
...~Happy Reading~...
Euummmm!
Bintang berusaha menarik diri dari Angkasa, namun justru laki laki itu semakin menekan tengkuk nya hingga membuat nya merasa menyesal sudah memberanikan diri untuk mencium laki laki tersebut.
Dan kini, ia merasa seperti terjebak akan ulah nya sendiri. Ya, bisa di katakan dengan senjata makan tuan, dirinya tidak bisa menghentikan ulah Angkasa sebelum itu menjadi kemauan laki laki itu sendiri.
“Kamu mau aku mati!” seru Bintang langsung memukul bahu Angkasa dengan cukup keras saat Angkasa melepaskan pagutan nya.
“Maafin aku Sayang. Habisnya kamu yang mancing kan,” ucap Angkasa tersenyum lebar, lalu ia mengusap bibir Bintang yang selalu membuat nya candu dan selalu menginginkan lebih.
“Aku—“ Bintang langsung menghentikan ucapan nya, ia sendiri merasa bahwa memnag benar dengan apa yang di katakan oleh Angkasa.
Memang dirinya lah yang memancing laki laki itu. Akan tetapi, niatnya hanya ingin membujuk agar Angkasa tidak marah. Dan membuktikan bahwa memang dirinya menyayangi laki laki itu. Akan tetapi, Angkasa malah salah sangka dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
“Aku apa? Bener kan? Kalau kamu mancing aku, hem?” tanya Angkasa dengan tersenyum menggoda dan langsung merengkuh pinggang Bintang dengan posesif.
Kriingggg!!!
__ADS_1
Suara bel tanda masuk berbunyi, berhasil menyelamatkan nya dari pertanyaan Angkasa yang memang sangatlah memalukan. Dirinya juga merutuki dirinya sendiri, mengapa tadi bisa terpikirkan untuk mencium Angkasa, batin nya kesal.
...🍁🍁🍁...
“Sayang! Udah siap belum?” tanya Angkasa seraya mengetuk pintu kamar Bintang.
Hari ini, Bintang berada di rumah keluarga Gaharu, akan tetapi malam ini mereka akan menghadiri acara perkumpulan untuk perayaan rumah baru saudara kembar Bintang dan istri nya.
Cklek!
“Tapi aku kenapa agak ragu ya?” gumam Bintang saat membuka pintu, wajah nya terlihat sedikit di tekuk dan sedikit ragu akan pergi.
“Ya udah ayo berangkat!” ucap Bintang langsung memotong ocehan Angkasa, karena malas berdebat lagi.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, kini Angkasa dan Bintang menuju ke kediaman Raka dan juga Ryana untuk ikut merayakan hari berakhirnya ujian sekolah dengan dalih tasyakuran rumah baru.
“Kalau kamu gak nyaman nanti, bilang aja, kita bisa cepet pergi,” ucap Angkasa lalu mengecup tangan Bintang sambil sebelah tangan nya menyetir mobil.
“Hemm ... “ jawab Bintang menghela napas berat.
__ADS_1
“Coba aja waktu itu, kamu mau langsung menikah Bi. Pasti sekarang kamu juga bisa kaya Ryana, perut nya besar begitu,” celetuk Angkasa dengan tiba tiba yang langsung mendapatkan hadiah berupa pukulan maut dari Bintang.
Dug!
“Aduhhh bercanda doang Bi, kamu mah ah!” pekik Angkasa mengaduh kesakitan.
“Kamu itu kalau lihat orang contoh yang baik nya aja. Kurang baik jangan di contoh!” saut Bintang memanyunkan bibir nya kesal.
“Berarti Raka gak baik dong?” ucap Angkasa lagi dengan sengaja memasang wajah polos hingga membuat Bintang merasa semakin geram dan sangat ingin menghajar laki laki tersebut.
Bukan maksud Bintang mengatakan bahwa Raka dan Ryana tidak baik. Hanya saja, memang pernikahan mereka terlalu dini. Walaupun pada akhirnya, nanti dirinya juga kan menikah muda dengan Angkasa saat sudah lulus sekolah. Namun, seperti nya itu tidak terlalu buruk, karena dirinya sudah melepaskan seragam putih abu abu nya.
Dan kalaupun nanti dirinya sudah menikah dengan Angkasa, di usia muda. Jangan harap Bintang akan mau langsung hamil. Bintang sudah merancang kehidupan nya untuk ke depan nanti. Dirinya akan memiliki anak saat sudah menyelesaikan kuliah, karena ia tidak mau konsentrasi nya terganggu oleh hadirnya seorang anak di tengah tengah masa belajar nya.
Dan kalaupun Angkasa maupun keluarga besar nya melarang. Maka, Bintang akan melakukan secara diam diam. Yang jelas, Bintang akan melakukan segala cara agar dirinya tidak segera hamil.
Dirinya sudah mau menerima paksaan untuk menikah dini, akan tetapi ia tidak mau di paksa untuk segera memiliki momongan.
...~To be continue ......
__ADS_1