Beneran Cinta

Beneran Cinta
18


__ADS_3

Di saat kondisi Binbin tak lagi berdaya. Kristal memaksa Jiwon untuk menerima cinta Hanbin yang semalam telah di tolak.


"Ayolah, lo terima Hanbin. Bilang sama dia kalo kemarin lo gak bisa berpikir jernih sampe harus nolak dia."


"Nggak bisa, Ital sayang!" Jiwon menolak, tegas. 


"Sampai kapan mau nunggu Binbin bilang cinta sama lo?" tanya Kristal memasang wajah sinis.


"Sampai kapan pun gue bakal tunggu Binbin bilang cinta ke gue, puas?!" Jiwon penuh yakin melontarkan hal itu.


"Woni, gue mau elo dapet yang terbaik." kata Kristal yang tak kunjung menyerah untuk mendesaknya.


"JIWOOON.." teriak seorang yang berlari mendekat.


Dengan terengah-engah, dia menatap Jiwon yang memasang wajah bingung.


"Kenapa Fit?" tanya Jiwon yang penasaran.


"Binbin, Won. Binbin, dia." ucapnya yang dengan terengah-engah.


"Kenapa sama dia?" tanya Jiwon yang mulai panik di buatnya.


"Dia di hajar sama Seojoon!" jelasnya.


"Elo yakin? Binbin lagi ngadep pak Anton, mana mungkin Ojun berani ganggu Binbin." Kristal tak percaya.


"Semua itu bohong, Binbin di hajar abis-abisan ama Seojoon kelas." meyakinkan keduanya.


"Elo enggak bohong, kan?" tanya Jiwon dan di jawab dengan anggangguk kepala.


Rasa penasaran pun menggelayuti Jiwon sehingga Dia berlari cepat menuju kelas di mana Seojoon melakukan tidak ke kerasan pada Binbin.


Di sana Seojoon masih terus memukul Binbin, walaupun sang pemilik tubuh sudah tak berkutik.


"Elo masih menolak buat jauhin Jiwon? Gue gak akan biarin lo hidup lagi cupuk." berang Seojoon.


Bhukk. . . . Bhukkk..


Seojoon semakin meradang padahal semua teman-teman yang berada bersamanya sudah mengingatkan Seojoon untuk berhenti.


Jiwon dan Kristal masuk dalam ke rumunan. Betapa kagetnya Jiwon menilhat Binbin yang sudah bersimbah darah di atas lantai.

__ADS_1


"STOOOOOOPPPP..." teriak Jiwon lantang.


Seojoon menoleh ke arah Jiwon dan menjauhkan kakinya dari atas punggung Binbin. Perlahan Jiwon mendekat dengan kaki yang berat untuk bersimpuh di hadapan Binbin yang terluka.


Di perhatikan dengan bola mata berkaca-kaca, sosok Binbin yang kini lemah. Jiwon duduk di dekatnya, di angkat kepalanya pelan hingga kepala Binbin kini terkulai di atas paha sang gadis.


"Bin.. Binbin.." panggil Jiwon, getir dengan isak tangis yang tak dapat di bendung lagi.


"Bin kamu harus kuat, Jiwon mohon Binbin." pinta Jiwon yang mencoba melepas kacamata Binbin yang telah rusak.


Binbin yang mendengar suara tangis Jiwon, mencoba sekuat tenaga untuk menggangguk pelan.


Kondisinya melemah, lumuran darah mengotori bajunya dan bahkan wajah imut Binbin kini penuh memar dari pukulan-pukulan Seojoon yang sekarang tak berkutik memperhatikan Jiwon begitu sangat perduli pada si cupu, begitulah dalam batinnya berkata.


"Won.. Woni.." Binbin menyeru nama Jiwon, samar terdengar oleh Jiwon.


"Bin, tahan yah?! Aku bakal bawa kamu ke rumah sakit!"


"A.. Aku.. Ci.. Cinta.. Ka.. Mu.." aku Binbin yang terbata dan langsung menutup matanya rapat.


"Bin.. BINBIIN.." teriak Jiwon saat tak merasakan hembusan nafas dari hidung Binbin.


Ketidak sadaran Binbin membuat Jiwon begitu panik, hingga rasa takut menggelayutinya. Di peluk nya erat-erat tubuh Binbin oleh Jiwon yang mana sak tangis semakin memuncak. Kristal yang sejak tadi menenangkan pun tak di hiraukan Jiwon yang ketakutan kehilangan sosok Binbin.


"Woni tenang, gue yakin Binbin gak apa-apa. Gue udah telpon ambulan ke sini, jadi lo bisa lega." pinta Kristal.


"Ital! Gimana gue bisa tenang sementara keadaan Binbin seperti ini? Coba jelasin ke gue kalo emang harus gue tenang liat Binbin seperti ini, Tal?" bentak Jiwon, meradang.


Kristal akhirnya diam, dia tidak ingin menambah panik sang sahabat. Karena Kristal berpikir wajar kalau Jiwon saat ini kalap melihat kondisi pujaan hatinya saat ini.


Mata Jiwon mengarah pada Seojoon yang sejak tadi hanya diam memantung. Perlana Jiwon meletakan kepala Binbin ke lantai, lalu mendekati mantan kekasihnya dengan muka sinis yang terlontar untuk Seojoon.


Plakkkk..


Sebuah tamparan mendarat di pipi Seojoon, hingga menampakan bekas tangan Jiwon, saking kuat sang gadis menamparnya.


"Itu gak seberapa dengan apa yang lo udah lakuin ke Binbin." cetus Jiwon.


"Tega lo lakuin ini sama orang yang gak semestinya lo sakitin, Jun?" sungut Jiwon.


"Woni, ini demi lo." Seojoon beralasan. Mencoba memegang tangan namun seketika Jiwon menepis dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Demi gue? Untuk apa, Hah?" tanya Jiwon dengan wajah tak kuasa heran mendengar alasannya.


"Cinta gue, Woni." tegas Seojoon.


"Bulshit sama cinta lo. Kalo sampe terjadi apa-apa sama Binbin, gue gak akan pernah maafin lo Ojun." gertak Jiwon dengan mendorong tubuh Seojoon hingga tersungkur jatuh.


"Dan satu hal lagi buat elo, sampai kapan pun gue muak sama lo. Jadi jangan pernah coba bahas soal cinta gila lo itu, paham?" tambahnya dengan menghentak kaki ke lantai.


"Udah Won! Jangan tunggu lama lagi, kita harus cepet bawa Binbin ke rumah sakit." kata Kristal yang menarik tangan Jiwon agar menjauhi Seojoon.


"Ayo donk temen-temen bantu Binbin!" pinta Jiwon.


Mereka pun menggotong Binbin ke parkiran mobil. Karena mereka tak ingin lama menunggu sampai mobil ambulan tiba. Dengan cepat Kristal melaju kencang mobilnya, sementara Jiwon terus menatap wajah tak berdaya Binbin.


"Semuanya karena gue, kan?" pikir Jiwon.


Butiran air mata Jiwon kembali mengalir dan terjatuh ke pipi Binbin. Jiwon dengan lembut menyeka genangan air mata yang membasahi pipi Binbin.


"Maafin Jiwon ya Bin." bisik Jiwon, lirih.


Sepeninggalan Jiwon dan yang lainnya, Seojoon kini mulai mengamuk kembali. Ketidak terimaan sikap Jiwon yang lebih memilih Binbin, membuat Seojoon makin membenci si cupuk itu.


"Akh.. Kenapa Jiwon lebih perduli sama cupu itu di banding gue? Kenapa, hah?" gerutunya.


Seojoon melihat kacamata Binbin sehingga dengan geram dirinya menginjak-injak kacamata itu untuk melampiaskan amarah yang masih belum puas ia keluarkan pada Binbin.


Bruk..


Krakk..


Bruk..


Krak..


"Mampus lo cupuk. Mampus lo cupuk." makinya yang terus menghentakan kaki di atas kacamata yang sudah rusak, hingga akhirnya Seojoon menendang kasar benda itu.


"Sialan lo cupuk, karena lo gue kehilangan Jiwon." pekiknya.


"Udah lah Jun, ini salah lo juga. Kalo emang lo cinta Jiwon, kenapa mesti duain dia?" kata salah satu teman Seojoon.


"Dan yang lebih parahnya lo nyumpahin Jiwon sama cupuk, sekarang yang salah itu lo bukan Jiwon atau pun cupuk itu." tambah yang lainnya, ikut mengingatkan.

__ADS_1


"Elo semua kok jadi belain cupuk itu? Temen macem apa lo pada?" bentak Seojoon, tak terima.


"Gue harap cupuk itu mati dan Jiwon bakal jadi milik gue, lagi!" harap Seojoon dengan penuh yakin.


__ADS_2