Bidadari Di Atas Awan

Bidadari Di Atas Awan
Berpura Pura


__ADS_3

Rama memapah Lisa masuk ke dalam lift, Lisa terus meracau tak jelas. Membuat Rama kewalahan sendiri.


Ting...


Pintu lift terbuka, Rama membawa Lisa masuk ke dalam unit apartemen Arya. Rama memapah Lisa masuk ke dalam kamar tamu, dan menidurkan Lisa di sana.


Rama melihat wajah cantik Lisa degan intens, tiba-tiba kedua mata Lisa terbuka. Lisa menatap Rama dengan mata sayu, Rama kaget karena Lisa tiba-tiba memegang kedua pipi Rama dan bersiap akan menciumnya.


Tiba-tiba Lisa mendorong Rama dengan keras sampai membaut Rama terjatuh dari tempat tidur.


"****, bukannya di cium malah gue di dorong sampe jatuh," umpat Rama bangun sambil memegang pinggangnya yang encok.


Rama melihat ke arah Lisa yang kembali tertidur pules.


"Udah muntah di jaket gue, ngedorong gue lagi sampai jatoh," ucap Rama kesal.


Rama kelaur dari kamar tamu, lalu masuk ke dalam kamar Arya tak jauh dari kamar tamu.


Rama duduk di sisi ranjang sambil memegang pinggangnya yang sakit itu, Rama lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus membersihkan diri, karena bau muntah Lisa tadi masih tercium oleh Rama.


Di lain tempat, Arya baru saja tiba di hotel, seperti apa yang di katakan oleh bosnya tadi di klub, kalau malam ini ia harus menginap di hotel.


Clekk...


Arya terlihat hanya setengah mabuk saja, karena Arya tidak mau mabuk berat dan sampai terjadi sesuatu padanya nanti.


"Gara-gara sih bos nih, gue harus buang duit nginap di hotel," ucap Arya merabakan tubuhnya di atas ranjang king size.


Tak lama kemudian Arya sudah terlelap dan, membiarkan ponselnya yang sedari tadi terus bergetar. Karena Rama terus menelpon nya.


"Ngapain aja si Arya, telpon dari gue gak di angkat," ucap Rama dengan kesal.


Rama meletakan ponselnya di atas meja, lalu berjalan menuju ranjang dan duduk di sana. Rama tak tua harus memakai baju yang mana, Rama lalu memilih tidur mengenakan handuk.


****


Malam berganti siang, suara getaran ponsel milik Lisa terus saja bergetar di dalam tas miliknya.


Dengan malas Lisa membuka kedua matanya, dan mencari letak ponselnya berada.


"Hallo," ucap Lisa dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hallo Lis, loh di aman sih kok belum pulang juga sih, ini udah pagi loh," ucap Intan dari seberang sana.


Lisa membuka kedua matanya dengan lebar, lalu bangun dari baringnya. Lisa melihat seisi kamar, bukan kamar di apartemen Intan.


"Hallo Lis, loh dengar gue gak sih," ucap intan dari seberang sana.

__ADS_1


"Iya-iya gue dengar kok, ini gue langsung pulang gue tutup dulu telponnya yah by," ucap Lisa dan langsung mematikan sambungan telepon.


"Gue di aman yah, kok bisa tidur di sini sih," ucap Lisa dalam hati.


Lisa mengingat kejadian semalam, di mana ia berjalan dan hampir jatuh, untung saja seseorang datang menolongnya. Lisa menutup wajahnya mengunakan kedua tangannya, mengingat kalau ia muntah di baju pria yang sudah menolongnya itu.


"Astaga, bodoh banget sih gue," ucap Lisa dalam hati sambil meremas selimut yang semalam ia pakai.


Lisa melihat tas dan juga sapatunya ada di dalam kamar itu. Dengan pelan Lisa turun dari ranjang dan mengambil tasnya, lalu membuka handel pintu dengan pelan untuk melihat ke luar.


"Aman," ucap Lisa dalam hati.


Lisa kelaur dari dalam kamar dengan pelan sambil menenteng sepatunya, melihat sana sini tidak ada orang.


Lisa tidak melihat seseorang masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya, sedang berdiri di daun pintu kamar sebelah.


"Mau coba kabur," suara bariton itu mengagetkan Lisa dan berdiri di tempat.


Lisa dengan pelan berbalik dan melihat ke arah suara, kedua mata Lisa melotot besar melihat pria yang sedang berdiri itu.


"Kok loh bisa ada di sini sih?" Tanya Lisa.


"Bukan urusan loh, loh harus tanggung jawab karena udah muntah di jaket gue," ucap Rama.


"I-itu gue gak sengaja," ucap Lisa pelan.


"Perasaan gue gak ngedorong loh deh, ngarang yah loh," ucap Lisa.


"Gimana loh bisa ingat, kalau loh semalam mabuk berat," ucap Rama.


"Iya juga yah, semalam gue kan mabuk," ucap Lisa dalam hati.


"Terus gue haru ngapain, gue gak bisa lama-lama di sini, gue ada jadwal penerbangan jam 1 siang," ucap Lisa melihat Rama.


"Bikinin gue sarapan," ucap Rama.


Lisa melihat Rama tak percaya, masa ia dia di suruh buat sarapan sih, dia kan gak tau masak.


"Gue gak bisa, gue gak bisa masak," ucap Lisa ketus.


"Ngapain aja loh, masa cewek gak bisa masak sih," ucap Rama menatap sinis Lisa.


"Udah mendingan loh mesan aja deh, kan gampang tuh sekarang udah bisa delivery," ucap Lisa.


"Tapi gue mau loh yang masak, tuh dapurnya di situ," ucap Rama menunjuk ke arah dapur.


Dengan malas Lisa berjalan ke arah dapur, melepaskan tas dan sepatunya di ruang tengah.

__ADS_1


Rama hanya menggeleng kepala melihat Lisa, Rama melihat ponselnya berdering di atas ranjang.


Rama melihat nama sang mama tertera di layar ponsel, Rama sudah tau kalau nama sang mama sedang tertera di layar ponsel.


"Hallo pa, papa lagi di mana kok gak nemanin Raka tidur sih semalam," ucap suara bocah kecil dari sebrang sana.


Rama tersenyum mendengar suara putranya itu, suara yang selalu membuat Rama bersemangat dalam semua aktivitas apapun.


"Hehehe, papa lagi kerja boy, papa kan harus cari uang banyak buat kamu," ucap Rama sambil terkekeh geli.


"Kok kerja sampai pagi sih pa, aku juga gak di aja," ucap Raka dengan suara merajuk.


"Papa gak ngajak Raka kan tidur, papa gak tega bangunin Raka," ucap Rama.


Aaakkkkhhh...


Suara teriakan dari luar membuat Rama kaget dan dengan cepat Rama berlari menuju asal suara. Rama melihat api sudah menyala besar di sana, sedangkan Lisa berada di bawa meja sambil menangis ketakutan.


Rama mematikan konfornya dan melihat dapur yang sangat berantakan seperti kapal pecah, Rama menggeleng kepala melihat hasil karya Lisa.


"Berdiri," ucap Rama.


Dengan pelan Lisa berdiri dan melihat ke arah Rama, Rama masih mengenakan handuk putih.


"Loh tuh, emang benar-benar gak bisa masak yah?" Tanya Rama menatap Lisa dengan serius.


"Kan tadi udah gue bilang, kalau gue gak tau masak," ucap Lisa dengan kesal.


"Hallo pa, papa lagi sama mama Lisa yah pa?" Tanya Raka karena ia mengenali suara Lisa.


Rama dan Lisa melihat ke arah ponsel yang ada di genggaman Rama, di mana suara Raka terdengar begitu jelas di sana.


"Bukan boy, kau salah dengar itu tadi cuma suara TV saja," ucap Rama beralasan.


Senyum licik terbit di bibir Lisa, dengan cepat Lisa merampas ponsel milik Rama dan Lisa berbicara dengan Raka.


"Hey, balikin ponselnya," ucap Rama dingin


Lisa hanya tersenyum jahat, lalu Lisa meletakan ponselnya di telinga dan bersuara.


"Hallo Raka, ini mama Lisa, kamu tau gak papa kamu lagi ngehukum mama di sini hikzz..." Ucap Lisa sambil berpura-pura terisak.


Rama menatap Lisa dengan tajam, seperti macan yang ingin memakan mangsanya saja.


Lisa hanya tersenyum dan meledek Rama dengan cara menjulurkan lidahnya ke arah Rama.


Next...

__ADS_1


__ADS_2