BINTANG Untuk ANGKASA

BINTANG Untuk ANGKASA
Permintaan konyol


__ADS_3

...~°Happy Reading~...


Sementara itu, Bintang dan ayah Langit kini sudah berada di dalam kamar. Ia melihat bahwa bunda nya juga sudah sadar dan sedang duduk bersandar pada head board tempat tidur.


"Bunda... " panggil nya begitu lembut, Bintang duduk di samping bunda nya sambil menggenggam tangan bunda.


"Iya sayang," jawab bunda Jingga tersenyum menatap Bintang.


"Bunda jangan sedih lagi, Bintang akan selalu disini sama Bunda," ucap gadis itu lalu ia segera memeluk sang bunda.


"Tapi kamu sudah menemukan orang tua kamu Sayang. Bunda bukan orang yang melahirkan kamu, mereka jauh lebih berhak dari Bunda hiks hiks hiks hiks." Dan akhirnya tangis bunda kembali pecah.


"Sayang!" ayah Langit ikut naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya, "Jangan seperti ini, kasihan Bintang!"


"Hiks hiks hiks, lalu aku harus apa Mas. Anakku hiks hiks."

__ADS_1


"Bunda, Bintang tidak akan kemana mana. Bintang masih menjadi anak Bunda, Bintang akan selalu disini bersama Bunda dan Ayah, Bintang—"


"Hanya ada satu jalan agar kamu tetap. menjadi anak Bunda," ucap bunda Jingga tiba tiba menghentikan pembicaraan Bintang.


"Sayang, menikahlah," imbuh bunda Jingga menatap putri nya dengan penuh permohonan.


"M—maksud bunda apa? Bintang masih sekolah!" jawab gadis itu terbata.


"Jika kamu menikah dengan Asa, kamu akan tetap bisa tinggal disini dan menjadi anak menantu Bunda. Iya, kamu menjadi anak menantu bunda Sayang, kamu dan Asa—"


"Sayang, jangan ngelantur! Asa itu adik nya Bintang, mereka saudara!" kata ayah Langit dengan cepat.


"T—tapi Bunda, kenapa harus pernikahan? kami—"


"Bunda sudah memikirkan matang matang sejak tadi. Hanya itu jalan agar kamu masih menjadi anak Bunda. Ayah kamu benar, bunda tidka boleh egois, cepat atau lambat ini memang akan terjadi. Maka dari itu, Bunda mau kamu dan Asa menikah, agar status kamu semakin jelas. Meskipun kamu sudah bertemu orang tua kandung kamu, tapi kamu masih memiliki hak disini sebagai anak menantu. Bunda mohon Sayang!" pinta bunda Jingga.

__ADS_1


"T—tapi Bintang masih sekolah Bun. Dan juga, Asa masih kelas sepuluh," ucap Bintang dengan berat hati.


"Bunda juga menikah saat masih sekolah Sayang, bunda mohon!" pinta bunda Jingga sekali lagi membuat Bintang tak bisa berkata kata lagi.


"Sayang, aku mendukung apapun yang kamu inginkan. Tapi tidak dengan pernikahan ini, Bintang dan Asa adalah kakak adik, mereka tidak bisa menikah! Lagipula benar kata Bintang, Asa masih kecil, dia masih kelas sepuluh!"


"Memang benar kita menikah saat kamu masih sekolah, tapi aku sudah sangat dewasa saat itu. Berbeda dengan Asa yang masih berumur di bawah Bintang!" omel ayah Langit panjang lebar.


"Tapi kan ada kita Mas. Kita bisa membimbing mereka, dan aku yakin Asa bisa menjaga Bintang. Asa bisa belajar menjadi suami yang baik!" ucap Jingga menatap suami nya.


"Dia saja belum bisa menjadi siswa yang baik, bagaimana dia bisa belajar menjadi suami yang baik!" cetus ayah Langit menarik napas nya panjang dan kasar.


Sungguh, ia tidak menyangka mengapa istrinya bisa memiliki pikiran sejauh itu. Yang benar saja menikahkan anak kandung dan anak angkat. Mungkin bila usia Angkasa di atas Bintang, ia tidak keberatan. Sedangkan ini posisi nya terbalik, usia Bintang yang di atas Angkasa.


Langit tidak rela bila Bintang harus tersiksa menghadapi kelakuan Angkasa. Mengingat setiap harinya kedua anak nya itu selalu berdebat dan bertengkar. Sungguh, ayah Langit tidak rela, putri nya, satu satunya harus menikah dengan laki laki tengil seperti putra nya sendiri.

__ADS_1


"Kamu ayah nya, jadi kamu yang harus membimbing nya Mas!" ucap bunda Jingga yakin dan tegas no debat.


...~To be continue... ...


__ADS_2