
Lisa harus membujuk bocah kecil itu dengan lembut, dan untung saja bocah kecil itu tidak bersedih lama.
Lisa mendudukkan bocah kecil itu di atas kursi yang ia duduki saat ini, kursinya memang muat untuk dua orang.
"Nama kamu siapa?" tanya pramugari cantik itu menunduk melihat wajah bocah kecil itu.
"Nama aku Raka," ucap bocah kecil itu sambil tersenyum gemes.
Lisa tersenyum geli melihat wajah lucu Raka, Raka lalu mendongak melihat pramugari cantik itu sambil tersenyum.
"nama bidadari siapa," tanya Raka mengedipkan kedua matanya dengan gemes.
"Ihh, kamu tuh lucu banget sih," ucap pramugari itu mencubit pipi Raka.
"Jangan cubit, nanti pipi aku tambah besar lagi," ucap Raka.
"Biarin aja," ucap pramugari cantik itu.
"Nama bidadari cantik siapa?" tanya Raka lagi, karena ia masih belum mendapat jawaban dari pramugari itu.
"Nama Tante Lisa," ucap pramugari cantik itu.
"Kalau aku panggil Tante mama, apa boleh?" Tanya bocah kecil itu dengan pandangan penuh harap.
Lisa tersenyum lalu mengangguk pelan, rasanya tidak tega melihat wajah polos itu bersedih, entah kenapa hati Lisa menjadi kasian.
"Asik, aku punya mama sekarang," ucap Raka bersorak senang.
"Lis, ini anak nya siapa?" Tanya tim rekan kerja Lisa sesama pramugari.
"Nama aku Raka," ucap Raka memperkenalkan namanya, membuta Lisa dan temannya itu tersenyum melihat tingkah lucu Raka.
"Hay anak ganteng, nama Tante Melani," ucap teman Lisa.
Raka melihat Melani dan Lisa bergantian, membuat Melani mengernyit kening heran melihat bocah kecil itu.
"Ada apa?" Tanya Melani.
"Tante Melan sama mama Lisa, lebih cantikan mana Lisa," ucap Raka dengan polosnya.
Membuta Lisa dan Melani tersenyum melihat bocah kecil itu, apa lagi Raka sedan duduk di dekat Lisa sambil memeluk lengan Lisa dengan begitu erat.
"Kamu tuh lucu banget sih, kedua orang tua kamu mana?" Tanya Melani, tapi dengan cepat di beri kode oleh Lisa.
Raka menatap ke arah Lisa yang sedang melototkan Melani, Raka hanya menggeleng kepala melihat tingkah orang dewasa.
Kemudian Melani pergi, tinggal Raka dan Lisa yang duduk di situ. Bocah kecil itu dengan manja minta di elus rambutnya oleh Lisa, dan Lisa langsung menuruti permintaan bocah kecil itu.
__ADS_1
****
Seorang wanita cantik sedang berjalan ke ruang tengah, mendekati sang suami yang sedang bersantai.
"Ma, dari mana?" Tanya sang suami.
"Mama habis dari dapur pa, liat bibi," ucap wanita itu yang tak lain adalah Siska.
Wanita yang bernama Nadia itu duduk di dekat suaminya.
"Pa, mama kangen banget sama cucu mama," ucap mama Nadia.
"Sabar ma, kan mereka udah dalam perjalanan pulang," ucap pria yang bernama Sigit.
Mama Nadia begitu merindukan cucu kesayangannya itu, baru di tinggal beberapa hari saja udah rindu banget.
****
*Sayang sudahlah tidak udah menangis, nanti kita akan ambil putramu dari pria itu," ucap seorang pria bule yang sedang berbaring di samping wanita cantik.
"Aku sangat merindukan Raka, aku ini ibunya jadi aku bisa merasakan sedih," ucap wanita itu berbalik dan melihat pacarnya itu.
"Ia aku mengerti, nanti aku akan membantumu untuk bertemu dengan putramu itu," ucap pria bule itu.
"Baik lah, besok kita ke kantor Rama," ucap wanita cantik itu.
"Tidak akan sayang, aku sudah memilih mu kan sekarang," ucap wanita cantik itu.
"Aku mencintaimu," ucap pria bule itu.
"Aku juga mencintai mu sayang," ucap wanita itu.
Wanita cantik yang bernama Marissa, adalah mantan istri Rama Dijaya yang tak lain adalah ibu kandung dari Raka.
****
Rama membuka kedua matanya dengan pelan, Rama belum menyadari kalau putranya sedang tidak bersamanya saat ini.
Rama melihat ke arah sang asisten yang sedang tertidur pules, begitu pun dengan penumpang yang lain.
"Raka," ucap Rama panik karena tidak menemukan putranya berada di sisinya.
"Arya, Arya bangun, Raka tidak ada Arya," ucap Rama membangunkan sang asisten.
"Ada apa bos?" Tanya Arya mengumpulkan semua kesadaran nya, lalu melihat sang bos.
"Raka tidak ada Arya, ayo kita cari Raka Ya," ucap Rama dengan panik.
__ADS_1
Rama dan Arya mencari bocah kecil itu yang tiba-tiba menghilang, raut kuatir sudah terpancar di wajah Rama. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya tertidur pules.
"Apa kau menemukannya?" Tanya Rama melihat asistennya itu.
"Tidak bos, coba kita cari ke sana situ," ucap Arya menunjuk pintu di mana para pramugari kelaur masuk.
Rama hanya mengangguk saja, lalu ia dan Arya masuk ke dalam sana.
"Hihihi, coba aku ma," suara kecil terdengar dari dalam sana, membuat Rama dan Arya saling pandang. Mereka kenal betul dengan suara itu.
"Gini yah, ini di putar ke sini," ucap suara wanita dewasa.
"Wah mama hebat, Raka aja gak bisa gitu," ucap bocah kecil itu sambil terkikik kecil.
Rama dan Arya berjalan ke arah suara berada, dan benar saja itu suara Raka dan seorang pramugari sedang duduk di salah satu kursi sambil bermain.
"Hihihi, kok Raka gak bisa yah ma," ucap Raka lagi.
"Kamu pasti bisa, ayo coba lagi yah," ucap pramugari itu dengan lembut, membuat hati Rama menghangat mendengar suara itu.
"Bos itu den Raka," ucap Arya.
Lisa melihat ke asal suara, di mana Rama dan Arya sedang berdiri tepat tak jauh dari belakang kursi yang ia duduki bersama Raka.
Pandangan Rama dan Lisa bertemu beberapa saat, lalu Rama mendekat ke arah mereka.
"Boy, kau sedang apa di sini, kau membuat papa kuatir," ucap Rama.
"Aku lagi main sama mama pa," ucap Raka tersenyum melihat Lisa.
Arya yang mendengar Rak menyebut pramugari itu dengan sebutan mama pun menahan tawa, sedangkan sang bos saat ini kaget bukan main dengan perkataan putranya itu.
"Boy, kau tidak boleh seperti itu yah, Tante ini buka mama nya Raka," ucap Rama berusaha untuk membuat putranya mengerti.
"Tapi kata bidadari cantik, aku boleh kok manggil mama, ia kan ma?" Tanya Raka melihat Lisa.
Lisa yang sedari tadi hanya diam saja pun melihat ke arah Raka sambil tersenyum.
"Iya sayang," ucap Lisa dengan suara lembut.
Rama mengernyit keningnya dengan heran, melihat pramugari itu. Sedangkan Lisa mengusap kepala Raka dengan kasih sayang.
Tak lama lagi pesawat akan mendarat, dan semua penumpang harus berada di kursi masing-masing, Rama membawa Raka kembali ke kursi mereka. Karena Lisa harus mengumumkan pengumuman kalau pesawat akan segera mendarat.
Itu pun harus membujuk bocah kecil itu dengan berbagai macam alasan, karena Raka tidak mau jauh-jauh dari Lisa.
Next....
__ADS_1