
...~Happy Reading~...
Eughhhh!
Suara lenguh han dari seorang gadis yang berada di atas brankar, membuat beberapa orang yang berada di ruangan itu seketika langsung beranjak dan menghampiri nya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya bunda Jingga dan mama Naura bersamaan.
Kedua wanita itu kompak menggenggam tangan putri mereka. Hingga tanpa sadar membuat gadis itu sampai meneteskan air mata melihat ketulusan dia wanita hebat nya.
"Bu—nda..." Bintang memejamkan matanya lalu membuka nya lagi dengan perlahan, "Ma—ma.. "
"Iya Sayang, Bunda dan Mama ada disini." ujar mama Naura tak henti mengecup jemari tangan putri nya, "Pa, panggil Kiano!"
Kenzo yang berdiri di belakang istrinya, langsung memanggil adik nya agar bisa mengecek kondisi putri nya. Dan tak berapa lama, Kiano beserta asisten nya datang untuk mengecek keadaan Bintang.
"Alhamdulillah, semuanya baik." ucap Kiano tersenyum lega, "Kara, apa yang kamu rasakan hem?" tanya nya begitu lembut kepada sang keponakan.
Gadis itu tak mampu mengeluarkan suara, ia hanya bisa menggelengkan kepala nya dengan lemah.
__ADS_1
"Masih pusing?" tanya Kiano dan langsung di balas dengan pejaman mata sekilas oleh Bintang.
"Sedikit," jawab nya sangat pelan.
"Bagaimana?" tanya Kenzo kepada adik nya.
"Masih sedikit pusing, wajar kok. Nanti seiring berjalan nya waktu, akan semakin membaik dan normal lagi. Dan seperti yang aku bilang kemarin, untuk sementara, Kara tidak boleh berjalan lebih dulu!" ujar Kiano pelan dan sesekali melirik ke arah Bintang yang sudah meneteskan air mata.
"B—Bintang cacat?" gumam gadis itu begitu lirih dan nyaris tak terdengar.
"Sayang, jangan menangis," bunda Jingga mengusap air mata putri nya, "Semua baik baik saja. Ini hanya sementara," imbuh nya.
"Iya Sayang, semua akan baik baik saja. Om Kiano juga bilang bahwa ini hanya sementara. Jangan khawatir, oke!" imbuh mama Naura ikut menenangkan putri nya.
Suara pintu yang baru saja di buka, membuat semua mata menatap ke arah pintu. Terlihat Angkasa dan juga Raka yang baru saja tiba, ikut mendekat ke arah brankar Bintang.
"Kamu sudah bangun," sapa Raka tersenyum dan ikut mendekat ke arah adik nya.
"Kak," panggil Angkasa yang langsung memeluk Bintang dengan begitu erat, bahkan laki laki itu sampai menggeser bunda nya mundur agar dirinya bisa memeluk Bintang.
__ADS_1
"Astaga Asa!" tegur bunda Jingga sedikit kaget dengan tingkah putra sulung nya, "Kakak kamu baru sadar! Jangan terlalu begitu ih!"
Bunda Jingga berusaha untuk melepaskan pelukan Angkasa dari Bintang. Wanita itu langsung menarik tubuh putra nya dan menjauhkan nya.
"Bunda!" rengek Angkasa memasang wajah kesal saat menatap bunda nya.
"Kakak kamu baru sadar!" ucap bunda Jingga penuh penekanan.
"Asa itu kangen sama Kakak!" rengek nya persis seperti anak kecil.
"Sumpah, gak pantes banget wajah kamu kaya gitu!" celetuk Raka sampai menggelengkan kepala nya melihat adik kelas nya tersebut.
"Iri, bilang bos!" balas Angkasa tak perduli, lalu ia kembali menggenggam tangan Bintang.
"Kakak pasti juga kangen kan sama Asa?" tanya Angkasa dengan memasang wajah imut nya menatap Bintang, "Di antara semua orang disini, pasti hanya Asa yang kakak rindukan. Karena sama, Asa juga sangat merindukan kakak. Dan, jika di hitung rindu yang mereka miliki tidak ada yang bisa mengalahkan seberapa besar rindu Asa buat kakak!" imbuh Angkasa panjang lebar hingga membuat Bintang dan yang lain nya langsung menghela napas nya panjang.
"Basi banget kata kata lo! Modus tau gak!" sungut Raka langsung memukul bahu Angkasa pelan.
"Apaan sih! Ganggu aja deh! Udah sono pulang aja mending! Ngapain sih ganggu aja disini!" balas Angkasa berdecak.
__ADS_1
"Asaaa!" tegur bunda Jingga dan Bintang bersamaan, menatap tajam pada sosok bocah tengil bin menyebalkan tersebut.
...~To be continue... ...