
...~Happy Reading~...
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu, seketika membuat kesadaran dua sejoli itu seolah kembali.
"Aarrkkjhhhh!" pekik Angkasa frustasi, ia langsung menjauhkan tubuh nya dari Bintang.
Laki laki itu langsung meninggalkan Bintang begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu, Bintang yang melihat Angkasa pergi begitu saja saat hendak membuka pakaian nya hanya bisa diam dan bengong tak percaya.
'Syukurlah malaikat datang di waktu yang tepat.' gumam Bintang dalam hati nya bernafas lega.
Hampir saja, sedikit lagi Bintang dan Angkasa mungkin akan melakukan hal di luar batas. Kalau saja tidak ada yang mengetuk pintu kamar nya.
Bintang melihat ke arah jam di nakas samping tempat tidur nya. Jam sudah menunjuk angka setengah tujuh pagi, lalu Ia memejamkan matanya sebentar, menarik napas panjang seolah berusaha menetralkan degup jantung nya.
"Kakak, udah bangun belum? Sama Mama di suruh turun, ajak juga kak Angkasa katanya!" panggil Arga dari arah luar kamar bIntang.
"I—Iya Ga. Sebentar lagi kakak turun!" jawab Bintang sedikit berteriak dengan suara gugup dan serak.
__ADS_1
"Kakak habis mimpi buruk ya?" tanya Arga sedikit mengerutkan dahi saat menyadari bahwa suara kakak nya sedikit berbeda.
"I—iya, kakak hanya kaget saja. Terimakasih ya sudah bangunin Kakak!" jawab Bintang lagi, lalu ia mendengar suara langkah kaki Arga yang kian menjauh dari kamar nya.
Bintang kembali memejamkan matanya. Tak jarang, ia juga menutup telinga nya dengan bantal saat ia harus mendengar suara laknat dari adik angkat nya yang sedang berjuang di dalam kamar mandi.
Bintang tidak ingin mengganggu kegiatan Angkasa. Ia memilih diam dan menunggu sampai Angkasa menyelesaikan ritual nya.
Dan benar saja, tidak butuh waktu lama. Laki laki itu sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah, wajah nya di tekuk dengan sesekali terdengar helaan napas kasar dari bibir laki laki tersebut.
"Mau mandi?" tanya Angkasa kembali mendekati Bintang.
"Enggak! Gue mau cuci muka doang sama gosok gigi!" jawab Bintang, berusaha meraih kursi roda nya. Namun segera di tahan oleh Angkasa.
Angkasa dengan telaten membantu Bintang untuk membasuh wajah, menyikat gigi juga berganti pakaian sekalipun.
Melarang, sama saja dengan menyuruh. Maka dari itu, Bintang hanya bisa pasrah dan menurut dengan apa yang di lakukan oleh laki laki itu.
"Lo yakin mau sekolah hari ini?" tanya Angkasa saat membantu Bintang memakai seragam nya.
__ADS_1
"Hemm, kenapa? Lo malu kalau gue sekolah kaya gini?" cetus Bintang mendengus dan langsung memalingkan wajahnya ke samping.
"Jangan fitnes! Mana ada gue malu! Gue justru seneng kalau lo udah mau sekolah lagi. Tapi, masalahnya gue bawa motor. Gimana caranya—"
"Gue berangkat sama Papa!" jawab Bintang dengan cepat memotong pembicaraan Angkasa.
"Enak aja! Gak boleh!" seru Angkasa dengan cepat menggelengkan kepala nya, "Gue udah jauh jauh kesini, dan lo mau pergi sama om Kenzo. No!"
"Kalau gue gak sama Papa. Ya kali gue mau naik. motor lo! Bukannya lo sendiri yang bilang kalau lo bawa motor!" saut Bintang lagi semakin berdecak kesal.
Untuk sesaat, Angkasa terdiam. Membenarkan ucapan Bintang, namun ia tidak lama karena ia sudah memiliki sebuah ide menarik.
Angkasa mengambil ponsel nya, lalu menghubungi seseorang.
Tuuuttt... Tuutt... Tuuttt...
'Ha—'
"Lo dimana? Kirim mobil dong, alamatnya gue kirim sekarang!" ucap Angkasa to the point lalu ia segera mematikan sambungan telfon nya dengan sepihak tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia telfon.
__ADS_1
"Sepupu lucknat!" umpat laki laki di seberang sana dengan begitu kesal dan langsung membuang ponsel nya ke jok belakang karena ia sedang mengendarai mobil.
...~To be continue......