Bidadari Di Atas Awan

Bidadari Di Atas Awan
Menjemput Mama Lisa


__ADS_3

Perdebatan Rama dan mantan istrinya terhenti, saat melihat Arya masuk ke ruangan Rama.


Rama dan Paula melihat ke arah pintu, Arya sedang bersedekap dada melihat pasangan yang sudah menjadi mantan suami dan istri itu.


"Boy ka," ucapan Rama terhenti saat tidak melihat putranya di sana.


"Dia lagi di ruangan ku, saat kalian berdebat Raka datang mengungsi ke sana, katanya papa nya lagi berdebat sama cewek," ucap Arya menatap Rama dan Paula.


"Ini semua gara-gara kamu tau gak, coba saja kamu gak cari masalah terus," ucap Paula menatap Rama emosi.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum saya melempar kau keluar dari atas sini," ucap Rama.


"Wih sadis," ucap Arya terkekeh geli.


"Diam loh, kalian berdua tuh sama saja, minggir," ucap Paula lalu keluar dari ruangan karja Rama melewati Arya begitu saja.


Rama merapikan jasnya dan kembali duduk di kursi kerjanya, Rama melihat Arya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Panggil anak gue," ucap Rama.


"Siap bos," ucap Arya.


Clekk...


"Raka di panggil sama papa ayo," ajak Arya.


"Memangnya papa udah selesai berdebat sama cewek itu om?" Tanya Raka.


"Udah, ceweknya juga udah pulang," ucap Arya.


"Nih om, tolong bawain dong," ucap Rama memberikan piring kosong pada Arya.


"Ais, anak nakal," ucap Arya mengikuti Raka dari belakang.


Rama melihat Raka masuk bersama dengan Arya, Raka duduk di sofa lagi.


"Boy," panggil Rama.


"Ada apa pa, pa aku udah selesai makan nih, sekarang telpon Tante Intan yah," ucap Raka memberikan hp barunya pada sang papa.


"Ya, tolong kau telpon Intan," ucap Rama.


"Kok saya sih bos, kenapa gak bos saja," ucap Arya.


"Mau ku potong gaji mu?" Tanya Rama menatap Arya.


"Iya-iya, gitu aja pake cara ngancam potong gaji lagi," ucap Arya mengambil hp milik Raka.


"Kenapa sih kalian sering banget berdebat, gak malu apa sama anak kecil," ucap Raka menatap sang papa dan om Arya bergantian.


Rama melirik Arya, dan memberi kode untuk segera menelpon Intan.


Tutt...


"Gak di angkat," ucap Arya masih meletakan hp nya di telinga.


"Tunggu lah om sampai di angkat," ucap Raka.


Tutt...


"Hallo, ini siapa yah?" Tanya seorang wanita yang ada di seberang sana.


"Hallo, ini gue Arya," ucap Arya dengan suara dingin.


"Gue gak kenal, loh ngapain nelpon gue?" Tanya Intan sinis dari seberang sana.

__ADS_1


Raka dengan cepat meminta hpnya dari Arya, dan meletakan di telinganya.


"Hallo Tan, ini aku Raka," ucap Raka.


"Hay sayang, kok tadi suara om-om sih," ucap Intan.


Raka melihat Arya yang sedang berdiri di dekatnya saat ini.


"Oh, itu bukan om-om Tan, itu om Arya," ucap Raka sambil tersenyum.


"Ha, sialan tuh si galak masa ngira gue om-om sih," ucap Arya dengan kesal.


"Sabar om, jangan emosi dulu," ucap Raka melihat Arya.


Arya melihat sang bos yang kembali bekerja.


"Hallo Tan, mama Lisa udah balik belum?" Tanya Raka.


"Nanti malam sayang, mama Lisa baru sampai Jakarta," ucap Intan.


"Benar Tan, yee aku nanti ke apartemen tante lagi yah," ucap Raka dengan senang.


"Iya, benar yah Tante tunggu loh," ucap Intan dari seberang sana.


"Iya tan pasti," ucap Raka.


"Yah sudah nanti Raka datang seja yah, Tante tutup dulu telponnya," ucap Intan.


"Oke tan, Tan ada salam nih dari om Arya," ucap Raka.


"Hey bocah, jangan jual nama yah," ucap Arya dengan kesal.


"Hihihi," Raka terkikik geli.


"Bilangin sama om kamu, Tante gak doyan om-om," ucap Intan.


"Jangan di tekuk gitu wajahnya om, nanti cepat tua loh," ucap Raka menahan tawa.


"Kau sama saja seperti papa mu," ucap Arya duduk di kursi depan Rama.


"Yah kan aku memang anaknya papa Rama, iya kan pa," ucap Raka memeluk Rama dari belakang.


"Iya boy," ucap Rama.


Arya melihat papa dan anak itu bergantian, membaut Raka dan Rama tertawa melihat wajah kesal Arya.


****


Pesawat tujuan Bali-Jakarta baru saja tiba, pesawat memutari lapangan dan berhenti di parkiran biasa.


Pintu keluar terbuka dan para penumpang mengantri untuk keluar, para pramugari terlihat begitu sibuk di dalam pesawat.


"Akhirnya tiba juga di Jakarta," ucap salah satu rekan kerja Lisa.


"Iya," ucap Lisa.


"Lis, loh nanti di jemput sama siapa?" Tanya teman Lisa.


"Biasa sama Intan, sahabat terbaik gue," ucap Lisa tersenyum.


Lisa dan ketiga temannya lalu turun dari pesawat, sambil membawa koper hitam milik mereka.


"Lisa, loh Lisa kan?" Tanya sekarang pria.


"Iya, maaf siapa yah?" Tanya Lisa.

__ADS_1


"Ini gue Fajri masa loh udah lupa sih sama gue," ucap pria yang bernama Fajri itu.


"Oh, Fajri yang dulunya cupu itu," ucap Lisa.


"Iya, loh masih ingat aja kalau gue dulu cupu," ucap Fajri.


"Sorry-sorry gue bercanda," ucap Lisa tersenyum.


"Gak apa-apa, santai saja kali," ucap Fajri.


"Loh udah mau pulang yah?" Tanya Fajri.


"Iya lagi nunggu jemputan, biasa teman," ucap Lisa.


"Mama Lisa," panggil seorang bocah kecil.


Lisa dan Fajri melihat ke arah asal suara, di mana Raka sedang melambaikan tangan ke arah Lisa.


"Itu siapa kok manggil loh mama sih?" Tanya teman Lisa.


"Itu anak yang tempo hari di pesawat, loh ingat kan," ucap Lisa.


"Oh, iya gue inget tapi kok dia manggil loh mama sih Lis?" Tanya teman Lisa lagi.


"Iya, gue juga gak tau kenapa," ucap Lisa tersenyum ke arah Raka.


"Mama Lisa," panggil Raka mendekati Lisa.


"Hay, kok Raka ada di sini sih, sama siapa?" Tanya Lisa berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Raka.


"Aku sama papa Ma, tuh papa di mobil, kita mau jemput mama Lisa," ucap Raka.


"Tapi mama mau di jemput sama Tante intan sayang," ucap Lisa mengusap rambut Raka dengan pelan.


"Tante intan gak akan jemput ma, kan udah ada aku sama papa," ucap Raka.


"Lis gue duluan yah, udah di jemput sama cowok gue," ucap teman Lisa.


"Iya hati-hati yah," ucap Lisa.


"Iya," ucap teman Lisa.


Hp Raka berbunyi dan itu telpon dari Rama.


"Hallo pa, ada apa nelpon Raka? Kan dekat kita," ucap Raka melihat ke arah mobil papanya.


"Cepat ajak mama Lisa," ucap Rama dari balik telpon.


"Iya-iya pa," ucap Raka lalu mematikan sambungan telponnya.


"Siapa?" Tanya Lisa.


"Papa ma," ucap Raka.


Lisa mengernyit keningnya heran, lalu Lisa melihat ke arah Fajri yang sedang melihat mereka.


"Ayo ma kita pergi, papa udah nunggu," ucap Raka mengajak Lisa.


"Iya, Faj gue duluan yah," ucap Lisa tersenyum.


"Iya, hati-hati yah," ucap Fajri.


"Iya, by," ucap Lisa.


Lisa menarik kopernya dan dengan tangan sebelah mengandeng tangan Raka, senyum Raka terlihat begitu ceri kalah di gandeng oleh Lisa, seperti mama dan anak. Pemandangan itu tidak luput dari tatapan Rama yang sedang menunggu mereka di dalam mobil.

__ADS_1


Next....


__ADS_2