumah.


Bernada ketus, "Kenapa gak coba telpon?" 


"Handphone Binbin kan mati, gimana mau telponnya?" ringis Hanbin.


"Kan bisa pinjem handphone orang lain? Binbin gak tau kalo aku beneran panik"


"Makasih Woni!" seru Hanbin dengan reflek memeluk tubuh mungil Jiwon.


"Binbin, gimana gue mau marah sama lo? Gue gak bisa marah, karena gue cinta sama lo Binbin." gumam Jiwon dalam hati.


Deringan handphone membuat keduanya saling melepaskan diri.


"Woni sayang, lo ke rumah gue yah please?!" pinta Kristal.


"Kenapa? Kita kan baru ketemuan di mall barusan"


"Nyokap gak ada nih, temenin ya?" rajuk Kristal. 


"Ya udah nanti gue ke rumah lo, bye Tal!" 


Sekarang pandangan Jiwon kembali terfokus pada pria berkacamata besar dihadapannya itu.


"Ital mau aku ke rumahnya, kamu ikut yah?" ajak Jiwon.


"Boleh Binbin gak ikut?"


"Mmm.. Padahal Woni mau bareng Binbin, itung-itung bales waktu tersita waktu ke mall" Jiwon memasang wajah sedih.


"Maafin Binbin ya Won, tapi mau istirahat."


"Iya deh gak apa-apa, tapi pulang dari sana kamu harus temenin Woni main games yah?" Jiwon memaksa.


"Oke sip Woni!" sahut Hanbin mengiyakan. 

__ADS_1


***** 


Ting.. Tong..


BeL dibunyikan oleh Jiwon yang mana Kristal bergegas membuka pintu namun tak melihat sosok Binbin bersamanya.


"Binbin masih belum pulang?" tanya Kristal seraya mempersilahkan sang sahabat untuk masuk kedalam.


"Udah kok!"


"Terus gak lo ajak kesini?"


"Dia gak mau Tal, karena dia pikir kita bakal bahas soal urusan cewek"


"Hahaha.. Si polos Binbin, ada ada aja mikirnya" tawa Kristal saat mendengar penjelasan Jiwon.


Keduanya telah sampai didalam kamar yang telah terhalang jamuan cemilan untuk jadi bahan obrolan mereka.


"Nyokap lo kemana Tal?" 


"Biasa tugas ke Bogor!" 


Melihat kasur rapih Kristal, dengan cepat Jiwon membaringkan tubuh lelah dan tak lupa menghela napas dalam. Sementara Kristal duduk lesehan didepan meja dengan tangan mencomot salah satu cemilan yang akan dilahapnya.


"Gimana sama Hanbin?" tanya Kristal yang langsung blak-blakan menanyakan itu.


"Gimana apa maksudnyaTal?" Jiwon kebingungan.  


"Ah Woni, gitu aja gak paham maksud gue? Ada perasaan apa sama dia?" Kristal menyelidiki.


"Ital.. Gue mau jujur sama loe__" ucap Jiwon dengan bangkit dan menatap kearahnya.


"Serius lo naksir Hanbin, kan? Dah yakin gue, 100% gue dukung lo sama dia Woni." Kristal antusias.


"Nggak Tal.. Gue itu cinta sama Binbin, bukan Hanbin.." tegas Jiwon yang mana ucapan itu membuat Kristal tersentak kaget.


"Woni lo gak seriuskan? Trus Hanbin?"


"Mmm... Gue seneng kalo didekat Hanbin dan gue juga kadang kala ngerasa hal yang sama saat gue deket sama dia, gue ngerasa Hanbin dan Binbin itu sama, tapikan konyol?" aku Jiwon yang mulai menyadari kemarukannya atas perasaan terhadap lawan jenis.


"Jadi__ lo cinta mereka berdua?" ringis Kristal mencoba meyakinkan Jiwon.


"Bisa dibilang gitu Tal, tapi gue lebih mencintai Binbin." ucap Jiwon dengan mantap.


"Tapi Won, lo cinta sama Binbin karena lo kemakan sumpah Seojoon jadi wajar lo jatuh cinta sama Binbin" Kristal mengingatkan.


"Engak Ital.. Perasaan gue itu tulus sama Binbin, bukan karena kutukan itu." Jiwon menyangkal tegas.


"Buktinya?"


"Kejadian tadi di mall, gue ngerasa sosok Binbin itu paling gue butuhin kehadirannya, gue akan sedih kalo dia gak ada disamping gue Tal, gue bahagia saat liat wajah dia saat balik ke rumah. Apa semua itu masih karena kutukan Ojun?" Jiwon bertanya.


"Terserah lo Woni. Gue gak mau ikut campur urusan cinta lo, karena lo yang ngejalanin semuanya, gue cuma pengen liat lo bahagia itu aja!" ucap Kristal yang mulai pasrah dengan pilihan sahabatnya.


"Makasih Ital sayang!" seru Jiwon yang turun dari kasur lalu duduk disamping Kristal dan memeluknya erat.


"Yakin?"


"Tuh kan lo gak bisa serius sama perasaan gue Tal?" Jiwon kesal dan melepaskan pelukan.


"Bercanda Won wkwkwk.."

__ADS_1


Dalam hati Kristal, "Gue harap ini mimpi, plis tolong bangunin gue"


__ADS_2