
Satu persatu para penumpang pesawat mulai menuruni tangga, Rama terlihat sedang mengendong putra nya di ikuti okeh Arya sang asisten dari belakang.
Kedua mata Raka tak lepas dari dalam pesawat, melihat Lisa yang sedang melambaikan tangganya ke arah bocah kecil itu.
"Pa, kita nunggu mama kan?" Tanya bocah kecil itu.
Rama melihat Arya, lalu kembali melihat putranya yang sedang menunggu jawabannya.
"Tidak boy, kita langsung pulang. Wanita itu bukan ibu mu boy," ucap Rama mencoba menjelaskan pada putranya itu.
"Kok gitu sih pa, papa boong hah sama Raka," ucap bocah kecil itu dengan wajah kesal melihat sang papa.
"Tidak sayang, papa tidak berbohong padamu," ucap Rama mulai kehabisan akal untuk membujuk putranya itu.
"Hay ma," panggil Raka melihat Lisa kelaur bersama para rekan kerja nya sambil menarik koper masing-masing.
"Hay," ucap Lisa juga melambaikan tangan ke arah Raka.
"Tuh, mama aja ketawa liat aku pa," ucap Raka.
"Ayo kita pulang yah, Oma sudah menunggu di ruang," ucap Rama berjalan sambil mencoba membujuk sang putra.
"Tapi aja mama juga pa, agar aku bisa ngenalin mama sama oma dan opa," ucap Raka.
Rama tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh putranya itu. Raka yang melihat sang papa hanya diam saja pun jadi cemberut, apa lagi Lisa sudah hilang dari pandangan bocah kecil itu.
"Silahkan bos," ucap Arya membukakan pintu mobil untuk sang bos.
"Ayo kita pulang, Oma sama opa udah kangen sama kamu," ucap Rama mendudukkan putranya di kursi samping.
Rama melirik ke arah sang putra yang engga berbicara padanya, membuat Rama menghela nafas pelan. Kalau sudah seperti itu, putranya sudah marah padanya.
Raka duduk aja menjauh dari papanya, membuat Arya yang duduk di depan bersama sipir pun bisa melihat anak dan ayah sedang bertengkar.
"Boy, kemari lah, apa kau marah pada papa?" Tanya Rama.
"Aku mau mama Lisa pa," ucap Raka menunduk sedih.
"Nanti kita temuin mama Lisa lagi yah, mama Lisa lagi kerja," ucap Rama.
"Benar yah pa, papa gak boong kan sama Raka," ucap bocah kecil itu dengan senyum bahagia melihat sang papa.
"Iya boy," ucap Rama.
__ADS_1
Raka berdiri dan memeluk sang papa, Raka begitu semangat kalau menyangkut tentang mama Lisa.
****
"Lissa," panggil seorang wanita yang sedang berlari ke arah Lisa.
"Hay," sapa Lisa balik.
"Gue kangen banget sama loh Lis," ucap Intan sahabat Lisa.
"Lebay loh, baru juga di tinggal dua hari udah kangen aja," ucap Lisa sambil menarik kopernya.
"Gue serius tau," ucap Intan tersenyum geli.
"Udah ayo kita balik, gue ngantuk banget nih," ucap Lisa.
"Iya-iya, nanti malam ke tempat biasa yah," ucap Intan.
"Iya, tapi gue tidur dulu," ucap Lisa.
"Iya, ayo," ajak Intan.
Keduanya masuk ke dalam mobil, dan mobil pun kelaur dari parkiran bandara. Lisa terlihat menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, Lisa mengingat kejadian tadi di bandara.
"Ada apa Ntan?" Tanya Lisa.
"Sih Delon nanyain loh terus, kayaknya dia suka deh sama loh," ucap Intan.
"Tapi gue gak suka dia Ntan," ucap Lisa dengan mata terpejam.
"Tapi Delon itu kan orang nya ganteng Lis, masa sih loh gak tertarik sama dia," ucap Intan fokus dengan kemudi.
"Yah malah tidur di ajak ngomong," ucap intan.
Kalau sedang bekerja, Lisa jauh dari kedua orang tuanya. Kedua orang tua Lisa tinggal di Bali, danndi Jakarta Lisa tinggal di apartemen sahabatnya Intan.
"Lis, bangun kita udah sampai," ucap Intan membangunkan Lisa.
"Udah sampai yah, gila gue ngantuk banget Tan," ucap Lisa.
"Ayo turun nanti lanjut tidur di kamar lagi," ajak Intan. Kalau sedang berada di Jakarta, Intan yang selalu menjemput Lisa di bandara.
Kedua wanita itu masuk ke dalam unit apartemen, Lisa lanagung pergi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana, dan Lisa kembali tertidur lagi.
__ADS_1
****
Di lain tempat, Rama sedang menelpon sang asisten, dan membicarakan berkas kerja sama dengan rekan bisnis dari Bali, dan Arya sang asisten mengatakan kalau berkas itu ada pada dirinya.
"Nanti besok jangan lupa kau bawa ke kantor," ucap Rama.
"Siap bos, bos tenang saja pasti saya akan membawa berkas itu besok," ucap Arya dari seberang telepon.
"Arya, nanti malam kita ke tempat biasa," ucap Rama.
"Baik bos, jam 10 malam nanti saya jemput," ucap Arya lalu Rama mengahiri panggil telponnya dengan Arya.
Rama meletakan ponselnya di atas meja, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi dan panggilan dari nomor tak asing baginya.
"Ada apa kau menghubungi ku, kita sudah tidak ada urusan lagi sekarang," ucap Rama setelah panggilan telpon terhubung.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Raka putraku," ucap seseorang di balik telpon.
"Kalau aku tidak akan mengijinkan nya kau mau apa," ucap Rama.
"Aku kan mengambil paksa Raka darimu Rama," ucap wanita dari balik telpon.
"Coba saja kalau kau bisa," ucap Rama lalu memutuskan sambungan telponnya begitu saja.
Rama membanting ponselnya di atas ranjang, membaut benda segi empat itu terangkat beberapa kali.
Rama kelaur dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawa untuk mengambil air, tiba-tiba saja tenggorokan nya menjadi haus setelah mendengar suara wanita yang sudah menyakiti nya itu.
"Den, apa den butuh sesuatu?" Tanya Bibi melihat majikannya sedang berdiri di depan pintu kulkas.
"Tidak bi, saya hanya haus dan ingin minum," ucap Rama.
Rama lalu pergi ke kamar putranya, Raka sedang tertidur pules sambil memeluk boneka Spiderman nya yang besar. Rama mendekat dan duduk di sisi ranjang sang putra.
Rama mengusap kepala putranya dengan sayang, Rama mengingat perkataan Mantang istrinya tadi kalau ia akan mengambil paksa Raka darinya.
"Aku tidak akan biarkan wanita itu menyentuh putraku sedikit saja," ucap Rama dalam hati.
Rama mencium kening putranya dengan sayang, bocah kecil itu tidur tanpa terusik walaupun sang papa menciumnya beberapa kali.
Rama membetulkan selimut yang menutupi sang putra, lalu ia keluar dari kamar Raka.
Rama kembali masuk ke dalam kamarnya, ia harus segera bersiap-siap, karena tak lama lagi Arya nanti akan menjemput nya.
__ADS_1
Next...