Bidadari Di Atas Awan

Bidadari Di Atas Awan
Belum Beruntung


__ADS_3

Tin nong...


Suara bel pintu terus berbunyi, Intan yang sedang berada di kamar keluar dan melihat tamu yang datang.


"Siapa sih," ucap Intan pergi ke arah pintu.


Clekk...


"Hay Tante Intan, mama Lisa ada gak?" Tanya bocah kecil yang sedang berdiri bersama kedua pria dewasa.


"Eh Raka, yah sayang mama Lisa lagi kerja, Tante Intan cuma sendiri di apartemen," ucap Intan berjongkok di depan bocah kecil itu.


"Yah, sayang banget yah rupanya Raka belum beruntung hari ini," ucap Raka.


"Hehehe, kaya undian aja belum beruntung," ucap Intan mencubit pipi Raka.


"Tan, kapan mama Lisa balik?" Tanya Raka.


"Kalau itu Tante juga gak tau sayang," ucap Intan.


"Aku boleh gak minta nomor hp nya Tante, kalau mama Lisa udah ada Tante nanti kabarin Raka," ucap Raka.


"Boleh, emang Raka punya hp?" Tanya Intan.


"Gak punya, Raka selalu minjem hp Oma," ucap Raka.


"Atau gini aja, nomornya Tante kasih ke papa aja, terus papa nya Raka juga ngasih nomor hp ke Tante, nanti Tante ngasih tau papa," ucap Raka.


"Boleh deh," ucap Intan.


"Pa boleh yah kasih nomor hp sama Tante intan," ucap Raka berbalik mendongak melihat papanya.


"Iya boy," ucap Raka.


Selesai bertukar nomor dengan Rama, Rama, Arya dan Raka pun pulang ke rumah.


"Udah jangan sedih, kan mama Lisa lagi kerja," ucap Rama membujuk putranya.


"Aku kangen sama mam Lisa pa, kapan yah kira-kira Raka bisa ketemu sama mama Lisa," ucap Raka melihat keluar jendela.


"Semoga saja besok mama Lisa sudah kembali, nanti papa anterin Raka ke apartemen nya mama Lisa," ucap Rama.


"Janji yah pa," ucap Raka melihat papanya.


"Iya boy, papa janji sama kamu," ucap Rama.


Mobil terus melaju di jalan raya, Arya yang sedang mengemudi mobil hanya menjadi pendengar obrolan ayah dan anak itu.


****


Bali...

__ADS_1


Lisa sedang termenung di kolam renang, dengan kedua kakinya di celupkan ke dalam air.


Lisa mengingat perkataan kedua orang tuanya tadi, kalau umurnya sudah semakin tua tapi belum memilik bodoh.


"Aku harus bagaimana, aku belum bisa melupakan nya," ucap Lisa seorang diri.


Lisa mengingat pertemuannya dengan seorang pria tampan, saat itu pria tampan menolong Lisa yang akan terjatuh ke pantai dari atas bukit.


"Ayo pegang tanganku," ucap pria itu.


"Makasih, untung saja ada kamu, kalau gak aku juga gak tau," ucap Lisa melihat pria tampan itu.


"Iya sama-sama, kamu ngapain di sini dan kenapa sampai terjatuh?" Tanya pria itu menatap Lisa.


"Aku tadi lagi asik foto-foto, tapi gak sengaja kesandung," ucap Lisa.


"Lain kali hati-hati," ucap Pria itu.


Belum sempat mereka berkenalan, tapi pria itu sudah di panggil oleh seseorang.


"Aku pergi dulu yah, nanti aku kembali lagi ke sini," ucap pria itu tersenyum melihat Lisa.


"Iya," ucap Lisa mengangguk.


Saat ini Lisa baru beranjak dewasa, begitu pun dengan pria itu.


"Apa iya gue harus cari pacar," ucap Lisa lagi.


"Iya ma, ini Lisa udah mau amsuk kok," ucap Lisa.


Lisa mengangkat kedua kakinya dari dalam air, lalu berjalan masuk ke dalam.


Lisa melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga. Lisa duduk di depak sang mama.


"Kapan kau akan kembali ke Jakarta?" Tanya mama Lisa.


"Mungkin besok lusa ma, ada apa?" Tanya Lisa.


"Gak, mama cuma pengen ajak kamu ke acara saja," ucap mama Lisa.


"Kapan ma?" Tanya Lisa menatap sang mama.


"Besok malam, kalau kau mau," ucap mama Lisa.


"Iya ma, Lisa mau kok," ucap Lisa.


"Yah sudah, sana kamu istirahat saja," ucap mama Lisa.


"Iya ma, Lisa ke kamar dulu yah," ucap Lisa.


"Iya sayang," ucap mama Lisa dan papa Lisa.

__ADS_1


Lisa naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Selama dua hari ini Lisa tidak ada jadwal penerbangan, jadi Lisa punya waktu di rumah selama dua hari.


****


Raka terlihat membujuk sang papa minta di belikan hp, dengan alasan agar nanti dia bisa menghubungi Lisa sendiri.


"Yah pa, beliin Raka hp baru," ucap Raka tak henti-hentinya membujuk sang papa.


"Boy, kau masih cukup kecil untuk bermain ponsel," ucap Rama menatap sang putra.


"Teman aku Tomi aja udah punya hp dan suka main game, kok aku gak boleh sih pa?" Tanya Raka.


"Bukan gitu nak, kamu masih kecil," ucap Rama.


"Tuh kan papa mulai lagi, aku gak mau ngomong sama papa," ucap Raka beranjak pergi dari ruangan kerja sang papa.


"Raka, boy dengerin papa nak," ucap Rama.


"Beliin Raka hp baru dulu, baru Raka gak marah lagi sama papa," ucap Raka.


Rama hanya tersenyum mendengar perkataan putrnya itu, Raka memang gitu kalau maunya gak di turutin, merajuk tingkat dewa.


"Iya, besok kita beli hp baru, tapi cuma buat nelpon yah," ucap Rama.


"Benar pa, kalau gitu Raka gak marah lagi sama papa," ucap Raka dengan raut wajah senang.


"Iya, sini sama papa dulu," ucap Rama.


Raka mendekati sang papa, lalu memeluk papanya dengan sayang.


"Aku sayang sama papa, sayang banget," ucap Raka mencium pipi papanya sambil tersenyum senang.


"Papa juga sayang Raka," ucap Rama mencium kepala sang putra.


"Makasih yah pa," ucap Raka.


"Iya, jagoan papa belum ngantuk yah?" Tanya Rama.


"Ini aku udah mau tidur pa," ucap Raka.


"Kalau gitu ayo kita tidur, papa akan bacakan dongen buat Raka," ucap Rama menatap putranya itu.


"Ayo pa," ucap Raka.


Rama mengendong putranya masuk ke dalam kamar, begitulah Raka setiap malam menidurkan putranya dan membacakan dongeng untuk Raka.


Melihat putranya sudah tertidur pules, Rama mencium pipi putranya cukup lama, lalu Rama membetulkan selimut yang menutupi Raka.


"Maafkan papa nak," ucap Rama lalu kelaur dari kamar Raka, tidak lupa mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur saja.


Next...

__ADS_1


__ADS_2